Rabu, 18 Oktober 2017

Kopi Kekasih


Lokasi: Bukit Pelangi, Bogor, Jawa Barat

Sebab kopi adalah washilah kemesraanku pada kekasih.

Maka, hanya ia yang mampu memberi damai untuk semesta kehidupan.

Ia menjadi alasan utama kepergianku atas kedurjanaan kemanusiaan.

Ia mampu membawaku pada kedamaian dan kesunyian.

Ia mengajakku untuk tidak ikut andil dalam kontestasi kebencian.

Karenanya, cinta yang ia beri, tak sekadar hasrat seksual.

Ia memberi pemahaman bahwa aku adalah dirinya, dan ia adalah aku.

Selamat minum kopi. Ketahuilah, bahwa kopi merupakan cara kita mencinta dengan kekasih yang abadi.




Bogor, 19 November 2016


Aru Elgete 

Minggu, 15 Oktober 2017

Ukhuwah Islamiyyah Untuk Kemaslahatan Bersama


Ilustrasi. Sumber gambar: http://nurulhuda.uns.ac.id



"Al-muslimu akhul muslim," sepotong hadits yang sejak SD, menjadi sebuah kebanggaan.


Pertama, karena kehapalanku pada teks tersebut. Kedua, adanya sebuah harapan agar Islam dapat bersatu oleh, dari, dan untuk persaudaraan. Ketiga, di dalamnya tersirat bahwa Islam takkan terpecah dan dipecah. Menjadi satu kekuatan untuk melawan dan meruntuhkan segala jenis urusan keduniaan yang tidak bergaris-lurus dengan Allah.

Islam sebagai sebuah harapan dengan jalan kebenaran dan ruang proses bagi perbaikan diri. Islam dengan keluwesannnya mampu merangkul siapa saja untuk memahami serta mempelajarinya sebagai sebuah tatanilai, kebudayaan, dan estetika kehidupan sosial.

Islam adalah tatanilai. Karenanya, ia mampu mengilhami manusia untuk tetap berislam. Patuh, berpasrah, memberi kedamaian, menebar keselamatan, dan menabur kesejahteraan. Ia juga sebagai bentuk kebudayaan. Islam mampu membuat orang-orang yang berada dalam lingkarannya menjadi berbudaya. Berakal-budi dan memiliki budi-pekerti yang luhur. Sebagai tatanilai dan kebudayaan, Islam akhirnya membentuk sebuah tatanan kehidupan sosial yang estetik. Harmoni dan lebih dialektik.

Ketiga poin itu adalah titik berangkat keislaman pada universalitas kepribadian. Baik di dalam diri manusia atau pada Islam itu sendiri. Ia mencair pada kondisi sosio-kultural di setiap tempat. Pada akhirnya, Islam tak menjadi sesuatu yang bersifat primordial, sektarianisme, dan romantika cinta yang membabi-buta.

Ketika Islam menjadi sebuah primordialitas, keagamaan yang menimbulkan sektarianisme yang disebabkan oleh romantika kecintaan yang mmembabi-buta, maka esensi dari keislaman menjadi hilang. Buyar, tak berbentuk. Islam tak bersekat. Justru karena cinta; Islam bersifat menyeluruh. Memaknai semesta sebagai kekasih. Bahkan, menganggap Pencipta sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.


*****


    "Dan pada akhirnya, Ukhuwah Islamiyyah hanya menjadi impian yang tak berujung," batinku saat melihat Islam menjadi terkoyak dan terkotak, bahkan oleh dirinya sendiri.



Ukhuwah Islamiyyah berbeda dengan Ukhuwah-Muslimin (dan berbeda sama sekali dengan Ikhwanul-Muslimin) atau Ukhuwah Bainal-Muslimin wal-Muslimat. Juga bukan Ukhuwatun-Islamiyyah, tetapi Ukhuwatun-Islamiyyatun.

Ia merupakan strategi persaudaraan dengan mengutamakan prinsip, pola, dan napas keislaman. Islam di dalam kalimat Ukhuwah Islamiyyah adalah kata sifat. Maka persaudaraan yang dimaksud memiliki makna luas. Yakni persaudaraan antar sesama manusia dengan satu tarikan napas: keislaman. Menyiratkan kepatuhan, menganjurkan kepasrahan, menabur dan menebar keselamatan, kedamaian, serta kesejahteraan yang menyeluruh.

Islam yang menyeluruh berarti penuh dengan welas asih, senantiasa melaksanakan hukum alam (Sunnatullah) yang tertinggi. Yakni mencintai Tuhan Yang Mahatinggi dengan tulus. Selain itu mampu mengejawantahkannya dengan tidak membuyarkan esensi cinta kepada sesama manusia.

