Minggu, 22 Mei 2016

Ya Allah, sesatkan aku!




Banyak yang menuduhku sudah keluar dari jalur agama sebab pernyataan-pernyataan yang tidak pada koridornya. Mereka mendakwa diriku bodoh, karena membaca literatur yang tidak biasa. Namun, aku justru menikmati kesesatan itu.

Bagiku, kritik tajam terhadap mereka yang berbeda itu bukan berarti diri ini anti-agama atau bahkan anti-Tuhan. Aku mencintai Tuhan, sangat menjaga keintiman cinta itu saban malam datang menghampiri. Sekalipun caraku mencumbu Tuhan, barangkali berbeda dengan yang mereka lakukan.

Mereka yang gemar mendakwa sesat kepadaku bukan berarti menjadikanku berkecil hati. Justru sebaliknya, aku lebih mantap mencinta dan bercinta dengan keintiman yang lebih dahsyat dengan Tuhan.

Sebab menurutku, mencintai Tuhan tidak selalu harus sama dan cenderung normatif bahkan monoton. Aku punya cara sendiri untuk melakukan hubungan kemesraan dengan Dia Yang Mahacinta.

Tuhan itu satu, hanya Dia pemegang kebenaran yang absolut, sementara manusia selalu dalam kesesatan dan kebodohan agar terus mencari kebenaran yang satu-satunya itu.

Nah, di malam Nisfu Sya'ban ini, aku mendoa agar diri senantiasa di dalam kesesatan dan kebodohan; supaya selalu mengucap 'Ihdinashshirothol mustaqim' dan diberi kesempatan untuk terus belajar. Sebab kalau sudah tak sesat dan pintar, maka tidak diwajibkan lagi untuk ibadah shalat dan mohon ditunjukkan ke jalan yang lurus oleh Allah, atau kewajiban mencari ilmu berarti gugur.

Ya Allah, sesatkan aku, bodohkan aku; agar  selalu mencari kebenaran dan kecerdasan yg Engkau beri. Jangan kau jadikan diriku yang hina ini sebagai manusia yang merasa pintar dan tidak sesat, karena kalau begitu, kita tak dapat lagi bercinta selayaknya malam ini aku pada-Mu.

Allah, Tuhanku, biarkan aku tetap dalam kebodohan dan kesesatan, sebab hanya Engkau yang tidak sesat dan paling pintar. Rabbi, duhai Pendidik, berikanku jalan untuk dapat menggapai kecerdasan dan kebenaran yang berada dalam genggaman-Mu.

Aku akan terus menyebut Ihdinashshirothol Mustaqim dalam sholat dan keseharianku, hingga diri ini menyatu dengan Dzat-Mu. Karena yakinku, setiap manusia pasti berada dalam kesesatan dan tidak ada yang memegang kunci kebenaran versi-Mu yang absolut itu. Maka, aku lebih memilih untuk tetap dalam kesesatan dan kebodohan, agar hubungan cinta kita tetap terjaga.

Senin, 09 Mei 2016

Di Suriah bukan perang Sunni-Syiah!




Oleh: Ahmad Zainul Muttaqin.


Tulisan ini sudah pernah saya posting di akun pribadi saya beberapa bulan lalu dan sudah dimuat beberapa media online. Fakta-fakta ini sudah berkali-kali saya katakan sejak 4,5 tahun lalu, dan saya tidak akan pernah bosan untuk terus mengatakannya. Berikut fakta-faktanya:

