Minggu, 07 Desember 2025

Ngaji Al-Hikam Bersama Gus Ulil (3): Cara Menembus Tembok Kokoh Takdir Tuhan

 

Ngaji Al-Hikam bersama Gus Ulil di Jatibening


Berikut ini adalah rangkuman dari Ngaji Kitab Al-Hikam ke-3 bersama Pengasuh Ghazalia College Gus Ulil Abshar Abdalla di Jatibening, Bekasi, Jawa Barat, pada 7 Desember 2025.


*****


Sawābiqul himami lā takhriqu aswāral aqdar

Ini hikmah yang sederhana. Tapi iman atau kualitas iman yang sampai pada hikmah seperti ini membutuhkan perjuangan hidup yang sangat panjang. Ini adalah kesimpulan dari pengalaman batin, pengalaman rohani yang luar biasa, sampai kemudian Ibn ‘Aṭhā’illāh mendapatkan ilham untuk menulis hikmah ketiga ini.

Sawābiqul himam: cita-cita yang berlari dengan sangat kencang.

Ini menggunakan ṣifat ‘ilal mausūl, jadi asalnya adalah al-himam as-sawābiq: cita-cita yang begitu kuat, saking kuatnya seperti seorang pelari sprint, bukan pelari maraton. Kencang sekali.

Himam atau cita-cita, tujuan, tekad yang begitu kuat—saking kuatnya sampai mirip seorang pelari kencang—lā takhriqu aswāral aqdar: tidak bisa menembus tembok takdir Allah yang begitu kokoh. Tembok itu begitu kuat sampai mustahil ditembus oleh tekad manusia.

Secara redaksi, maknanya sederhana: takdir Tuhan itu seperti tembok kokoh, tidak mungkin ditembus. Tetapi kalau kita baca syarah-nya Ibn ‘Ajībah, ini menjadi menarik sekali.

Menurut Ibn ‘Ajībah, memang takdir Allah itu seperti tembok yang tidak mungkin ditembus. Kalau Allah sudah mentakdirkan A, kehendak manusia tidak bisa mengubahnya. Tetapi orang-orang yang ‘ārif billāh, orang-orang yang mengenal Allah, orang-orang yang memiliki ma‘rifat—ketika mereka menghendaki sesuatu, kehendak itu beriringan atau selaras dengan kehendak Allah.

Maka orang yang sudah mencapai ma‘rifat, ketika dia menghendaki A, ya A itu terjadi. Tetapi terjadinya bukan karena kehendaknya sendiri, tetapi karena kehendaknya selaras dengan kehendak Allah.

Analogi sederhananya begini: kita sudah sangat mengenal gerak-gerik, perangai, dan kebiasaan seorang sahabat. Kalau kita diajak ke warung oleh orang itu, kita sudah tahu pasti dia akan pesan rawon. Bahkan kalau ke restoran Jepang pun, ya tetap saja rawon. Karena kebiasaannya begitu. Jadi saya bisa “menerka” apa yang akan terjadi, bukan karena saya menentukan, tetapi karena saya tahu kebiasaannya.

Orang ‘ārif billāh itu seperti itu: mengenal kebiasaan Allah, mengenal gerak-geriknya, mengenal kehendaknya. Bukan berarti dia mengetahui rahasia takdir Allah, tetapi kualitas ma‘rifat membuat kehendaknya selaras dengan kehendak Allah. Maka ketika dia berkehendak, kehendaknya itu sejalan dengan apa yang Allah kehendaki.

Maka para wali itu ketika mengatakan sesuatu seperti “kun”, seolah-olah terjadi. Ini bukan berarti mereka menentukan takdir. Tapi karena pada momen itu, kehendaknya selaras dengan kehendak Allah.

Ada sebuah hadits qudsi yang dikutip Ibn ‘Ajībah: "Wahai hamba-Ku, Aku adalah Allah yang jika berkata kepada sesuatu “kun”, maka terjadilah. Taatlah kepada-Ku, maka Aku jadikan engkau—ketika engkau mengatakan “kun”—maka terjadi pula."

Namun ini hanya terjadi pada orang-orang tertentu, dan terjadinya itu bukan karena kekuatan dirinya mengubah takdir, tetapi karena pada momen itu Allah memang menghendaki hal tersebut terjadi.

Kadang-kadang juga seorang mukmin biasa, meskipun bukan wali, pada momen tertentu—misalnya ketika ia dizalimi—doanya diijabah. “Du‘ā’ul maẓlūm mustajāb.” Artinya Allah menjadikan kehendaknya selaras dengan kehendak orang yang teraniaya. Maka sesuatu terjadi.