Kemudian, universalitas persaudaraan Islam berarti tidak primordial, rigid, jumud, kaku, dan beku. Keislaman justru akan menciptakan persaudaraan yang kokoh, ketika tidak saling mengoyak dan mengkotak. Sehingga mampu melebur dengan segala macam kemaksiatan dan keserakahan duniawi yang bersedia mengajak-rangkul pada ketaatan, kepatuhan, dan keberpasrahan diri pada Tuhan.


    "Ukhuwah Islamiyyah tidak pernah melakukan proses pendewasaan dengan memonopoli kemutlakan Tuhan. Artinya, ia tidak primordial. Tidak menganggap bahwa dirinya yang memegang kemutlakan itu. Islam dan Tuhan adalah dua hal yang kebesaran-Nya amat sangat jauh dari keberadaan dan keberdayaan kita sebagai manusia yang hanya sebesar biji dzarrah." Renungku.



Dewasa ini, kita seringkali melihat dan menyaksikan aksi klaim-tuding sesama umat Islam. Menganggap diri paling benar dan menuding kesalahan hanya terdapat pada orang lain.

Sesungguhnya, sangat mustahil ketika sepenggal ayat, hadits, dan pernyataan seorang ulama ditafsirkan melalui kapasitas otak yang tentu sangat terbatas, kemudian menganggap bahwa penafsirannya lah yang paling benar dan tidak bisa diganggu-gugat. 

Karena itu, Islam sebagai tatanilai. Artinya sebagai perwujudan dari kepasrahan dan kerendah-hatian. Kepatuhan yang berimplikasi pada sikap kehati-hatian. Serta konsisten untuk senantiasa menambah pengalaman pengetahuan baru agar mendapat kebenaran-kebenaran yang masih banyak berserak.

Dengan pemaknaan seperti itu, cepat atau lambat, dengan tanpa mengubah dasar negara-bangsa, dan dengan tidak bersikap antipati kepada apa dan siapa pun, serta tidak melakukan proses pendewasaan dengan memonopoli kebenaran, atau menganggap penafsiran diri sendiri adalah yang paling benar, maka Ukhuwah Islamiyyah akan segera terwujud.

Kalau Islam sudah menjadi tatanilai, kebudayaan, dan estetika kehidupan sosial, maka kekuatan cinta dapat dirasakan sebagai satu kesatuan yang utuh demi menciptakan persaudaraan nan kokoh.

Islam sebagai nilai yang berpola, berprinsip, dan bernafaskan persatuan dengan tanpa sekat, dengan universalitas, serta melihat kondisi sosio-kultural sebagai sebuah keniscayaan, akan memberikan optimisme bagi keberlangsungan persaudaraan terhadap sesama dan semesta.

Maka, Islam menjadi lentur. Mewujud pada empati bagi kemanusiaan tanpa embel-embel apa dan siapa. Tak berjarak, bersekat, terkoyak dan terkotak. Sebab, fungsi cinta adalah sebagai perekat persaudaraan.

Ketika berbicara soal cinta, maka tak ada lagi pembahasan mengenai pahala, ketakutan terhadap dosa, berharap surga atas kebaikan yang dikerjakan, serta berusaha dengan sekuat tenaga untuk menghindari segala jenis kemaksiatan demi terhindar dari siksa neraka.

Pahala, dosa, surga, dan neraka sesungguhnya adalah penyekat dari universalitas cinta. Kalau tujuan akhir dari sebuah pengembaraan di dunia hanya pada keempat hal itu, maka Ukhuwah Islamiyyah akan menjadi angan-angan yang kosong; utopis.

Berpikir layaknya pedagang yang selalu ingin mendapatkan keuntungan dari setiap perilaku kebaikan, membuat kita abai pada kemerosotan moral yang terjadi di sekitar. Sebab kita pasti berpikir akan mendapat kerugian ketika menjadi bagian dari keterpurukan itu.

Padahal jika kita sudah menjadi bagian dari objek kemerosotan moral yang terjadi, akan sangat mudah untuk mewarnai lingkaran itu dengan universalitas cinta. Juga, nilai-nilai keislaman; ketaatan, kepatuhan, keberpasrahan diri pada Tuhan yang dapat mengumbar dan menebar keselamatan serta kedamaian.

Saat berperilaku seperti budak yang takut akan siksa jika melanggar aturan dan ketetapan, justru dapat meruntuhkan nilai-nilai keislaman yang digaungkan demi tegaknya Ukhuwah Islamiyyah di bumi.