  1. Pemerintah Suriah tidak pernah membantai Sunni. Hasil pemilu presiden Suriah yang diawasi lembaga-lembaga independen Juni 2014 kemarin, Assad terpilih kembali dengan perolehan 88.7% suara rakyat. Sedangkan kaum Sunni itu mayoritas (74%) di Suriah. Artinya, mayoritas mutlak rakyat Suriah yang Sunni dan apapun latarnya masih mencintai Assad. Itu yang selalu ditutupi media-media Takfiri. Jika Assad adalah pembantai Sunni, mungkinkah mayoritas rakyatnya yang Sunni tersebut memilih dia?
  2. Satu lagi propaganda murahan yang menyebut rezim Suriah adalah Syi'ah. Faktanya, Mayoritas kabinet pemerintahan di Suriah diisi oleh orang-orang Sunni. Jabatan-jabatan penting seperti Wakil Presiden, Wakil Presiden 1, Perdana Menteri, Deputi Perdana Menteri, Menteri Luar Negeri, Menteri Informasi, Menteri Dalam Negeri, Menteri Pendidikan dan lainnya diisi orang-orang Sunni. Grand Mufti resmi Suriah Syaikh Ahmad Badruddin Hassun pun seorang ulama besar Sunni. Bahkan istri Bashar yaitu Asma al Assad adalah seorang muslimah Sunni dari Homs. Ini semua adalah fakta-fakta yang selalu ditutupi media-media radikal tanah air.
  3. Dan (lagi) fakta yang selalu ditutupi mereka, para pemberontak di Suriah mayoritas bukanlah rakyat Suriah, tapi para militan takfiri asing yang datang dari 83 negara (termasuk Indonesia), korban cuci otak sektarian yang ramai-ramai menginvasi Suriah dengan kedok "jihad". Bahkan situs SOHR (Syrian Observatory for Human Rights) yang berafiliasi dengan oposisi pun mengakui > 70% militan yang memberontak di Suriah adalah para militan asing/jihadis impor (bukan rakyat Suriah).
  4. Fitnah-fitnah Assad membantai Sunni baru disebar 5 tahun yang lalu, tepatnya sejak invasi puluhan ribu militan takfiri asing ke Suriah. Faktanya, sebelum itu tidak pernah terdengar isu-isu tersebut. Bashar al Assad sudah berkuasa sejak tahun 2000 dan sampai hari ini Sunni masih mayoritas di Suriah (74%). Kalau benar Assad membantai dan menggenosida kaum Sunni Suriah, seharusnya Sunni di Suriah sudah habis, karena dia sudah berkuasa 16 tahun. Kenyataannya sampai hari ini Sunni masih mayoritas di Suriah. Apa masih percaya dengan isu murahan tersebut?
  5. Pada 2009, Qatar mengajukan proposal agar Assad melegalkan jalur pipa gas alamnya melintasi Suriah dan Turki untuk menuju Eropa. Bashar al Assad menolak proposal ini, dan pada 2011 ia justru menjalin kerjasama dengan Iraq dan Iran untuk membangun jalur pipa ke Timur. Qatar, Saudi, dan Turki adalah pihak yang paling sakit hati dan dirugikan oleh keputusan ini. Khayalan mereka untuk mendapat pemasukan Milyaran dollar dari ekspor Migas buyar seketika. Apa kalian terkejut jika hari ini Saudi, Qatar, dan Turki menjadi negara-negara yang paling getol mensponsori dan mempersenjatai para teroris yang hendak menggulingkan Assad?
  6. Kenapa USA dan NATO juga sangat berambisi menggulingkan Assad? Karena mereka dan ketiga negara tersebut adalah sekutu dan mitra bisnis utama. Keputusan Assad akan menguatkan posisi Iran secara ekonomi maupun politis dalam pasar tambang Migas di Timur Tengah dan mengecilkan pengaruh USA dan sekutunya. Apa USA rela? Mimpi!!
  7. Sejak perang Arab-Israel pada 1948 hingga perang edisi ketiga pada 1967, Suriah tidak pernah absen dalam mengirim pasukan militernya melawan Zionis. Suriah bersama Mesir, Iraq, dan Jordan saat itu (1967) mengirim 547.000 pasukan melawan Zionis di Sinai dan Golan. Bahkan ketika negara-negara Arab sudah berdamai dengan Israel, Suriah adalah satu-satunya Rezim Arab yang hingga kini tidak bersedia menandatangani perjanjian damai dengan Israel. Hingga perang Suriah dan Israel terus berlanjut pada Yom Kippur 1973 atas pendudukan Israel di Golan. Hingga hari ini PBB harus menurunkan pasukan perdamaiannya di Golan dan menetapkan sebagian wilayah tersebut sebagai zona netral.
  8. Suriah hingga hari ini adalah penampung terbesar pengungsi Palestina di Timur Tengah. Jutaan pengungsi Palestina telah diterima dengan tangan terbuka oleh Pemerintah Suriah sejak 1948 di kamp-kamp pengungsi Yarmouk, Neirab, Handarat, Aleppo, dll. Mereka diberi fasilitas Sekolah, Rumah Sakit dll layaknya warga sendiri. Bahkan Assad pun dijuluki sebagai Bapak Pengungsi Palestina. Mereka beranak pinak di Suriah hingga hari ini. Dan tidak mengejutkan jika para pejuang Palestina dari PFLP-GC di Yarmouk (cabang PFLP yang bermarkas di Gaza) dan Brigade al Quds (sayap militer Jihad Islam Palestina di Gaza) sejak awal konflik mengabdi pada Suriah dan bergabung dengan Tentara Arab Suriah melawan para teroris.
  9. Sebuah strategi militer baru telah dimulai di Suriah. Hal ini mengubah Suriah selama 15 tahun terakhir kepada kekuatan militer yang akan mengancam Israel, khususnya pada tingkat pengembangan roket dan persenjataan militer yang lain. Israel melihat ini sebagai ancaman besar. Roket-roket Khaibar M-302 buatan Suriah telah membantu Hizbullah dalam perang 2006 melawan Israel di Lebanon Selatan untuk menghujani Haifa dan kota-kota lain di Israel. Bahkan roket-roket yang sama juga telah digunakan para pejuang Muqawwamah Palestina seperti Hamas, Jihad Islam dan PFLP di Gaza yang membuat pertama kalinya dalam sejarah 1,5 juta Zionis masuk ke dalam bunker perlindungan bom. Suriah bukan hanya gerbang atau jembatan transportasi dan komunikasi antara pejuang Muqawwamah dan Iran, tapi Suriah adalah adalah pendukung nyata pejuang-pejuang resistensi di Lebanon dan Palestina. Suriah adalah bagian vital dalam perjuangan melawan Zionis!
  10. Setelah Hamas diusir dari Jordania pada 1999, di saat negara-negara arab mengucilkan dan mengabaikan Hamas. Suriah membuka tangannya dan menyediakan ibukota negaranya untuk menjadi markas Hamas. Bashar al Assad membangunkan kantor pusat Hamas di Damaskus pada 2001. Melalui markas ini, Suriah rutin berkoordinasi menjalin cara menyuplai persenjataan kepada kelompok-kelompok Muqawwamah di Gaza, tidak hanya Hamas. Sebutkan jika Saudi, Turki dan Qatar pernah menyuplai senjata atau sebutir saja peluru untuk pejuang Palestina?
  11. Mundur ke belakang kita bicara Libya. Di Libya bahkan tidak ada yang namanya Syi'ah, tapi nyatanya terjadi perang selama 4 tahun di sana. Para pemberontak takfiri bekerjasama dengan NATO dan USA akhirnya berhasil membunuh pemimpin Sunni, Muammar Qaddafi, secara keji. Masih ingat kan saat itu media-media radikal macam Arrahmah, voa-islam dll menggelari Qaddafi sebagai Toghut, Fir'aun dll dan perjuangan mereka demi menegakkan Khilafah. Khilafah apa yang sudah tegak? Apa anda tidak belajar dari pola permainan seperti ini?



