Minggu, 07 Juni 2026

Ngaji Al-Hikam Bersama Gus Ulil (8): Saat Allah Menyapa Hamba-Nya

 

Ngaji Al-Hikam hikmah ke-8, pada 7 Juni 2026


Berikut ini adalah rangkuman dari Ngaji Kitab Al-Hikam pertemuan Ke-8 bersama Pengasuh Ghazalia College Gus Ulil Abshar Abdalla di Jatibening, Bekasi, Jawa Barat, pada 7 Juni 2026.

*****

إِذَا فَتَحَ لَـكَ وِجْهَةً مِنَ التَّعَرُّفِ فَلاَ تُبــَالِ مَعَهَا أِنْ قَلَّ عَمَلُكَ فَإِنَّـهُ مَا فَـتَـحَهَا لَكَ إِلاَّ وَهُوَ يُرِ يْدُ أَنْ يَـتَـعَرَّفَ إِلَيكَ. أَلَمْ تَـعْلَمْ أَنَّ الـتَّــعَرُّفَ هُوَ مُوْرِدُهُ عَلَيْكَ، وَاْلأَعْمَالُ أَنْتَ مُــهْدِ يْــهَا إِلَـيْهِ، وَأَيــْنَ مَا تُــهْدِ يْهِ إِلَـيْهِ مِمَّا هُـوَ مُوْرِدُهُ عَلَـيْكَ

"Apabila Dia (Allah) membukakan bagimu (suatu) Wajah Pengenalan, maka jangan engkau berpikir (hadirnya) pengenalan itu sebab sedikitnya amal-amalmu (yang telah kau lakukan); karena sesungguhnya, Dia tidak membukakan pengenalan itu bagimu kecuali (bahwa) Dia semata-mata menginginkan untuk memperkenalkan (Diri-Nya) kepadamu. Tidakkah engkau mengetahui bahwa sesungguhnya (suatu) pengenalan itu (semata-mata) Dia yang menginginkannya atasmu, sedangkan amal-amal itu (semata-mata) suatu hadiah dari engkau kepada-Nya; maka tidaklah sebanding antara apa-apa yang engkau hadiahkan kepada-Nya dengan apa-apa yang Dia inginkan untukmu."

Pada hikmah ke-8 dalam Kitab Al-Hikam ini, kita memasuki pembahasan yang sangat mendalam tentang hubungan antara Allah dan hamba-Nya. Jika pada hikmah-hikmah sebelumnya Imam Ibnu 'Athaillah banyak berbicara tentang amal, doa, dan ikhtiar, kali ini beliau membawa kita kepada tema yang lebih subtil, yaitu ta'arruf.

Perlu dipahami bahwa Al-Hikam bukanlah kitab yang lahir dari perenungan intelektual semata. Kitab ini merupakan himpunan pengalaman spiritual seorang wali Allah, Imam Ibnu 'Athaillah as-Sakandari. Kalimat-kalimat yang tersusun di dalamnya lahir dari الأحوال (al-ahwāl), yakni keadaan-keadaan ruhani yang beliau alami dalam perjalanan menuju Allah. Karena itulah setiap hikmah memiliki kedalaman makna yang terus dapat direnungkan sepanjang zaman.


Apa Itu Ta'arruf?

Secara bahasa, ta'arruf berarti mengenal atau mengenali, sedangkan ta'āruf berarti saling berkenalan. Perbedaan keduanya tampak sederhana, tetapi memiliki makna yang penting.

Selama ini kita lebih sering berbicara tentang cara seorang hamba mengenal Allah. Sementara Imam Ibnu 'Athaillah mengajak kita melihat dari sudut pandang yang berbeda yakni Allah pun berkehendak mengenali dan memperkenalkan diri-Nya kepada manusia. Dengan kata lain, hubungan antara Allah dan hamba bukanlah hubungan satu arah, melainkan sebuah hubungan yang melibatkan dua pihak.