Pasalnya, kita akan enggan meleburkan diri ke dalam komunitas atau lingkaran kemaksiatan karena dibayang-bayangi oleh siksaan dan ancaman yang menakutkan.

Kembali dikatakan, bahwa dengan melebur ke dalam lingkaran itu, kita dapat mewarnainya dengan polarisasi kehidupan yang estetik dan dialektik.

Tuhan pun mengetahui segala bentuk ketersembunyian dan kesunyian dalam hati. Dia melihat serta memahami niat tulus kita dalam menegakkan persaudaraan yang diselimuti oleh prinsip keislaman.

Pun ketika kita hanya berfokus pada neraka dan surga dalam pengembaraan hidup di dunia, maka yang akan terjadi adalah ketersekatan yang akan mempersulit terbentuknya persaudaraan. 

Karena iming-iming pahala, ancaman dosa, kenikmatan surga, dan siksa neraka, maka primordialisasi Islam akan menjadi benalu dalam kehidupan yang dinamis. Yang dengan menghilangkan hal-hal tersebut, harmonisasi kehidupan yang estetik menjadi nyata.

Maka, tujuan akhir kita adalah soal Ukhuwah Islamiyyah. Kebersatuan, persaudaraan, dan keniscayaan yang didasari oleh cinta. Sebab cinta adalah permadani kehidupan yang diberikan Tuhan untuk keberlangsungan hidup seluruh makhluk.


    "Cinta merupakan kemurnian sejati, sebagai pendobrak dan penghancur tembok pemisah antara kita, juga untuk memusnahkan segala kemunafikan serta kepentingan yang justru menjauhkan diri dari kerelaan Tuhan." Pikirku, di kaki gunung Pangrango, setahun lalu.



Dengan begitu, kita tak perlu lagi mengajak Tuhan untuk berhitung soal pengeluaran jasa dan sebagian rezeki, yang kemudian mengharap imbalan dari itu. Kita akan melihat segala sesuatu adalah perwujudan dan peniscayaan dari Tuhan itu  sendiri. Atau, setidaknya terdapat unsur ketuhanan dari setiap penggunaan indera.

Artinya, kita selalu dalam pengawasan. Senantiasa menjadi pelayan-Nya. Melaksanakan fungsi staf ahli (Khalifah fil-ardl). Sebab, setiap langkah kaki dan desah nafas sudah tak lagi berjarak dengan cinta. Dan cinta itu adalah Tuhan.

Saat Ukhuwah Islamiyyah sudah tegak dan terwujud, pemutlakan kebenaran Tuhan atas penafsiran diri yang sangat terbatas tidak diperkenankan merajalela. Sikap keagamaan yang jumud, rigid, kaku, beku, dan kepala batu akan musnah.

Hal tersebut akan tersingkir dengan sendirinya. Sesuatu hal yang tersisa hanyalah ketawadluan, sikap toleran, saling menerima kebenaran lain yang juga hasil penafsiran dari akal yang terbatas, dan sikap saling mengasihi satu sama lain. Dengan itu, sudah seyogyanya kita mampu melebur pada kemaksiatan untuk melanjutkan perjalanan menuju ketaatan, bukan menghakimi dan menyesatkan ketersesatan.

Pada akhirnya, semua makhluk bergembira. Kegembiraan itu membumihanguskan kebencian. Dan kita akan menyongsong pada persaudaraan yang titik gravitasinya adalah nilai-nilai keislaman.


*****


Sehari jelang pelantikan Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi DKI Jakarta, Anies Baswedan-Sandiaga Uno, menjadi momentum bagi persatuan dan persatuan yang mesti lestari. Kita sudah harus melupakan segala macam seteru dan permusuhan beberapa waktu yang lalu. Sebab, Ibukota tidak terbatas hanya pada persoalan kontestasi dan kompetisi.


Anies Baswedan pernah mengatakan bahwa memiliki lawan tidak menjadi masalah asal tidak berlanjut pada permusuhan jangka panjang. Saling nyinyir dan sindir sudah semestinya tersingkir agar Kota Megapolitan itu tidak bau pandir.

Persoalan berdagang ayat dan mayat demi kekuasaan lima tahun sekali yang sangat singkat dan sesaat, tak perlu lagi diingat-ingat. Jadikan itu sebagai dinamika dan dialektika kita dalam berpolitik. Maksudnya, mencapai kekuasaan. Sebab politik itu sifatnya dinamis. Apa pun bisa menjadi alat dan halal untuk dilakukan.

Kini, saatnya kita bangun bersama. Bangkit membenahi Jakarta. Membantu dan mengontrol kinerja pelayan baru. Kalau benar, apresiasi. Ketika salah, maka berilah kritik yang membangun. Parahnya, manusia Indonesia saat ini sudah sangat kejam dalam menilai. Kalau berbuat benar dianggap pencitraan. Sementara kalau salah, dibully habis-habisan.

Mari sama-sama menjaga nilai persaudaraan. Sesungguhnya, keutuhan bangsa dan agama ada dalam genggaman orang-orang yang mencintai persaudaraan.

Kembali-lah pada dasar negara yang selama ini menjadi pemersatu. Yakni, Pancasila. Pelajari dan hayati kandungannya. Kemudian, sila periksa lagi cara kita beragama dan bertuhan. Benarkah, kita lebih sibuk beragama sampai-sampai lupa bertuhan? Naudzubillah...

Mari berislam dan berpancasila. Keduanya jangan dipisah-pisah. Jangan dibanding-banding. Jangan pula dijadikan sebuah pilihan untuk dipilih yang satu dan ditolak yang lainnya. Keduanya mesti seiring sejalan. Beriring menapaki cahaya persaudaraan dan persatuan.

Sebab, di dalam Pancasila terdapat banyak nilai-nilai keislaman. Pun sebaliknya. Pancasila adalah Ideologi yang menjadi alternatif, yang tidak ke barat dan timur. Ia menjadi titik tengah di antara Liberalisme dan Komunisme. Juga menjadi dasar berdirinya negara yang bukan teokratik dan sekular. Pancasila mencintai manusia sebagai manusia, mengeratkan persaudaraan tanpa melihat latar belakang. Bahkan, kepada yang tidak menyukai Pancasila sekalipun, akan dicintai dengan ketulusan dan kelembutannya. Itulah Pancasila.

Sementara nilai-nilai keislaman, yang menjadi langkah awal untuk meniscayakan dan mendirikan bangunan Ukhuwah Islamiyyah, juga menjunjung tinggi sikap moderatisme. Yakni paham yang tidak condong ke kanan dan ke kiri, yang mendidik kita agar menjadi ummatan wasath, laa syarqiyyah wa laa ghorbiyyah, yang kalau hal itu diterapkan dalam keseharian, maka kita akan menjadi khairu ummah yang peduli dan peka terhadap perwujudan Ukhuwah Islamiyyah.

Maka, tidak ada lagi pertentangan di antara keduanya. Seorang Pancasilais jika sudah memahami makna dan nilai yang terkandung dalam Pancasila, tidak akan menjadi seorang yang anti-agama. Begitu pun, seorang Islamis. Ketika sudah mendalami Islam dengan tidak setengah-setengah, maka ia tidak akan memusuhi Pancasila. Sebab, Islam dan Pancasila tidak sama sekali mengajarkan untuk antipati kepada apa dan siapa yang ada di muka.

Islam sebagai tatanilai, sudah sangat sesuai dengan Pancasila. Islam mengajarkan ketaatan, kepasrahan, kepatuhan, kasih sayang, cinta, kedamaian, kesejahteraan, kemanusiaan, dan ketenteraman. Lalu, apa yang bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila? Kalau ternyata Pancasila belum mampu menerapkan nilai di keseharian manusia Indonesia, jangan lantas mengubahnya menjadi Islam sebagai dasar negara.

Biar Islam tetap menjadi Islam. Pancasila tetap sebagai Pancasila. Jangan dicampuradukkan. Jangan pula dipertentangkan, apalagi menjadikan keduanya sebagai opsi untuk dipilih salah satu diantaranya. Keduanya harus berseiring, berdampingan, berjalan pada koridornya masing-masing karena memiliki peran yang sama. Islam menjadi pendongkrak moral bagi setiap individu warga negara, sementara Pancasila menjadi dasar moralitas kenegaraan kita.

Atas dasar pemikiran di atas, saya berasumsi bahwa Indonesia dan Islam tidak akan pernah menciptakan kebaikan, kecerdasan dan pencerdasan, serta persatuan dan persaudaraan, kalau masih mempertentangkan kedua dasar itu.

Islam dan Pancasila adalah faktor pendukung demi terciptanya Ukhuwah Islamiyyah, yakni persaudaraan yang bernapaskan nilai, pola, dan prinsip keislaman. Persatuan antar manusia. Persatuan dan persaudaraan secara universal, yang disatukan serta dipersaudarakan karena, oleh, dan untuk cinta.

Alquran sebagai pedoman serta petunjuk bagi seluruh umat manusia di muka bumi, banyak memberikan pesan damai tentang urgensitas persatuan dan larangan bermusuhan. Untuk memaknai buku panduan umat manusia ini, hendaknya secara universal dan komprehensif, tidak parsial atau pun setengah-setengah karena hanya terpaku pada teks.

Ketika memaknai teks Alquran, terlebih ketika hanya melihat dan membaca terjemahan karena keterbatasan ilmu, maka yang dibutuhkan adalah sikap rendah hati, tidak menganggap bahwa pemaknaannya terhadap teks merupakan kebenaran yang sesuai dengan maksud dan kebenaran yang berada pada Allah.

Hablun (dalam bahasa Arab) atau Cable (dalam Bahasa Inggris), memiliki pemaknaan yang artinya tali, atau sesuatu yang sifatnya menghubungkan. Berpegang kepada tali Allah dalam QS. Ali Imron 103, berarti menjaga konsistensi untuk tetap melakukan atau menciptakan sesuatu yang ada pertaliannya dengan Allah.

Allah adalah Tuhan untuk keseluruhan. Dia bukan pilihan diantara pilihan-pilihan yang lain. Dia tidak menjadi salah satu di antara dua pilihan. Dia tidak beragama. Kekuasan-Nya tidak tersekat oleh apa pun. Dengan berpegang pada sesuatu yang selalu menghubungkan kita pada universalitas nilai keislaman dan keilahian, maka persaudaraan tercipta, sementara keterpecahan tidak mungkin terjadi.

    Allah hanya sebuah nama bagi Dzat Yang Kuasanya tak terhingga. Dia tidak beragama. Tetapi di setiap agama pasti memiliki nama tersendiri untuk menyebut diri-Nya. Di setiap agama juga pasti terdapat sebuah keyakinan dimana ada satu Dzat yang tak kasat mata, namun diyakini memiliki kekuatan yang lebih dari manusia biasa. Itulah yang oleh orang Islam dan orang Arab disebut dengan nama Allah.



Seluruh kebaikan, muaranya adalah Allah. Berbuat baik pada sesama tanpa menyekat, merupakan pertalian yang berujung pada sifat Keilahian. Untuk meniscayakan Ukhuwah Islamiyyah atau persaudaraan antarmanusia dengan prinsip, pola, dan nilai keislaman yang damai, tenteram, dan selamat, maka kita mesti tetap konsisten berpegang pada tali Allah; tali kebenaran, tali kesucian, tali kejujuran, dan tali keindahan.

Sementara kebenaran, kesucian, kejujuran, dan keindahan, takkan bisa dikalahkan oleh keserakahan, kemunafikan, kebodohan, kejumudan, kekakuan, dan kebekuan. Berpegang dengan tali Allah berarti berani berbuat jujur, berlaku benar, sehingga keindahan dapat terlihat demi mewujudkan Ukhuwah Islamiyyah.

Kepada Anies-Sandi, selamat bertugas. Sila berkarya dan menorehkan prestasi. Ajak-rangkul warga masyarakat dengan ketulusan. Sementara kepada seluruh warga, mari meniscayakan Ukhuwah Islamiyyah. Semoga segera terwujud demi mempertahankan kesucian dan kebenaran yang terdapat dalam kandungan Pancasila.

Dengan itu, persaudaraan yang tanpa sekat, persatuan yang dengan mengedepankan universalitas cinta, kerekatan yang tanpa memandang latar belakang orang lain, yang mengutamakan nilai-nilai luhur Islam dapat segera terwujud. Serta menjadi kegembiraan bagi seluruh umat manusia dan seluruh penghuni semesta.



Wallahu A'lam

Aru Elgete
(Seorang pemalas dari Bekasi)

Keterangan:
Tulisan ini diterbitkan pada 29-30 September hingga 1 Oktober 2016 di bawah kaki Gunung Gede Pangrango dan ditulis ulang dengan berbagai perubahan, pada hari ini 15 Oktober 2017 di Kaliabang Nangka, Perwira, Bekasi Utara.

Salam Literasi!

Jumat, 30 Juni 2017

Ahok Hilang Karya Terbilang


Suasana Masjid Raya KH Hasyim Asy'ari, Jakarta, Kamis (29/6/2017).

Beberapa hari lalu, pada Selasa (27/6/2017), beranda media sosial penuh. Tidak seperti biasanya. Terdapat banyak unggahan foto anak kecil dan seorang ibu muda. Sebagian besar netizen berlomba-lomba mengunduh gambar itu. Kemudian, dijadikan video berupa kumpulan foto dengan latar belakang lagu berjudul "Pahlawan Tak Pernah Mati" yang dinyanyikan Rizca Ayu, karya Yunan Helmi.

Ya, gambar anak kecil dan seorang ibu muda itu adalah Ahok atau Basuki Tjahaja Purnama saat masih bayi bersama ibunda tercintanya, Buniarti Ningsih. Bocah kecil keturunan Tionghoa-Indonesia dari suku Hakka itu lahir di Belitung Timur, Bangka Belitung, pada 29 Juni 1966. Kemarin, Kamis (29/6/2017), ia genap berusia 51. Gubernur DKI Jakarta pasca-Jokowi itu, terpaksa merayakan hari bahagianya di Markas Komando Brigadir Mobil (Mako Brimob), Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat.

Berbagai ucapan, doa, dan hadiah, berdatangan dari para pengagumnya. Baik memberikan langsung ke Mako Brimob, atau pun melalui media sosial. Bahkan, ucapan dengan tagar #HBDAhok51 menempati posisi teratas di Twitter, sepanjang hari, kemarin. Segala kebaikan tertumpah di linimasa, walau masih saja ada segelintir orang yang berusaha mencemarinya dengan satir kebencian. Itu hal biasa. Tapi yang pasti, kebaikan akan selalu ditempatkan di posisi yang mulia. 

Rabu, 28 Juni 2017 kabar bahwa esok adalah ulangtahun "si penista agama" itu tersiar dengan sangat massif di dunia maya. Tak terkecuali saya. Saat tahu kabar tersebut, saya berniat berkunjung ke beberapa tempat yang merupakan karya dan hasil dari kinerja Ahok. Masjid KH Hasyim Asy'ari dan Gubah Al-Haddad atau makam Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan bin Muhammad Al Haddad Al Husaini Ass Syafi`'i alias Mbah Priuk, menjadi destinasi wisata religi bersama Abang kandung saya, Nisfu Syawaluddin Tsani.

"Mas, besok ke Masjid KH Hasyim Asy'ari, yuk. Trus ziarah ke Mbah Priuk. Ngalap berkah sekaligus memperingati hari lahir Ahok," kataku kepada Nisfu, Rabu malam. Tanpa pikir panjang, dia mengiyakan. 

Kamis pagi menjelang siang, sekitar jam 11, kami berangkat. Perjalanan dari Bekasi ke Jl Rusun Pesakih itu memakan waktu kurang lebih satu jam. Lalulintas Ibukota kemarin, ramai lancar. Sama sekali tidak ada kepadatan di jalan protokol sekalipun. Masih suasana lebaran, semua orang sedang berasyik-masyuk di kampung halaman. Sebuah anekdot berbunyi, "Jakarta tidak butuh gubernur cerdas untuk mengatasi persoalan kemacetan. Akan tetapi, Jakarta hanya butuh lebaran. Bayangkan kalau lebaran itu tiap hari?"

Sesampainya di Masjid Raya DKI Jakarta, kami beristirahat dengan  makan mie ayam dan minum es kelapa muda, sembari berkali-kali mendecak kagum melihat bangunan tersebut dari dekat. Bangunan megah itu berdiri di atas lahan seluas belasan hektar. Gaya arsitekturnya sama sekali tidak mirip sebagaimana bangunan masjid pada umumnya. Tapi, dibuat dengan kemiripan seperti rumah adat Betawi, Rumah Kebaya. Lima menara besar yang melingkari bangunan masjid sudah tentu menyimbolkan rukun Islam dan Pancasila. 

Dari situ, saya dapat simpulkan, bahwa bangunan ini dibangun dengan memadukan antara budaya (katakanlah lokalitas kedaerahan) dan agama. Bahwa keduanya harus saling bersinergi. Tidak bisa dipisahkan, apalagi dipertentangkan. Kemudian, terdapat rusunami di dekatnya. Tidak lama lagi akan dibangun rusunawa. Rencananya juga akan dibuatkan lahan pertanian yang hasilnya nanti untuk membantu perekonomian masjid. Asiknya lagi, akses ke dalamnya akan dilalui Bus Transjakarta. 

Di sana, kami berkesempatan salat zuhur dan asar berjamaah dengan pengunjung lainnya. Tak lupa juga, kami berswafoto. Kemudian membuat video ucapan 'selamat hari lahir' untuk "si penista agama" yang telah berhasil merampungkan proyek pembangunan Masjid Raya Provinsi DKI Jakarta. Karena, hampir di setiap daerah, baik kota/kabupaten atau provinsi di Indonesia pasti memiliki masjid sebagai sebuah simbol keberadaban. Bersyukur, DKI Jakarta kini sudah memilikinya.

Gambar ini diambil oleh Nisfu Syawaluddin Tsani saat pembuatan video ucapan untuk Pak Ahok.

Untuk mengetahui video ucapan saya untuk Pak Ahok, silakan klik di sini. Berikut ini transkrip dari ucapan saya dalam video tersebut: 

Assalamu'alaikum wa rahmatullah wa barakatuh

Teman-teman media sosial yang dirahmati Allah.

Rasulullah saw pernah bersabda khoirunnas anfa'uhum linnas. Bahwa sebaik—baik manusia adalah yg bermanfaat bagi manusia yg lain.

Kebermanfaatan seseorang tidak bisa diukur dari gaya bicara retorik yang bernuansa puitik. Bukan pula dari kata—kata penuh intrik. 
Tapi dapat dilihat dari kerja nyata yang dipersembahkan dengan segala ketulusan.

Selamat hari lahir Pak @basukibtp

Masjid Raya KH Hasyim Asyari ini adalah bentuk kebermanfaatan yang telah engkau berikan kepada kami, warga DKI Jakarta.

Dan ini merupakan sebuah kenikmatan yang Allah berikan melalui perantaramu yang mesti disyukuri.

Terima kasih Pak Ahok.

Wassalamu 'alaikum wa rahmatullah wa barakatuh

*****

Gambar ini diambil saat pembuatan video.

Tidak mau kalah, Abang saya pun ikut membuat video. Silakan klik di sini untuk melihatnya. Dan, berikut adalah transkripnya:

Ini bukan soal Ahok. Tapi soal kesetaraan hak seluruh warga negara Indonesia. Ahok terlalu receh untuk dibela mati-matian, dan terlalu kecil untuk didemo jutaan orang. Ahok juga bukanlah malaikat yang tak punya kesalahan. Juga bukan iblis yang tak pernah berbuat baik. Dia sama seperti kita manusia biasa. Yang punya sisi baik dan buruk.

Tapi harus kita akui, Ahok adalah simbol keberanian melawan budaya koruptif para pejabat kita. Ahok juga merupakan simbol kesetaraan. Setara dalam hal apapun, termasuk untuk menjadi pemimpin di negeri ini.

Karena berkat Ahok, kita mulai sadar, bahwa perjuangan menegakkan kesetaraan hak seluruh warga negara Indonesia, tak peduli apa agama, suku, dan rasnya, belumlah usai. Bahkan, baru saja dimulai.

Berkat Ahok pula, kita menjadi paham, bahwa memberantas budaya korup di negeri ini tidaklah mudah. Hanya orang-orang yang mempunyai keberanian luar biasa dan nyali yang besar yang mampu melakukannya.

Berkat Ahok, kita kembali terbangun dari tidur. Bahwa keberagaman yang menjadi kekuatan bangsa kita, sedang dirobek-robek oleh mereka, para politisi busuk, dengan cara menunggangi kaum intoleran agar bisa menjadi penguasa di bumi nusantara.

Berkat Ahok kita disadarkan, kalau perjuangan kita masih amatlah panjang.. Kita harus mempunyai semangat dan tekad yang kuat untuk memperjuangan gagasan kesetaraan dan keberagaman ini. Gusdur sudah memulainya. Dan kita tinggal melanjutkan perjuangannya.

Selamat ulang tahun Bapak Basuki Tjahaja Purnama yang ke--51.


*****

Usai membuat video itu, kami bergegas ke arah Utara. Menziarahi ulama Betawi. Yakni, Mbah Priuk. Di tengah perjalanan dari Masjid KH Hasyim Asy'ari ke Makam Mbah Priuk, kami melewati Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Kalijodo. Saya takjub. Karena tempat itu ramai bukan main. Menjadi tempat ibu-ibu untuk mengasuh putra-putri agar tak sembarang dalam bermain sehingga jauh dari pantauan. Anak-anak kecil terlihat berlarian. Ibu-ibu memegang mangkuk plastik berisi nasi dengan siraman kuah sayur. Ada juga yang berpakaian rapi. Seperti pengunjung dari luar kota.

Lagi, saya menemukan bahwa suasana lalulintas Ibukota dalam suasana lebaran sangat lengang. Dalam perjalanan itu, hanya sekali saya menemukan kepadatan di wilayah sekitar wisata Kota Tua. Setelahnya, sudah tidak ada lagi kemacetan. Lancar. Yakin saya, walau sudah tidak suasana lebaran, kemacetan di sekitar Makam Mbah Priuk, terminal dan pelabuhan Tanjung Priuk, dan Jl Cakung-Cilincing (Cacing) Jakarta Utara, lalulintas sudah tidak terlalu macet dan semrawut seperti beberapa tahun kemarin. Hal tersebut karena sudah berfungsinya jalan tol dari Tanjung Priuk, Cilincing, hingga Cakung.

Saat tiba di lokasi Gubah Al-Haddad, kami beristirahat sebentar. Sekitar 5-10 menit. Menikmati suara seorang habaib bersama jamaahnya sedang membaca maulid nabi. "Kayaknya suara kaset deh, tapi asik banget. Berasa di pesantren," batinku ketika itu. 

Kami berdua, kemudian, tahlilan di depan Makam Mbah Priuk beserta keluarganya. Mengirim doa dan sekaligus mengharap didoakan kembali. Memanjatkan doa dan harapan kepada Allah dengan melalui perantara (tawassul) orang saleh, akan mudah cepat sampai daripada tanpa perantara. "Sebagaimana ingin bertemu presiden, agar cepat sampai, kita mesti punya kenalan orang dalem," begitu anekdot yang sering dikelakarkan orang NU.

Prasasti peresmian Gubah Al-Haddad sebagai cagar budaya di bawah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Diresmikan oleh Gubernur Basuki Tjahaja Purnama pada 4 Maret 2017.

Pada 14 April 2010, dari layar kaca yang ada di salah satu warung kopi di Pondok Buntet Pesantren Cirebon, saya melihat lautan manusia pertikaian antara Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol-PP) dengan umat Islam; berpakaian putih-putih. Kedua kelompok itu sama-sama memperjuangkan kebenaran. Satpol-PP memperjuangkan kebenaran sekaligus menjalankan tugas dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta. Saat itu, Fauzi Bowo yang menjabat sebagai gubernur. 

Berita mengenai peristiwa berdarah itu, silakan anda googling sendiri. Karena saya, yang hanya menyaksikan dari layar kaca, merasakan betapa pedihnya umat Islam kala itu. Mereka memperjuangkan agar Makam Keramat Mbah Priuk jangan sampai digusur atau ditiadakan. Sementara Pemprov DKI, ketika itu, melakukan upaya propaganda dengan mengatakan bahwa di sana sudah tidak ada jasad Mbah Priuk. Pemprov DKI pun membuat buku tentang ketiadaan jasad Mbah Priuk di tempat yang saat ini dijadikan cagar budaya oleh Pak Ahok.

Kini, umat Islam Ahlussunnah Wal Jama'ah dapat berkunjung ke sana. Mengharap berkah dari orang saleh, berdoa kepada Allah dengan bertawassul kepada habaib dan ulama merupakan sakralitas yang mesti dilestarikan. Karena tanpa orang-orang saleh, kita tidak akan bisa sampai kepada Rasulullah dan Allah. Atas kebijakan Gubernur Basuki Tjahaja Purnama dengan meresmikan Gubah Al-Haddad sebagai cagar budaya, maka jelas "si penista agama" itu pro terhadap umat Islam, ulama, dan habaib.

Sekira jam setengah 6, usai membacakan tahlil, tahmid, takbir, dan berdoa, kami pulang. Memperingati hari lahir Pak Ahok dengan cara sederhana cukup menyenangkan, rupanya. Meski saya tahu, Pak Ahok tidak kenal saya dan Abang saya, Nisfu Syawaluddin Tsani. Dari Mako Brimob, Pak Ahok membalas ucapan, harapan, dan doa dengan cara yang juga sangat sederhana. Dia menulis kata-kata di secarik kertas.


Saya ambil dari akun Instagram @basukibtp

Dari tulisan di atas. Satu hal yang ingin saya sampaikan adalah bahwa orang-orang baik di mana pun, selalu berusaha dikalahkan oleh kekuatan jahat. Bung Karno, Bung Hatta, dan Tan Malaka, misalnya. Mereka semua berusaha berjuang agar Indonesia lebih bermartabat, tapi justru dikalahkan oleh kepentingan politik. Kemudian, yang perlu menjadi pelajaran penting Pak Ahok adalah dengan berusaha mengubah gaya bicara. Sebab, kalau tidak demikian, dia akan terus diserang dengan alasan yang seperti itu. 

Dan, seperti yang diutarakan Mpu Tantular dalam Kitab Sutasoma jauh-jauh hari, "Tan Hana Dharma Mangrwa", suatu saat Allah akan menunjukkan kebenaran yang sebenar-benarnya.

Dari tulisan ini pula, saya ucapkan selamat ulangtahun kepada Bang Sandiaga Uno pada sehari sebelum Pak Ahok ulangtahun.

Juga, salam rindu untuk Al-Mukarrom Al-Habib Muhammad Rizieq Shihab. Sebab orang saleh nan baik tidak akan gentar melawan apa pun yang berada di hadapannya. 

Ahok Hilang, Karya Terbilang. 



Wallahu A'lam



Bekasi, 30 Juni 2017



Aru Elgete
Warga Bekasi yang masih ber-KTP DKI Jakarta.