Sumber: Klik di sini

Minggu, 08 Mei 2016

Nasihat KH. Hasyim Muzadi untuk HTI




  1. Rabu, 4 Mei 2016 pkl 12.00 s.d. 14.15 Pimpinan Pusat Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) berkunjung ke kediaman KH. Ahmad Hasyim Muzadi, di Pesantren Al-Hikam Depok, untuk mendiskusikan masalah keagamaan dan kebangsaan.
  2. Disampaikan kepada HTI hendaknya jangan ada sedikit pun keinginan serta tema perjuangan seperti "Penegakkan Khilafah" atau "tidak setuju NKRI dan Pancasila" yang terkesan HTI akan membuat negara baru. Sebenarnya HTI cukup mengisi Indonesia dengan Syari'at Islam Rahmatan Lil 'Alamin, bukan membuat negara Indonesia Baru.
  3. Dengan membuat tema negara baru, HTI sama artinya dengan mempersenjatai musuh Islam (islamophobia) untuk menggunakan kekuasaan negara Indonesia guna menyerang HTI dan juga Islam.
  4. Pancasila telah diterima Kaum Muslimin Indonesia melalui proses panjang (kurang lebih 40 tahun). Maka, jangan dipersoalkan lagi. Hal itu dimulai dari perjuangan bersenjata: DI/TII, Permesta/PRRI, perjuangan konstitusional melalui konstituante, sampai NU menjadi partai politik dan bergabung dengan PPP. Semuanya tidak ada yang cocok dan akhirnya pada 1984 menetapkan Pancasila sebagai asas negara serta Islam Ahlussunnah Wal Jama'ah sebagai ideologi NU sebagaimana tertera dalam Khittoh NU. Hendaknya proses panjang ini tidak dicederai.
  5. NU dan GP Ansor jangan menyelesaikan masalah HTI dengan cara kekerasan, karena terkesan NU dan Ansor mendiamkan timbulnya PKI di Indonesia yang di lain sisi ganas kepada sesama muslim. Saya yakin PKI jauh lebih berbahaya dari HTI, baik ukuran agama maupun negara. Bahkan, bisa terkesan pengalihan masalah dari PKI ke HTI.
  6. Penyelesaian HTI yang dilakukan NU dan GP Ansor hendaknya dimulai dengan musyawarah agar NU dapat menjadi pemimpin umat Islam Indonesia. Semoga imbauan saya didengar HTI. Tidak perlu khilafah, terimalah NKRI dan Pancasila.
  7. NU dan Ansor jangan terkecoh kepada Islamophobia.




*disadur dari facebook Ali M. Abdillah

Kamis, 21 April 2016

Surat untuk Raden Adjeng Kartini





Kepada Yth,
RA Kartini binti KH Madirono
di
Singgasanamu

Assalamu'alaikum wa Rahmatullah wa Barakatuh...

Ibu Kartini yang kuhormati, semoga tetap dalam lindungan Tuhan di sana. Aku juga mengharap ketulusanmu untuk mendoa, agar perempuan Indonesia saat ini tidak selalu melihat ke atas karena kepintaran dan kekayaannya. Namun, senantiasa melihat ke bawah karena keinginannya untuk memperbaiki keadaan bangsa.

