Selasa, 02 Februari 2016

Agenda Tahunan Orang Indonesia

Sudah menjadi rahasia umum, barangkali, bahwa umat manusia di Indonesia memiliki agenda tahunan untuk membicarakan sesuatu yang itu-itu saja. Umat manusia di Indonesia memang unik, apa pun bisa menjadi bahan obrolan yang kadang mengasyikkan, kadang menjengkelkan. Ada yang argumentatif, ada juga yang kalau bicara selalu "katanya-katanya", dan akhirnya terjadilah logical fallacy atau pikirannya menjadi buntu alias sesat.
Agenda rutin di akhir tahun lalu ada Hari Raya Natal Kanjeng Nabi Yesus yang berdekatan dengan Maulid Kanjeng Nabi Muhammad, dan Tahun Baru Masehi. Semua ramai mempermasalahkan ketiga hari besar itu. Ada yang merayakan dengan gembira, ada juga yang tidak merayakan dengan alasan tertentu sembari mencibir orang-orang yang merayakan. Tapi toh, merayakan atau tidak merayakan, dirayakan atau tidak dirayakan, kita pasti melewati hari besar itu dan sebagai manusia yang menjadi khalifah di bumi, kita tetap dituntut untuk senantiasa berbuat baik. Kasian, yang ngotot-ngototan berusaha melarang dan mencibir, barangkali pahalanya luntur atau dosanya tak terkikis, sia-sia.
Jadi, aku tidak terlalu mempermasalahkan hal itu. Bagiku, Tuhan tak pernah melarang selama perbuatan yang dilakukan adalah hal baik dan bermanfaat bagi segenap umat manusia, khususnya di Indonesia. Menjadi sesuatu yang sangat disesalkan ketika perdebatan itu justru menambah tebal kandungan racun kebodohan di otak kita, dan berdampak pada peradaban bangsa Indonesia yang justru mundur. Bahkan, bukan tidak mungkin, bangsa lain bisa tertawa melihat kelakuan bangsa kita yang selalu punya agenda tahunan hanya untuk berdebat yang itu-itu saja. Lucu deh negeri ini.
Di awal-awal tahun ini, seperti biasa, kita dipertemukan dengan tiga hal; Hujan, Imlek, dan Valentine. Hujan dengan Imlek memang menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan, hujan yang kian hari semakin deras justru membawa keberuntungan, bagi warga penganut ajaran Kanjeng Nabi Konfusius khususnya. Karena Nabi Konfusius tidak termaktub dalam kitab suci secara harfiyah, maka ajaran Konghucu dianggap mengada-ada dan mengucapkan selamat kepada hal yang kebenarannya diragukan, katanya sih haram. Mengucapkan selamat haram, menerima angpao sih tetep halal, menikmati libur Imlek ya Puji Tuhan.
Sedangkan Valentine yang diyakini sebagai hari kasih sayang bermuara pada cerita cinta yang oleh sebagian besar umat manusia dilabeli dengan cap perzinaan, jadi haramlah kalau dirayakan. Jangankan merayakan saudara, mengucapkan selamat saja sudah haram, merayakan dengan hal-hal positif pun diyakini sebagai tindakan yang haram.
Pengharaman itu menggunakan dalil dan argumentasi keagamaan. Menjadi asik ketika yang menyampaikan dalil itu argumentatif dalam penyampaiannya, menjadi geli ketika dalil itu justru untuk menyerang umat manusia yang dengan bahagia merayakan dengan hal-hal yang positif, dengan kata lain jauh dari perbuatan zina. Sama halnya ketika Imlek, dalil keagamaan menjadi alat untuk menyerang orang-orang yang ikut membantu dalam perayaan.
Padahal Imlek itu sama sekali bukan perayaan keagamaan, melainkan perayaan adat atau kebudayaan. Apa pun agamanya, asal ada keturunan Tiongkok dan percaya dengan ajaran Kanjeng Nabi Konfusius boleh merayakan. Karena Imlek itu serupa acara atau adat kebudayaan untuk mengusir jin, setan, atau hal-hal yang buruk. Silakan cari referensinya sendiri-sendiri ya.
