Jumat, 01 Mei 2026

9 Tahun Belajar dan Berkhidmah di NU Online, Kini Saatnya Saya Pamit Undur Diri

 



“Barangsiapa yang telah mencicip manisnya pertemuan maka harus siap mencecap pahitnya perpisahan.”

Saya tidak pernah benar-benar siap untuk bagian kedua dari kalimat itu.

Sembilan tahun bukan waktu yang singkat atau sekadar hitungan kalender, tetapi kumpulan kenangan, proses jatuh-bangun, pertemuan dengan orang-orang hebat, dan perjalanan panjang menemukan jati diri. NU Online bagi saya adalah ruang hidup yang ikut membentuk siapa saya hari ini, bukan hanya tempat berkhidmah dan berkarya.

Semua ini bermula pada Januari 2017. Saat itu, saya masih seorang mahasiswa semester lima di jurusan Ilmu Komunikasi, dengan konsentrasi jurnalistik, di Universitas Islam "45" Bekasi (sekarang Univeristas Muhammadiyah Indonesia). Saya sedang berada di fase penuh tanya: ingin menjadi apa, dan bagaimana cara mencapainya?

Jawaban pertama saya temukan ketika mengikuti Kelas Menulis di NU Online.

Di sana, saya bertemu dengan Abdullah Alawi—mentor, senior, sekaligus guru yang membuka jalan pertama saya di dunia jurnalistik. Gaya mengajarnya sederhana, mengalir, dan mudah dipahami. Ia mengajarkan teknik menulis, sekaligus menanamkan keberanian untuk memulai.

Artikel pertama saya berjudul Inilah Perbedaan Makna Islam dan Muslim menjadi tonggak penting. Tulisan itu diedit dan diterbitkan langsung oleh Abdullah Alawi pada 16 Januari 2017. Saat melihat nama saya tertera sebagai penulis, ada rasa haru yang sulit dijelaskan. Untuk pertama kalinya, saya merasa: "mungkin saya memang bisa berjalan di jalan ini".

Dari sana, perjalanan saya dimulai. Saya menjadi kontributor daerah untuk Bekasi, meliput berbagai kegiatan PCNU Kota Bekasi. Di fase ini, saya belajar arti konsistensi. Menulis dan liputan di sela-sela kuliah sekaligus belajar memahami bahwa setiap berita adalah tanggung jawab. Tidak selalu mudah. Tapi justru di situlah saya ditempa.

Tahun 2020 menjadi babak baru. Saya dihubungi oleh Redaktur Pelaksana NU Online Mahbib Khoiron (sekarang Redaktur Eksekutif) untuk bergabung sebagai Reporter In-house. Dari sinilah dunia saya melebar. Saya tidak lagi hanya menulis berita lokal, tetapi mulai masuk ke isu-isu nasional, bertemu tokoh-tokoh penting, dan memahami kompleksitas realitas yang lebih luas.

Saya belajar bahwa menjadi wartawan bukan hanya soal melaporkan peristiwa, tetapi juga membaca situasi, menggali makna, dan menyampaikan kebenaran dengan cara yang bertanggung jawab.

Lalu datang tahun 2023—fase yang mengubah cara pandang saya terhadap dunia media.

Pemimpin Redaksi, Ivan Aulia Ahsan, memberi saya kepercayaan menjadi Redaktur desk Polhukam, per 1 Oktober 2023. Sebuah amanah yang tidak ringan. Saya harus mengelola isu, menentukan arah pemberitaan, menugaskan reporter, hingga mengedit naskah dengan ketelitian tinggi.

Di sini, saya belajar bahwa di balik sebuah berita yang terbit, ada proses panjang yang tidak terlihat. Ada pertimbangan ideologi, akurasi data, kekuatan logika bahasa, dan ketajaman sudut pandang.

Saya tidak berjalan sendiri. Saya ditemani oleh tim reporter luar biasa: Haekal Attar, Fathur Rohman, Suci Amaliyah, Mufidah Adzkia, dan Rikhul Jannah. Mereka bukan hanya rekan kerja, tetapi juga teman seperjuangan. Kami berbagi tekanan, tawa, lelah, dan semangat yang sama setiap harinya.

Jika hari ini saya berdiri di titik ini, salah satu alasannya adalah mereka.

Lalu saya mencapai salah satu momen yang paling membanggakan dalam hidup saya: mengikuti Uji Kompetensi Wartawan (UKW), pada 24-27 April 2024.