Dari kisah tentangmu yang kutahu, baik dari tulisan maupun lisan, seluruhnya sepakat bahwa dirimu terlahir dari keluarga kelas atas. Kau lahir di dalam ruang yang penuh keributan karena pelarangan pendidikan bagi perempuan.

Saat itu, penjajahan masih kuat. Sehingga, banyak pelarangan dan penindasan terhadap kebebasan perempuan. Selain itu, sistem feodalisme Manusia Jawa masih sangat kentara. Sekiranya dua hal itu yang menjadi perlawananmu.

Engkau berdarah Jawa. Awalnya aku mengira tak Islami. Rupanya, kau juga memiliki visi dan tujuan meneguhkan Islam Rahmatan Lil 'Alamin ala Indonesia kepada seluruh dunia. Agama yang ramah, bukan marah.

Engkau pernah mengirim surat berupa pembelaan terhadap risalah yang dibawa Kanjeng Nabi Muhammad itu kepada keluarga Abendanon yang menganggap Islam demikian tak baiknya.

Ibu Kartini yang kubanggakan, pasti kau menangis kalau melihat keadaan negeri saat ini. Terlebih, perempuan yang sudah diberi kebebasan untuk berpendidikan, tapi lebih memilih untuk mencari uang dengan jalan instan, bahkan hina.

Bu, aku sering melihat perempuan yang seperti itu. Mereka rela menjual dirinya hanya karena ingin meniru gaya Eropa dan kebarat-baratan. Sementara diriku, tak punya kuasa untuk memberi pemahaman soal pendidikan kepada mereka; sebab Hak Asasi Manusia katanya.

Perempuan saat ini selalu ingin merasa nyaman. Namun dengan proses yang sebentar, di tengah keterpurukan hidup yang kian menumpuk. Sementara kau yang sudah hidup nyaman di keluarga darah biru itu, justru memilih ketidaknyamanan demi martabat dan harkat perempuan-perempuan setelahmu.

Bu, izinkan aku menjadi penerusmu. Aku bersumpah tidak akan tinggal diam ketika harkat dan martabat perempuan, bangsa, dan agamaku dihina.

Di zaman yang sudah bebas ini, berkat kerja kerasmu melawan feodalisme yang mengakar di Tanah Jawa, perempuan kini sudah bisa memilih hidupnya sendiri; termasuk pendidikan.

Kalau pun perempuan saat ini tak mampu belajar dan berpendidikan tinggi karena keterbatasan biaya, aku dan perempuan-perempuan penerusmu yang lainnya akan turun langsung memberi sedikit pengetahuan yang kumiliki.

Yakinku, perempuan yang meneladanimu dengan penuh kearifan akan turut gelisah melihat keadaan saat ini. Perempuan seperti menjadi boneka para mucikari atas iming-iming harta dan kekayaan. Masih banyak lagi hal yang menjijikkan; seperti perempuan yang berhasil ditiduri si bejat wakil rakyat dan para pejabat.

Bu, menurutku, pendidikan adalah penunjang kekayaan. Tak perlu mengejar kekayaan dengan meniadakan keberadaan ilmu pengetahuan di otak dan pemikiran.

Siapa pun yang berhasil mencapai kekayaan karena keikhlasannya dalam mencari ilmu pengetahuan, tidak akan pernah merasa jemawa dan menganggap dirinya paling tinggi. Namun justru melihat ke bawah untuk memperbaiki keadaan.

Bu, terimakasih banyak atas keteladanan yang kau beri. Sampaikan salamku untuk Yang Mahakuasa agar aku selalu diberi kekuatan untuk melawan keburukan. Juga, penindasan dan ketertindasan perempuan.

Demikian surat ini ditulis atas kegelisahan melihat perempuan saat ini serta ketidakmampuanku melawan keadaan yang seperti itu. Aku mohon restu, agar dimudahkan dalam upaya membela harkat dan menjunjung tinggi martabat perempuan, bangsa, dan agama. Atas perhatian Ibu (Raden Adjeng) Kartini, diucapkan terimakasih.

Wassalamu'alaikum wa Rahmatullah wa Barakatuh.

Rabu, 20 April 2016

Surat R.A. Kartini untuk Perempuan Indonesia




Kepada Yth.
Seluruh Perempuan Indonesia
di
Tempat

Assalamu'alaikum wa Rahmatullah wa Barakatuh, salam sejahtera bagi kita semua, semoga derap langkah kita menuju kebaikan selalu mendapat Berkah dan Karunia dari Tuhan.

Dari tempatku saat ini, aku melihat perempuan Indonesia tak lagi seperti dulu. Kalian, perempuan yang saat ini masih ada di Bumi Pertiwi, lebih asyik menghabiskan waktu di pusat perbelanjaan atau di tempat makan ala Amerika dan Eropa, sementara lupa bagaimana aku berjuang untuk kemerdekaan yang saat ini kalian rasakan.