Begitu pun Valentine, sama sekali bukan upacara keagamaan. Itu produk budaya. Kebetulan saja yang menjadi pelaku muasalnya adalah orang yang beragama, kemudian karena menurut sebagian besar orang, cintanya Si Valentino itu luar biasa dahsyat,  akhirnya hari dan tanggal kematiannya diperingati sebagai Hari Valentine atau Hari Kasih Sayang.
Jadi, ada yang beranggapan, termasuk diriku, kalau kita merayakan Hari Valentine dengan hal-hal yang positif dan jauh dari segala sesuatu yang mendekati zina, silakan. Tapi dengan catatan, merayakannya tidak dimaksudkan untuk melanggengkan perzinaan itu, melainkan diniatkan untuk mengubah keburukan (perzinaan) menjadi kebaikan. Namun, ada juga sebagian lagi yang beranggapan, haram untuk segala sesuatu yang berbau Valentine, baik mengucapkan selamat apalagi merayakannya.
Mengucapkan Selamat Hari Raya Imlek juga tidak menjadi masalah, karena dengan mengucapkan kata "selamat", kita berdoa atas nama kemanusiaan, semoga dalam perayaannya teman-teman Tionghoa diberi kelancaran tanpa suatu kendala apa pun. Kata "selamat" itu pun semoga membawa rezeki, mendapat angpao beserta isinya senilai lima puluh ribu, misalnya. Lumayan untuk membeli paket data. Hihihihhi.
Kira-kira itu, agenda tahunan orang Indonesia yang selalu menjadi perdebatan yang tidak jelas juntrungannya.

Senin, 01 Februari 2016

Begini caraku berpikir

Ada beberapa hal yang membuatku tergelitik, ini tentang dinamika kehidupan manusia. Silih berganti saling mengganti, apa pun itu. Menjadi benci karena dicaci, bertambah cinta karena puja-puji yang membabi-buta, atau menjadi buta karena menanti puja-puji. Sungguh, aku tak bermaksud menilai manusia, bukan juga maksudku bersesat pikir dalam sudut pandangku. Aku justru ingin mengajak pembaca berpikir kritis, bahwa segala penilaian yang didapat dari orang lain bukan hal yang bersifat abadi, itu hanya sementara, manusia selalu menjadi makhluk yang bimbang karena pola pikir dan sudut pandangnya.
Manusia -sebut saja kita- seringkali menilai manusia lain hanya berdasar satu sisi, padahal Gusti Pangeran Ingkang Mboten Sare itu memberi banyak kelebihan di dalam diri manusia, dan tak terkecuali pula, ada kekurangannya. Misteri soal pemberian-Nya untuk manusia itu, menurutku, karena Dia menginginkan manusia mempergunakan akal dan pikirannya, bahwa di dunia ini manusia tidak sama sekali selalu keliru, juga tidak sama sekali selalu tepat. Bahwa sekeliru apa pun manusia dalam kehidupannya, pasti teriringi oleh ketepatan, yang sadar atau tidak keduanya selalu ngintili dalam keseharian.
Seingatku, aku tidak pernah menilai seseorang dan sebuah kelompok sangat buruk dan tidak mungkin bisa menjadi baik, sekalipun mayoritas di sekelilingku menilai keduanya dengan penilaian yang sangat tidak baik dan tidak mungkin bisa menjadi baik. Aku juga tak pernah menilai sebuah kelompok atau seseorang sangat baik dan tidak mungkin bisa menjadi buruk, sekalipun mayoritas di sekelilingku menilai keduanya dengan penilaian yang sangat tidak buruk dan tidak mungkin bisa menjadi buruk.