Dalam kehidupan sehari-hari, perkenalan selalu membutuhkan dua pihak. Seseorang dapat berinisiatif mendekati orang lain, atau justru orang lain yang lebih dahulu menyapa. Begitu pula dalam perjalanan spiritual. Ada kalanya manusia berusaha mendekat kepada Allah melalui ibadah dan amal saleh. Namun ada pula saat ketika Allah sendiri yang "menyapa" hamba-Nya.

Kalau dianalogikan dengan media sosial, seseorang terkadang mengirim poke atau sekadar menyenggol agar diperhatikan. Demikian pula dalam kehidupan rohani. Ada saat-saat ketika Allah "menyenggol" seorang hamba agar ia menyadari kehadiran-Nya. Itulah yang disebut ta'arruf.

Menariknya, dalam matan Al-Hikam ini, Imam Ibnu 'Athaillah tidak menyebut nama "Allah" secara eksplisit. Beliau langsung menggunakan dhamir atau kata ganti "Dia". Cara penulisan ini bukan tanpa alasan. Seolah-olah beliau ingin mengatakan bahwa dalam seluruh perjalanan hidup seorang mukmin, arah pandang yang dimaksud sudah jelas: semuanya bermuara kepada Allah.


Amal Bukan Segalanya


Imam Ibnu 'Athaillah kemudian menegaskan:

فلا تُبالِ معها إن قلَّ عملك

"Maka janganlah engkau memperdulikan, bersamaan dengan itu, walaupun amalmu sedikit."

Kalimat ini tidak berarti amal menjadi tidak penting. Namun ingin ditekankan adalah bahwa seorang hamba tidak perlu terjebak menghitung-hitung banyak atau sedikitnya amal ketika Allah telah membukakan pintu pengenalan kepada-Nya.

Sering kali kita mengukur kedekatan dengan Allah berdasarkan banyaknya ibadah. Ada yang merasa dirinya lebih dekat karena rajin salat malam, banyak berzikir, atau rutin berpuasa sunnah. Semua itu tentu merupakan amal yang mulia. Akan tetapi, Imam Ibnu 'Athaillah mengingatkan bahwa ada sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar banyaknya amal, yaitu perhatian Allah kepada seorang hamba.

Seseorang boleh saja menghidupkan malamnya dengan berbagai ibadah, tetapi apabila Allah belum memberikan perhatian khusus kepadanya, maka kedudukannya berbeda dengan orang yang telah memperoleh sentuhan kasih sayang Allah. Sebaliknya, seorang hamba yang amalnya sederhana, tetapi telah dipilih Allah untuk mengenal-Nya, memperoleh karunia yang tidak dapat diukur dengan hitungan amal semata.

Bagaimana Allah memilih seseorang untuk mendapatkan perhatian-Nya? Tidak ada seorang pun yang mampu menjawabnya. Itu sepenuhnya merupakan hak Allah. Tidak ada rumus, tidak ada ukuran, dan tidak ada kepastian yang bisa dijadikan patokan oleh manusia.

Bayangkan seorang santri yang telah bertahun-tahun belajar di pesantren, tetapi belum pernah dipanggil oleh kiai. Namun di sisi lain, ada santri yang baru beberapa hari mondok, sudah dipanggil untuk berbincang secara khusus. Tentu keduanya sama-sama belajar, tetapi santri yang dipanggil akan merasakan bahwa dirinya memperoleh perhatian yang berbeda.

Begitulah kira-kira gambaran perhatian Allah kepada hamba-Nya. Ketika Allah telah "menyapa" seseorang, itulah nikmat yang sangat besar. Persoalannya bukan lagi apakah ia kaya atau miskin, banyak amal atau sedikit amal, melainkan bahwa Allah telah berkehendak mendekatkannya kepada-Nya.



Santri perempuan Ghazalia College Jatibening


Allah yang Memulai Perkenalan

Imam Ibnu 'Athaillah kemudian menjelaskan alasan mengapa seorang hamba tidak perlu terlalu sibuk menghitung banyak atau sedikitnya amal. Beliau berkata:

فَإِنَّـهُ مَا فَـتَـحَهَا لَكَ إِلاَّ وَهُوَ يُرِ يْدُ أَنْ يَـتَـعَرَّفَ إِلَيكَ

"Sesungguhnya Allah tidak membuka jalan itu kepadamu kecuali karena Dia ingin memperkenalkan diri-Nya kepadamu."