Bagi saya, UKW bukan sekadar ujian, tetapi refleksi dari seluruh proses yang telah saya jalani sejak 2017. Ketika dinyatakan lulus dan menyandang predikat “berkompeten”, saya merasa seperti menutup satu bab penting dengan penuh rasa syukur.

Bukan karena akhirnya saya “diakui”, tetapi karena saya tahu betul betapa panjang jalan yang telah saya tempuh untuk sampai ke titik itu.

Mengikuti UKW membuat saya semakin yakin bahwa saya berada di jalur yang tepat dan mampu melangkah lebih jauh.

Dan kini, 2026.

Saya berdiri di persimpangan yang tidak mudah: antara bertahan di zona nyaman atau melangkah ke ruang baru yang belum pasti. Setelah berpikir panjang, saya memilih yang kedua.

Saya sudah menyatakan undur diri secara lisan dan tatap muka kepada Pemred NU Online Ivan Aulia Ahsan serta Direktur Utama NU Online H Hamzah Sahal. Sebagai karyawan dari sebuah perusahaan media, saya juga sudah menyatakan undur diri melalui Surat Pengunduran Diri yang saya layangkan ke PT Visi Berkah Bangsa, perusahaan yang menaungi NU Online.

Saya mengakhirkan khidmah saya di NU Online pada 30 April 2026. Lalu per 1 Mei 2026, saya sudah resmi tidak lagi menjadi bagian dari perkhidmahan sebagai kru Redaksi NU Online.

Saya meyakinkan kepada semua orang, terutama para reporter di desk Polhukam NU Online, bahwa saya tidak pergi. Saya hanya sedang melanjutkan perjalanan.

Saya masih Aru yang sama—yang ceria, yang terbuka untuk diskusi, yang bisa ditemui dan dihubungi kapan saja. Tidak ada yang berubah dari diri saya, kecuali keberanian untuk mencoba hal baru.

NU Online akan selalu menjadi rumah kedua saya. Tempat saya belajar menulis dari nol. Tempat saya ditempa menjadi wartawan. Tempat saya mengenal arti tanggung jawab, profesionalitas, dan dedikasi.

Namun, setiap rumah pada akhirnya akan melahirkan seorang perantau. Saya percaya, merantau bukan berarti menjauh tapi justru cara untuk kembali dengan versi diri yang lebih kuat, lebih matang, dan lebih siap memberi makna.

Mungkin hari ini adalah perpisahan. Tapi saya percaya, ini bukan akhir dari cerita kita. Suatu hari nanti, ketika jalan yang kita tempuh membawa kita ke puncak masing-masing, kita akan bertemu lagi dengan versi terbaik dari diri kita.

Dan kalau saat itu tiba, kita akan tersenyum bangga dan berkata: "perpisahan ini ternyata tidak sia-sia."

Terima kasih untuk semua kawan-kawan di NU Online yang telah membantu, membimbing, dan melangkah bersama saya selama sembilan tahun, sejak 2017 hingga 2026. Maafkan segala kesalahan yang telah saya perbuat, baik secara lisan atau tulisan maupun berupa konten digital di media sosial saya.

Saya, Aru Elgete, pamit undur diri dan sampai jumpa!


Bekasi, 1 Mei 2026.

Minggu, 12 April 2026

Ngaji Al-Hikam Bersama Gus Ulil (6): Mengapa Doa Kita Tak Selalu Sesuai Harapan?

 

Ngaji Al-Hikam bersama Gus Ulil ke-6 spesial Halalbihalal di Taman Jiwa Pondokgede Bekasi, pada 12 April 2026.



Berikut ini adalah rangkuman dari Ngaji Kitab Al-Hikam pertemuan Ke-6 bersama Pengasuh Ghazalia College Gus Ulil Abshar Abdalla spesial Halalbihalal di Taman Jiwa Pondokgede, Bekasi, Jawa Barat, pada 12 April 2026.


*****


لَا يَكُنْ تَأَخُّرُ أَمَدِ العَطَاءِ مَعَ الْإِلْحَاحِ فِي الدُّعَاءِ مُوجِبًا لِيَأْسِكَ، فَهُوَ ضَمِنَ لَكَ الْإِجَابَةَ فِيمَا يَخْتَارُهُ لَكَ، لَا فِيمَا تَخْتَارُ لِنَفْسِكَ، وَفِي الْوَقْتِ الَّذِي يُرِيدُ، لَا فِي الْوَقْتِ الَّذِي تُرِيدُ 

"Janganlah keterlambatan datangnya pemberian Allah kepadamu, saat engkau telah bersungguh-sungguh dalam berdoa, menyebabkan engkau berputus asa. Sebab, Allah menjamin pengabulan doa sesuai dengan apa yang Ia pilihkan untukmu, bukan menurut apa yang engkau pilihkan untuk dirimu sendiri. Dan pada waktu yang Ia kehendaki, bukan pada waktu yang engkau inginkan."