Masih soal penilaianku, bahwa aku tak pernah menyatakan keburukan dengan seburuk-buruknya tanpa sebelumnya mendapati hal yang pasti dari yang menjadi objek penilaianku. Aku juga tak pernah menyatakan kebaikan dengan sebaik-baiknya tanpa sebelumnya mendapati hal yang pasti dari yang bersangkutan. Karena aku masih meyakini bahwa tiada yang tepat sama sekali dan tak pernah ada yang selalu keliru dalam hidupnya.
Bagiku, setiap hal yang berkesesuaian dengan hati dan pikiranku merupakan hal yang tepat, meskipun ketepatan itu kudapati dari seorang atau kelompok yang selama ini menurut penilaianku dan konco-koncoku adalah seorang atau kelompok yang banyak kelirunya. Aku tak pernah memiliki rasa gengsi untuk mengapresiasi ketepatan itu. Pun sebaliknya. Ketika hati dan pikiranku menemui suatu hal yang menurutku keliru, meskipun kekeliruan itu kudapati dari seorang atau kelompok yang selama ini menurut penilaianku dan kroni-kroniku adalah seorang atau kelompok yang banyak tepatnya. Aku tak segan-segan menegur dan memberinya tamparan, agar sadar bahwa ia sedang dalam kekeliruan.
Eling lan Waspodo adalah nasihat yang paling sering memekakkan telingaku. Kedua orang tuaku selalu mengingatkan kedua nasihat itu hampir acapkali langkah kakiku bergegas melakukan aktivitas. Bahwa kita harus selalu Eling atau mengingat Gusti Pangeran dalam setiap detak nafas dan derap langkah, bahwa Dia yang menciptakan segala sesuatu di dunia ini beserta segala dinamika yang dengan sistematika Mahadahsyat-Nya. Waspodo atau hati-hati juga harus ada dalam diri, sebab gerak manusia tak dapat diterka; yang baik bisa tiba-tiba menjadi buruk, yang buruk bisa seketika berubah baik. Menurut kedua orang tuaku, gunakan akal dan pikiran untuk menilai dan melihat manusia lain serta gunakan hati dan rasa serta segala penghayatan dalam menghamba pada Gusti Pangeran Ingkang Murbeng Dumadi.
Belakangan ini, aku sering mendengar pemberitaan klasik yang barangkali sampai kehidupan baru dimulai (katakanlah kiamat, karena kiamat sejatinya justru awal kebaikan dan kehidupan yang baru, bukan akhir dari segalanya dan kehidupan telah berakhir) masih akan terus terjadi. Dari tulisan ini, aku ingin mengusik akal dan pikiran pembaca agar tak melulu racun kepicikan terus berkembang dalam otak dan menyebabkan akal dan pikiran menjadi sakit.
Sebenarnya ada beberapa hal yang ingin kubahas, namun dalam kesempatan kali ini, satu hal yang menjadi pertanyaanku, apa yang terlintas dalam benak anda ketika LGBT kusebut? Jijik, menolak, takut, mencoba untuk memberi solusi, menjauhi, atau yang lainnya? Terserah anda.