Kalimat ini merupakan inti dari pembahasan tentang ta'arruf. Imam Ibnu 'Athaillah mengajak kita melihat hubungan dengan Allah dari sudut pandang yang berbeda.

Selama ini kita sering merasa bahwa kita sedang berusaha mencari Allah. Kita memperbanyak ibadah, memperbaiki akhlak, dan mendekatkan diri kepada-Nya. Semua itu memang penting. Namun, ada sesuatu yang lebih mendasar, yaitu ketika Allah sendiri berkehendak memperkenalkan diri-Nya kepada seorang hamba.

Artinya, kedekatan dengan Allah bukan semata-mata hasil usaha manusia. Ada karunia yang mendahului semua ikhtiar itu. Ketika Allah membuka pintu pengenalan, sesungguhnya Allah sedang mengundang hamba tersebut untuk semakin dekat kepada-Nya. Lalu Imam Ibnu Athaillah melanjutkan:

أَلَمْ تَـعْلَمْ أَنَّ الـتَّــعَرُّفَ هُوَ مُوْرِدُهُ عَلَيْكَ

"Tidakkah engkau tahu bahwa pengenalan dari-Nya itulah yang Dia datangkan kepadamu?"

Jadi, bukan manusia yang berhasil menemukan Allah dengan kemampuannya sendiri, melainkan Allah yang lebih dahulu berkehendak memperkenalkan diri-Nya kepada manusia.

Seorang hamba boleh saja memiliki keinginan untuk mengenal Allah. Namun keinginan itu belum tentu berbuah kedekatan. Sebaliknya, ketika Allah sendiri berkehendak mendekati seorang hamba, maka itulah anugerah yang jauh melampaui nilai amal apa pun.

Inilah sebabnya Imam Ibnu 'Athaillah mengatakan bahwa amal hanyalah persembahan seorang hamba kepada Tuhannya, sedangkan ta'arruf adalah pemberian Allah kepada hamba-Nya. Tentu keduanya tidak dapat dibandingkan. Hadiah dari manusia kepada Allah tidak akan pernah sebanding dengan karunia Allah kepada manusia.


Bentuk-Bentuk Ta'arruf Allah


Lalu muncul pertanyaan, bagaimana Allah memperkenalkan diri-Nya kepada seorang hamba?

Para ulama tasawuf menjelaskan bahwa ta'arruf Allah tidak selalu hadir dalam bentuk yang menyenangkan. Bahkan sering kali Allah memperkenalkan diri-Nya melalui berbagai peristiwa yang tidak pernah kita harapkan.

Salah satunya adalah melalui cobaan hidup. Penyakit, kesulitan ekonomi, kehilangan orang yang dicintai, atau berbagai ujian lainnya bisa menjadi cara Allah menyapa seorang hamba. Karena itu, para sufi memandang cobaan dengan cara yang berbeda. Mereka tidak tergesa-gesa melihat musibah sebagai hukuman, melainkan sebagai tanda bahwa Allah sedang mengarahkan perhatian-Nya kepada mereka.

Cara pandang seperti ini memang tidak mudah. Ketika hidup sedang sulit, yang muncul pertama kali biasanya adalah keluhan. Namun para wali Allah justru berusaha melihat makna di balik setiap ujian. Mereka meyakini bahwa setiap cobaan bisa menjadi jalan untuk semakin mengenal Allah.

Sebaliknya, kehidupan yang selalu berjalan mulus juga perlu disikapi dengan kewaspadaan. Bukan berarti nikmat adalah sesuatu yang buruk, tetapi jangan sampai seseorang terlena sehingga merasa tidak lagi membutuhkan Allah.