Kalau doa kita belum juga “tembus”, jangan sampai ذلك يُوجِب لك اليأس (dzālika yūjibu laka al-ya’s) — itu membuat kita putus asa. Jangan sampai kita kemudian merasa: “Kayaknya Tuhan tidak perhatian kepada saya.”


Semua orang pasti pernah mengalami ini, dalam derajat yang berbeda-beda. Kalau frustrasinya besar, keluhannya kepada Tuhan juga besar. Tapi semua orang pasti pernah mengalami.

Jujur saja, kadang kita juga protes: “Ini bagaimana sih, ya Allah? Doa terus, kok tidak dikabulkan?” Nah, kenapa doa yang tidak dikabulkan atau terlambat dikabulkan itu tidak boleh membuat kita putus asa?

Karena dalam Hikmah ke-6 ini disebutkan:

فَهُوَ ضَمِنَ لَكَ الْإِجَابَةَ فِيمَا يَخْتَارُ لَكَ، لَا فِيمَا تَخْتَارُ لِنَفْسِكَ، وَفِي الْوَقْتِ الَّذِي يُرِيدُ، لَا فِي الْوَقْتِ الَّذِي تُرِيدُ


Artinya:
Allah menjamin pengabulan doa bagimu, tetapi dalam apa yang Dia pilihkan untukmu, bukan apa yang kamu pilih untuk dirimu sendiri; dan pada waktu yang Dia kehendaki, bukan pada waktu yang kamu kehendaki.

Jadi tugas manusia adalah berdoa. Bagaimana Allah mengabulkan doa kita, itu bukan urusan kita. Allah punya cara sendiri.

فِيمَا يَخْتَارُ لَكَ
Sesuai dengan apa yang Allah pilihkan untukmu.

Intinya hikmah ke-6 ini yaitu manusia jangan mengatur Tuhan. Kitalah yang diatur oleh Allah, bukan sebaliknya.

Kadang kita ini ingin mengatur: “Ya Allah, saya minta mobil… mereknya ini ya Allah.”
Itu terlalu spesifik. Jangan begitu. Allah yang punya hak penuh menentukan.


Kemudian:
وَفِي الْوَقْتِ الَّذِي يُرِيدُ
Waktunya terserah Allah. Bisa sekarang, nanti, tahun depan, atau bahkan di akhirat.

Yang penting: Allah menjamin doa akan dikabulkan.

Masalahnya, manusia ingin doa dikabulkan sesuai cara dan waktunya sendiri. Ini yang keliru.



Jamaah perempuan ngaji Al-Hikam


Hikmah ini mengajarkan optimisme: harapan tidak boleh putus. Walaupun tidak sesuai keinginan kita, doa tetap dikabulkan.

Kalau mindset kita benar bahwa kita diatur oleh Allah, maka kita tidak akan mudah frustrasi.

Dalam syarahnya, Ibn ‘Ajibah menjelaskan adab berdoa. Secara ekstrem bahkan dikatakan: sebenarnya manusia tidak perlu berdoa, karena semua sudah dijamin Allah. Tapi kita tetap harus berdoa. Kenapa? Karena doa itu menegaskan posisi kita sebagai hamba (عبد).

Seorang hamba itu wajar meminta kepada Tuhannya. Jadi tujuan utama doa bukan isi permintaannya, tetapi sikap kehambaan. Kalau kita tidak pernah meminta, itu malah tidak pantas.

Adab Berdoa

1. Doa untuk menegaskan kehambaan, bukan menagih janji Allah. Tidak boleh kita berdoa dengan mental seperti “debt collector”.

2. Tidak boleh putus asa jika tidak dikabulkan sesuai keinginan.


Dalam hadis disebutkan, doa itu punya tiga kemungkinan:

1. Langsung dikabulkan.
2. Ditunda dan disimpan sebagai pahala di akhirat.
3. Diganti dengan dihindarkan dari musibah yang setara.

Jadi tidak ada doa yang sia-sia.


مَنْ لَمْ يَكُنْ فِي دُعَائِهِ تَارِكًا لِاخْتِيَارِهِ رَاضِيًا بِاخْتِيَارِ الْحَقِّ...