Pendapatku soal LGBT begini: Pertama, aku sama sekali tidak takut akan terpengaruh atau bahkan menjadi serupa ketika temanku sendiri ternyata homoseksual (Lesbian atau Gay) atau Biseks dan bahkan yang mengubah jenis dan bentuk kelaminnya. Kedua, aku tetap memandang bahwa LGBT bukan sebuah ketersesatan atau penyimpangan, bahkan sebuah kenistaan, sebab mereka hanya memiliki orientasi seks yang berbeda. Ketiga, aku tidak pernah tahu bagaimana hati mereka sebenarnya, mungkin saja mereka menolak dengan keadaan seperti itu, namun hanya bisa membatin karena mereka tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkannya kepada orang lain yang "normal" untuk mencari solusi, dan pada akhirnya mereka membuat komunitas sendiri. Keempat, kalau pun hal tersebut adalah sebuah ketersesatan, penyimpangan, bahkan kenistaan, bagiku mereka merupakan ladang dakwahku. Tak perlu dijauhi, dimusuhi, dibenci, bahkan diberangus karena ketersesatannya. Lha wong tersesat kok gak diberi tahu jalannya. Dan kelima, ketika mereka malu karena orientasi seksual yang berbeda dengan sebagaimana pada umumnya, barangkali mereka tidak sama sekali berpacaran, tapi justru mereka lebih mendekatkan diri kepada Sang Pencipta dan menghamba dengan rasa seutuhnya serta dibarengi dengan pengabdiannya pada kemanusiaan. Bukankah itu baik? Urusan diterima atau tidaknya amal kebaikan yang dikerjakan, dan segala penghambaan dengan Sang Pemilik Semesta, sama sekali bukan urusan kita sebagai manusia. Biar mereka sendiri yang mempertanggungjawabkannya di kehidupan yang baru nanti. Begitu pun ketika LGBT melakukan hal yang tidak baik dan abai terhadap Penciptanya, itu juga bukan urusan kita untuk menghakimi, peringatkan saja tapi jangan berlebihan, sisanya biar Tuhan yang menjadi hakim.
Bukankah Dia adalah hakim yang seadil-adilnya? Bukankah Dia tidak membeda-bedakan hamba-Nya kecuali hanya berdasar pada tingkat dan kadar ketaqwaan? Bukankah Dia memerintahkan kita untuk menjadi seorang yang selalu mengingatkan dalam ketepatan, bukan menjadi seorang diktator atau penguasa?
Namun dengan begitu, penilaianku terhadap LGBT tidak langsung tepat atau tidak pernah keliru. Perilaku LGBT yang menurutku keliru tetap membuatku meradang dan segera memberi peringatan, aku juga akan selalu mengapresiasi perilaku LGBT yang menurutku tepat. Seperti pernyataan sikapku terhadap LGBT yang sudah dijelaskan di atas, itu merupakan pandanganku terhadap LGBT yang selama ini dipandang dan dilihat buruk dan sama sekali tidak pernah ada baiknya. Sementara aku, tetap berpegang teguh bahwa di dunia ini tidak ada manusia yang bisa seumur hidupnya selalu tepat atau tidak pernah keliru, dan sebaliknya.
Keterkaitan LGBT saat ini dengan kisah kaumnya Nabi Luth tentu tidak bisa menjadi alasan anda menjadi seorang pembenci dan menjauhi LGBT. Kaum Shodom pada jaman Nabi Luth dikenai hukuman langsung dari Tuhan karena zaman sebelum Kanjeng Nabi Muhammad memang seperti itu adanya. Mari kita buka literatur tentang Kanjeng Nabi Muhammad yang sangat sayang kepada ummatnya sehingga beliau meminta keringanan hukuman dari Tuhan ketika ummatnya berbuat kekeliruan.
Untuk lebih lanjut membicarakan soal penilaian terhadap sesuatu dengan menggunakan akal dan pikiran yang sehat serta hati yang lapang, atau membicarakan hal mengenai LGBT, silakan agendakan waktu untuk kopdar.
Sekian.

Kamis, 28 Januari 2016

Surat terbuka untukmu

Kepada Yth.
Ny. Aru Elgete yang terkasih
di
Kedalaman cinta
Semoga senantiasa kau diberi sehat oleh Gusti Pangeran, sehat jiwa dan pikirmu, sehingga dapat menjalani lakon kawula dengan baik rupa. Semoga semesta memberi kebaikan dalam sukma kita.
Sebelum inti dari segala olah pikirku dalam keseharian tentangmu tertumpah dalam surat terbuka ini, ada sedikit hal yang ingin tertuah; Bagaimana kalau dua anak manusia berpisah hanya karena rapuh digerogoti oleh ego? Padahal cinta datang tanpa diminta, tak berbayang oleh apa-apa, kata-kata yang mengiringi datangnya cinta sekalipun, akan tak bermakna ketika ego telah merasuk ke setiap penjuru tubuhmu.