Aku khawatir dengan tingkah laku perempuan saat ini, atau barangkali kalian justru tidak mengenalku dan bahkan sama sekali tidak memahami kepribadianku, benar begitu?

Aku jarang mendengar suara perempuan yang kritis, yang berani menentang penindasan dan ketertindasan, demi sebuah kebenaran yang menjadi perjuanganku tempo dulu.

Di hari kelahiranku, kalian hanya bisa memperingati dengan sesuatu yang sifatnya simbolik dan formalistik, tidak substantif.

Aku tidak butuh gambarku dipasang di akun media sosial milik kalian, dan sosok pribadiku hanya menjadi perbincangan di seminar atau diskusi.

Aku butuh kalian yang aplikatif; menjadi penerusku, memperjuangkan kesetaraan, melawan ketimpangan peran di ruang publik yang didominasi kaum Adam, tidak diam ketika melihat dan mendengar pelecehan seksual atau diskriminasi terhadap perempuan, dan lain sebagainya.

Emansipasi yang kuajarkan tidak berarti menjadikan perempuan bisa semena-mena terhadap lelaki. Sesuatu yang kalian harus lawan adalah perilaku lelaki yang durjana, yang tak mengindahkan perempuan untuk bisa berperan aktif, dan yang menjadikan perempuan hanya sebagai objek bukan subjek.

Perempuan dan laki-laki memang memiliki kodratnya masing-masing, tidak bisa dipertukarkan. Tapi perempuan berkemampuan untuk bisa menjadi lebih. Mereka, kaum lelaki, hampir tidak bisa mengerjakan pekerjaannya di ruang privat dan ruang publik secara bersamaan. Tidak seperti perempuan, yang bisa mengerjakan pekerjaan di ruang publik sembari mengasuh anak agar tidak kelaparan dan kesepian.

Perempuan, harus segera pergi ke ruang privat setelah kepentingannya di ruang publik selesai. Sementara lelaki, hampir tidak memiliki ruang privat. Sekalipun punya, mereka lebih bersikap abai dan tak peduli.

Perempuan penerusku yang emansipatoris, aku tak butuh wacana dan kepintaran kalian dalam beretorika atau pemikiranmu teoritik. Pesanku, tetap hormati lelaki sebagai perwujudan pengkodratan Ilahi untuk kita, hargai lelaki sebagai sesama manusia; jangan semena-mena dan tidak santun dalam berperilaku. Satu lagi, tunjukkan bahwa kalian memiliki kemampuan yang lebih dari lelaki, dan lawan ketidakadilan serta penindasan terhadap perempuan!

Kalau dengan fisik perempuan pasti kalah, maka lawan-lah dengan kepiawanmu memikat lelaki lalu menjeratnya dengan akal dan pikiran yang sebenarnya Tuhan beri lebih ketimbang lelaki.

Demikian surat ini kubuat, atas perhatian dari seluruh perempuan di Indonesia, kuucapkan terimakasih dan selamat berjuang!

Wassalamu'alaikum wa Rahmatullah wa Barakatuh.

Tulisan ini dibuat oleh Raden Adjeng Kartini dari singgasananya kini, atas kegelisahan karena melihat kelemahan dan ketidakmampuan perempuan untuk bersaing dengan lelaki, atau minimal melawan bentuk diskriminasi terhadap perempuan. Ia bilang "sudah tak kutemui lagi, perempuan yang rela mati demi memperjuangkan kebenaran dan pembebasan kemerdekaan".



Jumat, 15 April 2016

Iqro Bismirobbik sebagai kunci kesuksesan


Buntet Pesantren Cirebon banyak memberi pembelajaran yang tidak orang lain tahu, terlebih mereka yang belum menginjakkan kaki dan merebahkan raganya di sana.

Seminggu sudah, raga ini berpisah dari tanah keilmuan, dari rahim kebermanfaatan, dari ruang keberkahan, dan dari mihrab keagungan Tuhan serta dari sajadah kemasyarakatan dan kemanusiaan.

Saat itu, setelah dua tahun dipisahkan oleh jarak dan waktu, aku dipertemukan lagi bersama dengan lampias kerinduan yang tertumpahkan dan kembali memeluk erat tubuh keilmuan.

Aku yang datang dengan pengalaman di luar, tercemooh karena berbeda sekaligus mendapat stimulus untuk meneruskan perbedaan itu, pesan guruku hanya satu; status santri tidak pernah membekas, jiwa santri harus terpatri dalam diri pada keabadian.

Salah satu yang barangkali tak pernah terlupa adalah petuah guruku menyoal kunci untuk mencapai kesuksesan dan menggapai keniscayaan di masa depan; yakni, Iqro Bismirobbik.

Ayat pertama yang turun dalam Al-Quran itu harus selalu diingat agar tak pernah berhenti belajar, sembari merasa bahwa diri masih jauh dari kebenaran yang hakiki dan kecerdasan yang mumpuni.