Perumpamaan tentang santri yang dipanggil oleh kiai kembali relevan. Ada santri yang bertahun-tahun mondok tetapi tidak pernah diajak berbicara secara khusus. Ada pula yang baru beberapa hari sudah dipanggil. Perhatian itu memberikan makna yang berbeda.

Begitu pula dalam kehidupan spiritual. Ada kalanya Allah menyapa seorang hamba melalui jalan yang tidak pernah diduganya.

Karena itu, para wali Allah bahkan menyebut musibah sebagai "hari raya" mereka. Bukan karena mereka menikmati penderitaan, melainkan karena mereka melihat musibah sebagai kesempatan untuk semakin dekat dengan Allah.

Pandangan ini tentu membutuhkan hati yang matang. Tidak semua orang mampu melihat cobaan sebagai bentuk kasih sayang Allah. Namun setidaknya, hikmah ini mengajarkan agar kita tidak terburu-buru berprasangka buruk ketika ujian datang. Bisa jadi, justru pada saat itulah Allah sedang memperkenalkan diri-Nya kepada kita.


Penjelasan Ibnu 'Ajibah

Ibnu 'Ajibah menjelaskan tentang bentuk-bentuk ta'arruf ini.

واعلم أن هذه التعرُّفات الجلالية هي اختبار من الحق وميزان من الناس، تُعرف بها الفضة والذهب من النحاس

"Ketahuilah bahwa ta'arruf jalali ini merupakan ujian dari Allah dan alat ukur bagi manusia, yang dengannya dapat dibedakan antara perak dan emas dari tembaga."

Menurut Ibnu 'Ajibah, salah satu fungsi ujian adalah menampakkan kualitas seseorang. Sebagaimana emas dibedakan dari logam biasa melalui proses tertentu, demikian pula kualitas iman manusia baru benar-benar terlihat ketika ia berhadapan dengan ujian.

Banyak orang mengaku beriman ketika hidupnya tenang. Namun sedikit saja mendapat kesulitan, keyakinannya mulai goyah. Di situlah ujian menjadi cermin yang memperlihatkan kualitas keimanan seseorang.


Santri laki-laki Ghazalia College Jatibening


Tiga Bentuk Ta'arruf Allah

Ibnu 'Ajibah kemudian menjelaskan bahwa para ulama membagi ta'arruf Allah kepada hamba-Nya ke dalam beberapa bentuk. Semuanya merupakan cara Allah memperkenalkan diri kepada manusia, meskipun wujudnya berbeda-beda.

Bentuk pertama adalah melalui siksaan atau penolakan. Pada keadaan ini, seseorang seakan-akan dijauhkan dari berbagai kenikmatan. Jalan hidupnya terasa sempit, doanya seperti belum menemukan jawaban, dan berbagai kesulitan datang silih berganti. Inilah bentuk ta'arruf yang paling berat karena menuntut kesabaran dan keteguhan hati yang luar biasa.

Bentuk kedua adalah melalui ta'dib atau pendidikan. Allah mendidik hamba-Nya melalui berbagai pengalaman hidup. Seseorang mungkin melakukan kesalahan, lalu Allah membukakan aibnya agar ia segera bertaubat. Ada pula yang memperoleh pelajaran melalui kegagalan, kehilangan, atau pengalaman pahit yang mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan. Semua itu bukan semata-mata hukuman, melainkan proses pendidikan agar seorang hamba kembali kepada jalan yang benar.

Bentuk ketiga adalah melalui nikmat. Rezeki yang lapang, kesehatan, keluarga yang harmonis, kemudahan dalam pekerjaan, bahkan kenaikan jabatan, semuanya juga dapat menjadi bentuk *ta'arruf* Allah. Nikmat bukan hanya pemberian, tetapi juga ujian. Melalui nikmat, Allah ingin melihat apakah seorang hamba semakin bersyukur atau justru semakin jauh dari-Nya.

Karena itu, baik musibah maupun nikmat sama-sama dapat menjadi jalan Allah memperkenalkan diri-Nya kepada manusia. Persoalannya bukan terletak pada bentuk peristiwanya, melainkan pada kesadaran hati dalam membacanya.