Aku mencintamu dengan tanpa tedeng aling-aling, meski beragam tuduhan silih berganti tidak pernah berhenti meracuni. Selama ini tak sadarkah kau bahwa keberadaan kita dalam kesengsaraan justru menjadi benteng terkuat yang seharusnya ada. Kita belajar bersama tentang segala hal; kadang kau yang kuberi pemahaman dan tak jarang pula diriku yang kau beri pemahaman lewat laku dan gayamu bicara.
Saranku, tak perlu kau racuni dirimu dengan ego yang sama halnya dengan tuduhan-tuduhan itu. Dia, mereka, atau siapa pun yang menjadi pengalangmu untuk maju, hadapi saja dan jangan sampai terdengar suara rengekanmu oleh mereka-mereka itu yang sedang memberi asupan racun mematikan.
Butakan matamu dari pandangan-pandangan yang membuatmu hancur. Buat telingamu tuli dari deru hasutan setan. Kau juga perlu menjaga ucapan dari segala sesuatu yang kurang enak didengar. Atau, karena saat ini merupakan era digital, jaga jari-jarimu dari menyakiti orang lain, meskipun ada rasa bahwa justru orang lain itu yang menyakitimu. Bahkan yang terpenting dari itu adalah kuasai hatimu dengan alunan perasaan yang lembut, juga beri pelajaran untuk hatimu agar tak sembarang mengumpat dengan kutukan yang tak lazim.
Untuk hal-hal yang membuatmu sebal, kesal, dan jengkel yang kian menebal, tutup segala akses dari segala sesuatu yang menyebalkan itu sebagaimana acara-acara pengajian di kota-kota yang sering menutup akses pengguna jalan dan membuat para pengguna jalan itu kelimpungan mencari jalan lain untuk kembali pulang.
Nyonya Aru Elgete yang terkasih dan semoga diberi kasih oleh Gusti Pangeran, perbanyaklah membaca dengan cinta, membaca cinta, atau biarkan cintamu yang akan membaca setiap derap langkah hidup yang sedang kau jalani. Hapus dan tutup segala akses yang membuatmu merasa terganggu. Biar kau dibilang sombong, asal tak menjadi songong atau seperti engkong-engkong yang giginya sudah ompong, mendengar tak terdengar, bicara tak tertata.
Mari belajar menjadi sejati, belajar menjadi berarti, belajar menjadi seorang yang tak pernah punya benci, belajar menjadi perempuan yang senantiasa menebar kebaikan dengan cinta, sebab kedengkian dan segala kebencian akan musnah ketika kau tetap menebar cinta di mana pun bumi kau pijak.
Maaf dengan segala khilafku, dengan segala kealpaanku, dengan seluruh ketiadaanku, dengan segala hal yang sama sekali bukan karena salahku atau salahmu, maafkan mereka, maafkan segala kebencian, maafkan segala hal yang membuat jiwamu termakan ego dan hatimu menjadi tempat berkumpul racun saling tuduh. Karena cinta akan semakin tumbuh subur, ketika semakin dilumpuhkan. Hati-hati, sebab cinta terkadang tak menjadi yang sesungguhnya, tetapi menjelma dan mewujud seperti racun yang akan menghancurkanmu; itulah yang kusebut dengan ego.
Kasih yang terkasih dan semoga diberi kasih oleh Gusti Pangeran, ketahuilah bahwa kecintaanmu pada cinta, akan melumpuhkan segala kebencianmu pada segala yang kau benci. Mari, perkuat yakinmu bahwa masih ada cinta tersisa, dan kalau masih ada dengki dalam jiwamu, kembali kepada cinta, di sana adalah tempatmu menemukan kedamaian jiwa.
Demikianlah surat terbuka ini kubuat atas dasar cinta. Semoga kita kembali kepada cinta dengan keadaan penuh cinta. Atas perhatianmu, kuucapkan terimakasih.
Bahwa sesungguhnya cinta ini kepunyaan cinta dan akan kembali kepada pemiliknya; cinta.