Guruku bilang, 'Iqro' di dalam ayat itu merupakan kata kerja yang tidak membutuhkan objek, karena tidak ada penjelasan mengenai hal apa yang harus dibaca. Maka, 'Iqro' bisa diartikan secara luas; bukan hanya sekadar bacaan tertulis, tetapi segalanya yang tak terdapat dalam buku bacaan.

Seorang santri harus mampu membaca perkembangan zaman, supaya agama tak menjadi kaku agar berdakwah pun bisa dengan mudah diterima oleh kondisi masyarakat yang dinamis; begitu pesan guruku.

Dalam komunikasi misalnya, seorang komunikator harus pintar-pintar membaca dan memahami keadaan komunikan yang tentu beragam sikap dan perilaku, tujuannya agar terjadi komunikasi yang efektif.

Pun orang tua dalam mendidik anak; mereka wajib tak buta, sehingga kondisi di dalam keluarga tidak melulu dirundung konflik antara anak dan bapak,  dengan ibunya, atau dengan kakak dan adiknya.

Kita diberi kebebasan untuk membaca, apa dan bagaimana bahan bacaan atau cara membacanya. Asalkan, tidak melupakan peran Tuhan dalam pembacaan itu; maka dianjurkan untuk menyebut nama Tuhan setelah membaca. Atau, selalu mengingat Tuhan saat berlangsungnya pembacaan; Bismirobbik.

Terakhir, kata guruku, bacalah alam semesta karena sesungguhnya ilmu Tuhan tidak hanya berada pada tulisan di dalam kitab suci dan buku bacaan saja.

Namun dengan begitu, kita juga tidak diperkenankan untuk tidak membaca buku, dan dibebaskan pula agar tidak memberi batas perihal bahan bacaan.

Ketika sudah dapat membaca alam semesta dengan baik, maka bisa dipastikan kita juga mampu memberi pengaruh kepada setiap manusia, serta menganugerahi kebermanfaatan kita pada seluruh makhluk; baik di bumi, maupun yang ada di langit.

Jadi, sudahkah kita membaca lalu menyebut serta mengingat Tuhan Yang Maha Pemberi Ilmu Pengetahuan?


Billahi Sabili-l-haq Fastabiqu-l-khoirot.

Senin, 11 April 2016

Buntet Pesantren dan Identitas diri


Benar dugaanku, bahwa teramat banyak kisah yang harus tertumpahkan. Pun tak sedikit yang mengabarkan bagaimana Buntet bersikap setelah dua tahun tak bertemu.

Aku dan kakak kandung seperjuangan, mendapat banyak kritik dan pujian karena berani berbeda dari sebagian besar santri jebolan Pesantren Mbah Muqoyyim itu.

Kami dipuji atas pemikiran yang dianggap 'keluar jalur' serta mampu menerapkan gaya keislaman yang tidak kaku dan saklek ala pesantren salaf.

Seiring dengan itu, kritik juga menjadi hal yang memberi penjelasan atas gagasan kami yang selama ini sudah hampir tak sejalan dengan petuah para Ulama.

Untuk penyeimbang, ternyata kritik dan pujian datang secara bersamaan. Kami maknai itu sebagai sebuah kekhawatiran dari guru-guru di Buntet agar tak terlalu bablas dalam berpikir.

Mereka membebaskan untuk membaca apa pun yang harus dan perlu dibaca. Sebab 'iqro bismirobbik' menganjurkan seluruh umat manusia untuk membaca, apa pun bahan bacaannya.

Di ayat itu, tidak ada penjelasan atau pun perintah dan larangan sekaligus membatasi kita untuk membaca literatur yang satu, dan menolak literatur yang lain. Semuanya boleh dibaca dan dipelajari, asal harus dibarengi dengan menyebut nama Tuhan.

Sudah barang tentu, ketika membaca dan sebelum atau sesudahnya kita menyebut nama Tuhan, maka ilmu yang didapat akan menjadi keberkahan dan kebermanfaatan bagi masyarakat umum.

Walau begitu, bukan berarti kami melupakan jasa Buntet Pesantren Cirebon. Justru kami jadikan almamater ketika Aliyah itu sebagai benteng dan kedaulatan atas beragamnya ilmu pengetahuan dan cara pandang di luar sana.

Begitu melangkahkan kaki di tanah gelimang berkah itu, kami tetap meyakini diri sebagai santri yang harus takdzhim terhadap para Ulama dan guru terdahulu. 

Mereka dengan ikhlas mendidik dan sekaligus menanamkan identitas kesantrian yang berwatak lembut dan penyayang. Maka, kami tidak dengan serta merta jemawa atas keilmuan yang didapat di luar sana.

Dan ketika menginjakkan kaki di tanah Buntet; kami segan memakai atribut selain sarung, koko, dan peci hitam.

Menjadi percuma ilmu yang didapat dari pesantren Mbah Muqoyyim itu kalau diri merasa besar dan jemawa.