Tidak sedikit orang yang memperoleh nikmat tetapi tidak merasa sedang disapa oleh Allah. Sebaliknya, ada orang yang justru menemukan kedekatan dengan Allah ketika hidupnya dipenuhi ujian.

Padahal, setiap saat Allah memperkenalkan diri-Nya kepada manusia melalui berbagai peristiwa yang mereka alami.


Hakikatnya Hanya Satu

Penjelasan yang tidak kalah menarik datang dari Syaikh Abu al-'Arabi. Beliau mengatakan:

ما هي إلا حقيقة واحدة

"Tidaklah ada kecuali satu hakikat saja."

Ungkapan singkat ini mengandung makna yang sangat dalam. Menurut beliau, berbagai pengalaman hidup yang dialami manusia pada akhirnya bersumber dari satu hakikat yang sama, yaitu Allah.

Untuk menjelaskan maksudnya, beliau memberikan sebuah perumpamaan.

إن شربتها عسلاً وجدتها عسلاً

Jika engkau meminumnya dalam bentuk madu, rasanya tentu manis.

وإن شربتها لبناً

Jika engkau meminumnya dalam bentuk susu, rasanya lembut dan menenangkan.

وإن شربتها حنظلاً

Jika engkau meminumnya dalam bentuk ḥanẓal, rasanya pahit.

Perumpamaan ini menunjukkan bahwa pengalaman hidup memang memiliki rasa yang berbeda-beda. Ada yang menghadirkan kebahagiaan, ada yang menenangkan hati, dan ada pula yang terasa pahit. Namun semua itu berasal dari sumber yang sama.

Ketika seseorang memperoleh rezeki yang luas, ia merasakan manisnya kehidupan. Ketika memperoleh keluarga yang harmonis atau sahabat yang baik, hidup terasa lembut dan menenangkan. Sebaliknya, ketika diuji dengan kehilangan, sakit, atau kegagalan, hidup terasa pahit.

Walaupun demikian, semuanya tetap datang dari Allah. Karena itu, Syekh Abu al-'Arabi kembali menegaskan:

ما هي إلا حقيقة واحدة

Hakikatnya hanya satu. Semua pengalaman hidup merupakan bagian dari cara Allah memperkenalkan diri-Nya kepada hamba-hamba-Nya.


Tasawuf dan Stoisisme

Pandangan ini memiliki kemiripan dengan filsafat Stoa (Stoicism) yang berkembang di Yunani kuno. Di Indonesia, pemikiran tersebut dikenal luas melalui buku Filosofi Teras karya Henry Manampiring.

Dalam Stoisisme, orang bijaksana diibaratkan seperti batu besar yang berdiri tegak di tengah padang pasir. Panas matahari, hujan deras, bahkan banjir sekalipun tidak mengubah keteguhannya. Batu itu tetap berada pada tempatnya.

Begitu pula manusia yang memiliki kebijaksanaan. Ia tidak mudah dikuasai oleh keadaan di sekelilingnya. Ketika memperoleh nikmat, ia tidak larut dalam kegembiraan yang berlebihan. Sebaliknya, ketika ditimpa musibah, ia tidak tenggelam dalam keputusasaan.

Dalam batas tertentu, cara pandang ini memiliki kemiripan dengan tasawuf. Seorang sufi berusaha memandang setiap keadaan sebagai bagian dari kehendak Allah. Ia tidak membiarkan dirinya dikendalikan oleh perubahan keadaan, melainkan menjadikan setiap pengalaman sebagai jalan untuk semakin mengenal Tuhannya.

Namun demikian, tasawuf tidak mengajarkan sikap pasif terhadap realitas sosial. Ketika melihat ketidakadilan, kemiskinan, atau penindasan, seorang mukmin tetap memiliki tanggung jawab untuk berikhtiar memperbaikinya. Ketenangan batin bukan berarti menutup mata terhadap persoalan masyarakat.

Karena itu, keteguhan hati dan kepedulian sosial bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Keduanya justru dapat berjalan beriringan.