Kalau seseorang berdoa tetapi tetap memaksakan kehendaknya, tidak ridha dengan pilihan Allah, lalu doanya dikabulkan, itu belum tentu karena Allah ridha.

Bisa jadi itu istidraj (dibiarkan agar semakin jauh). Seperti orang yang terus merengek, lalu dikasih hanya supaya diam. Jadi dikabulkannya doa belum tentu tanda cinta Allah.

Orang tasawuf itu selalu waspada bahwa doa yang dikabulkan belum tentu karena Allah ridha dan ibadah yang dilakukan belum tentu diterima. Bisa jadi orang yang jarang ibadah, justru sekalinya ibadah, ibadah dia diterima oleh Allah.

Ini penting agar tidak sombong.

Contoh:
Saat berbuka, jangan langsung merasa: “Puasa saya pasti diterima.” Tidak boleh merasa pasti. Harus tetap ada rasa khawatir.


Ilmu tasawuf itu mengajarkan: jangan terlalu yakin dengan amal sendiri dan harus ada rasa tidak pasti (khauf dan raja’) supaya tidak jatuh pada kesombongan.


Kalau kita berdoa dengan kesadaran: "Saya berdoa, tapi hasilnya saya serahkan sepenuhnya kepada Allah”...

فَهُوَ مُجَابٌ وَإِنْ لَمْ يُعْطَ

Dia sebenarnya sudah dikabulkan, walaupun belum diberi.

Dan:

الأعمال بخواتيمها

Amal itu dinilai dari akhirnya, bukan awalnya.



Bekasi, 12 April 2026

Sabtu, 28 Maret 2026

72 Tahun Bapak Saryono: Teladan Keteguhan Prinsip dan Kedisiplinan

 

Bapak Saryono saat ziarah ke makam bapaknya, Mbah Suwarno bin Mangku Dimedjo di TPU Utan Kayu, Jakarta Timur (2023)

Tanggal 28 Maret 2026 adalah momen 72 tahun keselamatan hidup Bapak Saryono. Tujuh dekade lebih Bapak telah selamat menjalani hidup, melewati berbagai fase dengan keteguhan, kesabaran, dan prinsip yang tak pernah goyah. Bagi kami, anak-anaknya, angka 72 adalah simbol dari hidup yang penuh berkah dan keberhasilan.


Bapak bukanlah sosok yang banyak bicara tentang pencapaian pribadi, tetapi kami menyaksikan sendiri tentang jejak hidupnya yang menjadi teladan nyata. Kesederhanaannya menyimpan kekuatan. Ketegasannya mengandung kasih. Sikap diamnya sering kali justru menyampaikan pesan yang paling dalam.


Salah satu hal yang paling kami syukuri adalah cara Bapak membesarkan kami. Ia tak pernah memaksa anak-anaknya menggapai mimpi tertentu. Tidak ada tekanan untuk menjadi ini atau itu. Tidak ada tuntutan untuk mengikuti jalan yang sudah ditentukan. Namun, di balik kebebasan itu, Bapak justru mendorong anak-anaknya meraih cita-cita masing-masing dengan sepenuh hati.


Anak pertama, Wahdaniah Puji Hartami (Mbak Nia) menjadi seorang apoteker. Anak kedua, Nisfu Syawaluddin Tsani (Mas Nisfu) mengabdikan dirinya sebagai pegawai pemerintahan. Lalu saya, anak ketiga, memilih jalan sebagai penulis, sebuah cita-cita yang sudah tumbuh sejak kecil. Tidak satu pun dari pilihan itu yang lahir dari paksaan. Semua tumbuh dari dorongan halus namun kuat dari seorang ayah yang percaya bahwa setiap anak memiliki jalannya sendiri.


Bapak selalu menanamkan bahwa hidup bukan soal mengikuti jejak orang lain, tetapi tentang bertanggung jawab atas pilihan yang diambil. Ia mengajarkan kedisiplinan waktu sejak kami kecil: bangun pagi, berangkat dan pulang kerja saat hari gelap, menghargai setiap detik, dan tidak menunda pekerjaan. Bagi Bapak, waktu adalah amanah yang tidak boleh disia-siakan.


Bapak juga mengajarkan kami untuk memegang teguh prinsip. Dalam hidup, akan selalu ada godaan untuk mengambil jalan pintas, untuk berkompromi dengan nilai-nilai. Namun Bapak selalu mengingatkan bahwa komitmen atas pilihan adalah harga diri yang harus dijaga. Sekali melangkah, harus berani bertanggung jawab sampai akhir.