Bagi kami, atribut santri yang seperti itu adalah bentuk takdzhim kepada para guru dan Ulama.

Dari tiga guru yang kami temui, masing-masing memberi komentar dan tanggapan yang berbeda, tapi intinya tetap sama.

Pertama, bahwa Buntet itu dikenal dengan kanuragannya. Ada banyak amalan dan tirakat yang harus dilakoni santri agar tidak 'termakan' oleh penipu ulung di lingkungan masing-masing dan bisa berhindar dari marabahaya, atau minimal memperkecil kadar musibah yang datang.

Kedua, bahwa memiliki identitas diri itu penting. Seberapa jauh seseorang 'pergi', ia pasti akan 'kembali' pada tempat pertamanya berlabuh. Atau seberapa jauh pemikiran kami dianggap melenceng, saat berada di tempat keilmuan dan penuh keberkahan itu adalah tetap sebagai seorang santri.

Ketiga, bahwa membebaskan diri dari kebodohan dan keterpurukan juga harus dilakukan. Kami justru dilarang membatasi diri. Salah seorang guru menganjurkan agar membuka diri kepada apa dan siapa pun. Karena itu, Tuhan akan memberikan hidayah dan petunjuk-Nya. Membuka diri juga harus membentengi dan sudah memiliki kedaulatan atas pemahaman kebenaran sendiri. Artinya, kami harus mampu memberi pengaruh kepada yang lain, jangan justru menjadi objek yang dipengaruhi dan membuat kedaulatan diri hancur tak berbentuk.

Buntetku, kiranya ada maaf atas kealpaan selama ini. Terimakasih untuk pembentukan identitas yang telah kau beri.

Aku pulang dulu. Semoga tahun depan ada peningkatan keilmuan yang kian membanggakan. Jangan khawatir, bahwa ketersesatanku pada hakikatnya merupakan titik balik atas rasa bangga untukmu.

Takdzhimku untuk seluruh guru dan Ulama yang merelakan diri memberikan pemahaman agar santri dan muridnya tak terbawa arus modernisasi yang serba instant dan cepat saji.

Tegal Ekspress, 11 April 2016.

Jumat, 11 Maret 2016

Kalau Anti-Liberalisme, kenapa tidak anti-Arabisme atau Wahabisme?

Kalau Anti-Liberalisme, kenapa tidak anti-Arabisme atau Wahabisme?

Di beberapa kesempatan, saya sering sekali melihat aksi turun jalan yang dilakukan oleh teman-teman yang tergabung dalam komunitas #IndonesiaTanpaJIL. Mereka menolak liberalisasi agama, dan menganggap bahwa teman-teman JIL acapkali menista agama. Mereka berdalih bahwa Indonesia akan hancur ketika paham Liberalisme menguat.

Alih-alih menolak adanya paham Liberalisme dan Sekularisme, tanpa mereka sadari di dalam tubuh komunitas yang dianggap paling benar itu justru terkontaminasi oleh paham Arabisme atau Wahabisme. Seperti yang kita ketahui bahwa Wahabisme adalah sebuah paham atau gerakan yang dipelopori oleh Muhammad ibn Abdul Wahab yang ditolak mentah-mentah oleh sebagian besar ulama di dunia.

Pada kesempatan kali ini, saya tidak sedang mencibir gerakan #IndonesiaTanpaJIL. Anggaplah bahwa tulisan ini merupakan bentuk kasih sayang saya terhadap teman-teman #IndonesiaTanpaJIL, dan dijauhkan oleh rasa kebencian dan kedengkian. Saya tetap menghargai pemikiran dan gerakan-gerakan yang dilakukan oleh komunitas #IndonesiaTanpaJIL, sebab negara ini menjunjung tinggi kebebasan berekspresi atas pemikiran-pemikiran yang terdapat di setiap otak manusia.

Di dalam tulisan ini, saya sebagai Nahdliyyin, walau hanya secara kultural, tidak sedang membela JIL atau menolak gerakan #IndonesiaTanpaJIL. Sekalipun di beberapa hal saya setuju dengan pemikiran teman-teman JIL, namun ada juga beberapa hal yang tidak saya setujui. Begitupun dengan ITJ. Meskipun saya tidak setuju dengan beberapa argumentasi dari teman-teman ITJ, tapi ada beberapa hal yang saya setujui.

NU sebagai organisasi keagamaan di Indonesia, tegas dalam mempertahankan keindonesiaan dengan berdasar pada PBNU (Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, UUD 1945). Dengan begitu, dapat ditarik simpulan bahwa NU menolak paham Liberalisme dari Barat dan menolak gerakan Wahabisme dari Arab.

Namun bukan berarti NU gelap mata terhadap kedua komunitas yang kontroversial itu; JIL dan ITJ. Sebagai Nahdliyyin, yang sangat saya suka dengan keberadaan NU adalah selalu mengadopsi kebaikan dari kedua komunitas itu. Karena posisi NU yang moderat, maka sampai sekarang NU bisa tetap bertahan dan selalu eksis sebagai garda terdepan mempertahankan NKRI.