Jadi memang takdir Allah tidak bisa ditembus. Tetapi ada momen ketika kehendak Allah itu selaras dengan kehendak manusia tertentu.

Para ahli ilmu kalam membagi takdir: ada qaḍāmu‘allaq yang masih bisa berubah dengan sedekah, doa, dan amal baik; dan qaḍā’ mubram yang tidak mungkin berubah. Tapi pembagian seperti itu hanyalah pendekatan rasional, tidak selalu memuaskan dalam ilmu tasawuf.

Para sufi mengatakan: pokoknya takdir Allah itu pada akhirnya tidak bisa diubah. Kalau tampak seperti berubah, itu karena Allah menghendaki perubahan itu.

Qada pada akhirnya tidak bisa diubah. Ini semua sesuatu yang hanya bisa dipahami melalui pengalaman hidup. Ilmu tasawuf itu ilmu kehidupan.

Kalau seseorang sudah punya pengalaman hidup yang cukup panjang, belajar tasawuf menjadi enak, karena dia punya referensi batin. Kalau terlalu muda, membaca tasawuf bisa membingungkan, karena tasawuf itu banyak bertumpu pada intuisi batin.

Takdir itu bisa dikenali, bukan oleh teori, tetapi oleh pengalaman hidup. Orang itu intuisi. Tapi ini intuisi yang jujur dari batin, bukan intuisi karena nafsu.

Ini semua masih bagian dari pembahasan amal (dalam Kitab Al-Hikam). Hikmah pertama membahas bahwa amal tidak boleh dijadikan sandaran. Hikmah kedua tentang bertindak sesuai maqam. Hikmah ketiga tentang tindakan manusia tidak bisa serta merta menghasilkan sesuatu, karena tetap ada gramatika amal.

Kalau seseorang memahami tiga kaidah amal ini, hidupnya menjadi “well”—enak, marem, hasanah. Bukan berarti tidak ada masalah, tetapi batinnya tenang.

Sekarang di (dunia) Barat, banyak orang berpikir hidup itu hanya tentang mengubah segala hal menjadi sesuatu yang menguntungkan—profit, value added. Ini benar, tetapi kalau diekstremkan, menjadi cara pandang yang timpang. Mereka melihat hidup dengan “mata satu”. Tidak seimbang. Maka hidup jadi tidak enak.

Kita harus melihat hidup dengan dua mata: seimbang. Di situlah wellness.

Kita tidak mungkin menembus tembok takdir. Tapi bukan berarti manusia tidak menentukan nasib. Kata Karl Marx: “Manusia pencipta nasibnya sendiri.” Ini benar, tapi hanya separuh: benar dalam kerangka ikhtiar. Tetapi apakah ikhtiar menghasilkan? Tidak selalu, karena ada batas-batas takdir.

Tasawuf itu keseimbangan dua daun pintu. Kalau satu daun saja ditutup, tidak sempurna.

Ibn ‘Ajībah dalam pendahuluan Kitab Syarah Al-Hikam ini mengatakan, Qur’an itu punya ayat-ayat syariat dan ayat-ayat hakikat. Yang tampak bertentangan sebenarnya bukan bertentangan. Yang satu bicara syariat, yang satu bicara hakikat.

Contoh: "Udkhulul-jannata bimā kuntum ta‘malūn.” Artinya: Masuklah surga karena amal kalian.

Tapi ada hadits: "Lā yadkhulul-jannata aḥadun bi ‘amalih.” Artinya: Tidak ada yang masuk surga karena amalnya.

Secara rasional, ini bertentangan. Tapi dalam ilmu hakikat tidak. Ayat pertama adalah syariat: kamu harus beramal. Hadits kedua adalah hakikat: yang memasukkanmu ke surga adalah rahmat Allah.

Demikian juga ayat: "Lâ tudrikuhul-abshâru wa huwa yudrikul-abshâr, wa huwal-lathîful-khabîr." Artinya: Allah tidak bisa dilihat oleh mata manusia.

Tetapi ayat lain: "Wujūhun yauma idhin nāḍirah ilā rabbihā nāẓirah." Artinya: Wajah-wajah (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri karena memandang Tuhannya.

Secara rasional tampak bertentangan. Tetapi pendekatannya berbeda: yang satu syariat, yang satu hakikat. Dua kamar, tidak kontradiksi.

Inilah gramatika kehidupan yang diajarkan dalam hikmah ketiga.


Latest
Next Post

0 komentar: