Kamis, 07 Juli 2016

Kembalilah, aku merindukanmu!



Pernah kita bersama
mengisi waktu dengan ceria
dengan jenaka cerita
tentang kemesraan kita

Saat itu,
erat dekap pelukanku
tak ingin saling pergi
dan waktu tetap pada inginnya
egois
ia berlari dengan sekuat tenaga
melenyapkan seluruh kemesraan
baru sekejap lenyap
dan rindu pun tertanam

tanpamu kini
aku menemukan bahagia
sama tapi semu
juga merangkai cerita
namun penuh derita
sebab rindu kian saja terpendam
tertanam dalam-dalam

duhai yang menyayangi
yang memberi  terang pada kegelapan
kau banyak dinanti
seperti primadona
gadis dalam majalah sampul
atau model bintang lima

semoga kita dipertemukan kembali
oleh penguasa cinta
di 1438
atau 2017
temu rindu denganmu
menjadi impian bersama
sebab karena indahmu
seluruhnya bahagia

Sayangku,
izinkanku melupakanmu sejenak
untuk hura-hura
menikmati kesenangan
merasakan kenikmatan
sampai waktuku tiba
menjemputmu dengan bercucuran dosa
sebab engkau pembersih
atau hingga iblis lelah menggoda
dan dirimu berhasil mengikatnya
aku suci lagi

Cintaku,
maafkan aku
aku ingin makan ketupat
sepuasnya
karena denganmu
walau mesra kurasa
terasa nyaman di dada
tetap saja lapar dahaga menerpa

Dan begitulah
gambaran manusia saat ini
dengan hura-hura
riya'
dan menciptakan citra
yang terkadang tak sama di nyata
sebab berada di dekatmu, duhai kasih
seperti meminum arak
tak sadarkan diri
hingga mabuk dan terkantuk-kantuk
hilang arah
dan tak dapatkan apa-apa
selain berharap pada raja semesta
agar kita kembali bersama
sembari teriak di telinga malam
"kembalilah, aku merindukanmu!"


Begitu kan?



Bekasi, 2 Syawal 1437


Aru Elgete 

Selasa, 05 Juli 2016

Waspada Provokasi Media Massa berkonten sampah!



Lagi, kejahatan kemanusiaan kembali terulang. Kali ini lebih berani dan membuat seluruh umat Islam di dunia terperanjat tak percaya. Bagaimana tidak, tempat suci yang dijaga kesuciannya itu menjadi objek aksi bom bunuh diri. Yakni, di Negara Rasulullah, Arab Saudi. Bom meledak di tiga tempat, Madinah; Qatif; dan Jeddah.

Dengan adanya kejadian ini, kita tidak bisa langsung seketika itu menuding dan mendakwa si ini atau itu yang melakukan perbuatan keji tersebut. Perlu adanya cek & ricek atas seluruh berita yang kita konsumsi mengenai peristiwa memalukan itu. Sebab pemboman di kompleks Masjid Nabawi dan dua tempat lainnya itu sangat bersifat sensitif ketika menjadi sebuah kajian atau pembahasan yang tidak secara mendalam.

Benarkah kejadian bom bunuh diri itu ada kaitannya dengan berita yang dilansir oleh kriminalitas.com (Klik: Kampanye ISIS, 'Ramadhan Bulannya Membunuh' dinilai sukses) beberapa waktu yang lalu, sebelum terjadinya bom di Negara Arab tersebut? Atau, mungkinkah pelaku merupakan seorang warga negara yang tidak suka dengan kepemimpinan Raja Saudi yang sekarang? Atau justru, mungkinkah, pelaku adalah umat non-Muslim yang memang tidak suka dengan Islam (ala Arab)?

Siapa pun pelakunya, harus kita kecam. Merekalah penebar ketakutan dan kerusakan dan sudah sepantasnya disebut sebagai teroris. Karena teroris tidak beragama, teroris tidak berkemanusiaan, maka tidak ada labelisasi atas keagamaan apa pun terhadap teroris, sekalipun yang menjadi acuan dari aksinya adalah ayat-ayat yang ada di dalam kitab suci. Karena perilakunya mengotori kemanusiaan dan keagamaan yang juga banyak tertera dalam kitab suci.

Saudaraku, yang harus kita benci dan kecam adalah pelakunya, aksinya, perbuatannya, bukan latar belakang agamanya, suku, atau yang lainnya. Momentum Hari Raya Idul Fitri yang jatuh pada besok, 6 Juli 2016, janganlah ternodai oleh kebencian dan kedengkian, seperti halnya kita terprovokasi ketika setahun yang lalu bom meledak di Tolikara.

Hati-Hati dengan pemberitaan sampah media massa yang bertebaran di linimasa sosial media kita. Sekali lagi saya imbau, agar kesucian hari nan fitri tidak ternoda, kita mesti waspada dengan media massa berkonten sampah.

Dengan ini, saya ucapkan terimakasih. Selamat merayakan Hari Raya Idul Fitri 1437 Hijriyah, Mohon Maaf Lahir dan Batin.

Wallahu A'lam...

Senin, 04 Juli 2016

Menyikapi Ahok dan Takbir Keliling di Jakarta


Menjelang Lebaran Idul Fitri 1437 Hijriyah, banyak berita yang mengabarkan bahwa Ahok, Gubernur DKI yang Kafir itu, melarang umat Islam untuk merayakan takbir (kemenangan) dengan mengelilingi Ibukota. Pasalnya, tradisi takbir keliling itu sudah menjadi budaya dan tradisi sebagian besar warga Jakarta. Lantas, bagaimana langkah kita untuk menyikapi kedua hal itu (Ahok dan larangan takbir keliling)?

Ayyuhal Muslimin Hafidzhokumullah...
Sebelum menilai atau menyikapi kebijakan Ahok, mari jernihkan hati dari keruhnya rasa benci dan dengki. Jangan mendahulukan nafsu amarah, padahal di dalam diri juga ada nafsu Muthmainnah yang harus dikelola, agar senantiasa damai dan jernih dalam melihat fenomena kehidupan yang serba dinamis.

Euforia dan selebrasi atas kemenangan kita selama sebulan penuh itu, pantaskah dirayakan dengan gemuruh yang berlebihan? Pantaskah kita melantunkan kesucian kalimat Takbir, Tahlil, dan Tahmid, yang justru berpotensi melahirkan kerusuhan? Riuhnya suara kembang api dan petasan mewarnai pelafalan kalimat Allah Yang Mahatinggi, sementara membakar petasan dan kembang api berarti merusak alam, merusak ayat Kauniah-Nya, pantaskah kita merayakan kemenangan kita dengan selebrasi yang berlebihan seperti itu?

Ma'asyirol muslimin Rahimakumullah...
Jangan samakan perayaan Tahun Baru Masehi dengan Takbir Keliling, karena keduanya sangat berbeda. Jangan samakan kesucian Ilahi dengan perayaan yang sama sekali tidak merepresentasikan kesucian dan sakralitas esensi ketuhanan. Bagaimana mungkin kita samakan perayaan Takbir Keliling dengan Tahun Baru Masehi, sementara pada malam tahun baru kemarin, kita mengecam dan menolak perayaan itu. Penolakan dan pengecaman perayaan tahun baru Masehi itu dilakukan dengan memberi pemahaman kepada generasi Islam, betul begitu?

Jangan juga samakan perayaan Cap Go Meh dengan Takbir Keliling. Karena keduanya juga sangat berbeda. Takbir Keliling berarti selebrasi ketuhanan, sementara Cap Go Meh adalah perayaan tradisi warga Tionghoa. Di dalam perayaan Takbir Keliling, melibatkan Allah dalam teriakkan dan pekikan suara manusia, sementara kalimat Allah adalah sakral dan mengandung kesucian, dan apakah kita benar-benar mensucikan kalimat Allah itu? Bagaimana jika perayaan Takbir Keliling justru dirayakan dengan pesta minuman keras dan berujung pada tindak anarkisme? Lalu, bolehkah Takbir Keliling tetap dilakukan?

Pembaca yang Budiman...
Takbir Keliling memang sudah membudaya dan menjadi tradisi bagi sebagian besar umat Islam di seluruh Indonesia. Mereka merayakan dengan keliling kampung dan membawa obor sembari bertakbir sesuka hati sebagai tanda kepasrahan kepada Allah. Sebab hakekat pelafalan Takbir adalah perasaan tunduk dan pasrah kita terhadap keesaan Ilahi, bukan ditujukan untuk aksi saling jago, apalagi membuat kerusuhan dengan mengatasnamakan Allah. Itu tentu tidak dibenarkan.

Barangkali, yang Ahok larang adalah perayaan Takbir Keliling secara berlebihan sehingga berpotensi menimbulkan kerusakan dan kerusuhan di malam yang suci itu. Mungkin juga kebijakan Ahok yang seperti itu sejalan dengan sikap Allah, yakni Innallaha Laa Yuhibbul Musrifuun, bahwa Allah tidak suka dengan orang-orang yang berlebihan. Baik berlebihan dalam proses perayaan Takbir Keliling, maupun berlebihan dalam menyikapi kebijakan Ahok.

Ahok sebagai pemimpin daerah, hanya menginginkan daerah yang dipimpinnya menjadi aman dan tenteram tanpa sama sekali menyinggung atau menghina apalagi mendiskriminasi agama tertentu. Menurut hemat saya, antara politik dan agama jangan dicampuradukkan karena tidak akan pernah ditemukan titik temu. Karena kesucian agama tidak bisa dikotori oleh kebinatangan politik yang kotor. Maka, ketika melihat Ahok sebagai pemimpin daerah, jangan disikapi dengan istilah penistaan atau penghinaan terhadap agama.

Bapak, Ibu, teman-teman, dan adik-adik pembaca yang saya hormati...
Daripada pusing memikirkan kebijakan Ahok soal Takbir Keliling itu, lebih baik mari kita rayakan kemenangan ini dengan bertakbir di Masjid dan Musala terdekat. Karena hanya di rumah-Nya kita dapat menyatukan diri sehingga terjaga dari sikap saling menyalahkan dan ingin benar sendiri.

Sekian dan terimakasih. Wallahu A'lam...