Satu nasihat Bapak yang selalu terngiang hingga hari ini adalah tentang keberanian. Ia mengajarkan agar kami tidak pernah takut pada apa pun: tidak takut gagal, tidak takut mencoba, tidak takut menghadapi dunia. Satu-satunya hal yang patut ditakuti, katanya, adalah ketika kita tidak mendapat ridha dan keikhlasan dari keluarga. Sebab, tanpa itu, keberhasilan apa pun akan terasa hampa.


Bapak adalah sosok yang sangat teliti. Dalam hal apa pun, Bapak selalu memperhatikan detail, sekecil apa pun itu. Dari cara bekerja, berbicara, hingga mengambil keputusan, semuanya dilakukan dengan penuh pertimbangan. Bapak juga mengajarkan kami agar tidak lalai terhadap apa pun. Kesalahan kecil, jika dibiarkan, bisa menjadi masalah besar. Karena itu, kehati-hatian adalah bagian dari tanggung jawab.


Salah satu nilai yang paling sering ia ulang adalah filosofi Jawa yang sederhana namun mendalam: eling lan waspada. Ungkapan ini sering ia kutip dari tokoh punakawan dalam pewayangan, Semar. Eling berarti selalu ingat kepada Allah, tidak pernah lepas dari kesadaran bahwa hidup ini ada dalam pengawasan-Nya. Sementara waspada berarti berhati-hati terhadap segala kemungkinan, termasuk potensi kejahatan atau niat buruk dari orang lain.


Nilai ini bukan sekadar kata-kata bagi Bapak. Ia menjalaninya dalam kehidupan sehari-hari. Bapak tidak mudah percaya pada sesuatu sebelum membuktikannya sendiri. Ia selalu kritis terhadap siapa pun, bukan untuk merendahkan, tetapi untuk memastikan kebenaran. Bagi Bapak, berpikir kritis adalah bentuk tanggung jawab, bukan sikap negatif.


Dalam dunia yang sering kali penuh kepalsuan, sikap ini menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi kami. Memang, percaya itu penting. Namun memastikan kebenaran jauh lebih penting. Menghormati orang lain tidak berarti menelan mentah-mentah segala yang mereka katakan.


Keteguhan adalah kata lain yang tak bisa dilepaskan dari sosok Bapak. Dalam berbagai situasi, Bapak selalu menunjukkan konsistensi sikap. Ia tidak mudah goyah oleh tekanan, tidak mudah berubah arah karena pengaruh. Ketika ia sudah meyakini sesuatu sebagai kebenaran, ia akan berdiri tegak mempertahankannya.


Namun di balik semua ketegasan itu, ada kasih sayang yang begitu besar. Bapak mungkin tidak selalu mengungkapkannya dengan kata-kata, tetapi kami merasakannya dalam setiap tindakan. Dalam setiap nasihat. Dalam setiap diamnya yang penuh makna.


Kini, pada usia ke-72, kami melihat perjalanan panjang yang telah ia lalui dengan penuh rasa syukur. Hidupnya adalah bukti bahwa keberhasilan tidak selalu diukur dari gemerlap dunia, tetapi dari nilai-nilai yang diwariskan. Dari anak-anak yang tumbuh dengan prinsip. Dari keluarga yang tetap utuh dan saling menguatkan.


Kami tahu, waktu terus berjalan. Usia terus bertambah. Sebagai anak, kami hanya bisa berharap satu hal: semoga masih ada waktu untuk kami terus berbakti, meski tak akan pernah sebanding dari segala yang telah Bapak berikan.


Terima kasih, Bapak, atas kebebasan yang telah diberikan kepada kami untuk bermimpi. Terima kasih atas dorongan yang membuat kami berani melangkah. Terima kasih atas keteguhan, kedisiplinan, dan nilai-nilai hidup yang tak ternilai harganya.


Pada usia ke-72 ini, semoga Bapak selalu diberikan kesehatan, ketenangan, dan kebahagiaan. Semoga langkah-langkah yang telah Bapak tempuh menjadi jalan berkah, tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi siapa pun yang mengenalmu.


Semoga kami, anak-anakmu, mampu terus menjaga amanah nilai-nilai yang telah kau tanamkan. Selamat ulang tahun ke-72, Bapak Saryono. Kami mencintaimu, hari ini, esok, dan selamanya.



Bekasi, 28 Maret 2026