Nah, kembali ke ITJ. Teman-teman yang anti-JIL secara keseluruhan tanpa memilah mana yang baik dan buruk itu selalu saja gelap mata terhadap perbedaan pendapat. Ini mirip sekali seperti argumentasi yang terlontar dari seorang penggagas gerakan Wahabi. Saya tergelitik dengan salah satu argumentasi yang diungkapkan oleh teman-teman ITJ, "Pancasila dihina kau marah, tapi giliran Rasulullah dihina kau bilang, jangan marah! Sampeyan Muslim?"

Kalau teman-teman ITJ bisa bersikap dewasa, tentu ada beberapa hal yang harus saya tanggapi. Semoga teman-teman ITJ tidak gelap mata dengan saya. Sekali lagi, tulisan ini adalah sebuah bentuk kasih sayang saya terhadap teman-teman ITJ, tidak dengan kebencian apalagi kedengkian.

Sejak Muktamar NU di Banjarmasin tahun 1936, ulama-ulama NU sepakat bahwa Indonesia bukan Darul Harb dan bukan juga Darul Islam, tetapi Darussalam. Begitu pula dengan gagasan Soekarno-Hatta dan kawan-kawan yang menyatakan bahwa Indonesia bukan negara sekular dan juga bukan negara agama. Lalu bagaimana dengan penghinaan yang dilancarkan kepada Pancasila, sebagai ideologi final kenegaraan kita, dan penghinaan kepada Rasulullah, sebagai tokoh keteladanan Umat Islam yang menjadi mayoritas di Negeri ini?

Begini, Pancasila merupakan pengalaman bangsa Indonesia yang sudah ratusan tahun hidup di dalam jiwa setiap manusia Nusantara; jauh sebelum Indonesia merdeka secara politik. Kita harus tegas terhadap penghinaan yang ditujukan kepada Pancasila, namun tidak dibenarkan ketika ketegasan itu dibarengi dengan kedengkian apalagi tindak anarkis. Dan teman-teman ITJ, saya perhatikan seperti sudah termakan doktrin Hizbut Tahrir yang menyatakan bahwa Pancasila tidak penting. Itu yang pertama. Maka, dari sini, saya beranggapan bahwa ITJ sudah dirasuki oleh paham Wahabisme atau Arabisme yang berdampak pada sikap anti-Nasionalisme.

Kedua, soal Rasulullah yang dihina melalui karikatur-karikatur yang dibuat oleh orang Barat. Bagaimana seharusnya kita menyikapi? Sebagai pengiman Rasulullah sebagai utusan Allah yang selama ini terjaga, tentu kita merasa ada yang tidak beres ketika wajah beliau tergambarkan, padahal selama ini kita sendiri pun belum pernah melihat keaslian wajah beliau.

Kita berhak marah, berhak meradang. Tapi juga tidak dibenarkan ketika kita melakukan tindak anarkis dan aksi saling pentung. Kalau Rasulullah selama ini wajahnya tidak ditampakkan oleh Allah, maka siapa yang digambar oleh orang Barat itu? Rasulullah yang asli, yang benar-benar berasal dari suku Quraisy itu, yang pernah mendamaikan keragaman dengan piagam madinah kala itu, atau hanya interpretasi mereka saja terhadap Rasulullah? Saya yakin, bahwa tidak ada yang mengetahui persis wajah asli Rasulullah, termasuk orang Barat itu, kecuali Allah dan sahabat-sahabat beliau pada masanya.

Oleh karenanya, sebagai Nahdliyyin, saya ingin berada di posisi tengah. Moderat. Ummatan wasath. Atau yang dikatakan dalam al-Quran "laa syarqiyyah wa laa ghorbiyyah", tidak ekstrim kanan dan tidak ekstrim kiri. Bahwa saya tidak anti Liberal juga tidak anti Arab, yang saya tolak adalah paham Liberal dan Budaya Arab yang tidak sesuai dengan kebudayaan di Indonesia.

Teman-teman #IndonesiaTanpaJIL yang budiman, kalau kalian anti dengan Liberalisme, sebaikanya kalian introspeksi diri, adakah di dalam komunitas kalian yang menyusup dan menyebarkan paham Wahabisme dan anti-Nasionalisme? Kita Indonesia, harus terbebas dari paham Liberalisme dan Wahabisme!

Saya pun anti dengan Liberalisme. Tetapi saya meyakini bahwa ada unsur liberalitas dalam Islam. Islam yang saya yakini adalah Islam yang Liberated atau Liberation. Islam yang membebaskan belenggu kesengsaraan dan penyengsaraan, penindasan dan ketertindasan, serta belenggu kebodohan dan pembodohan. Kurang lebih, seperti itu yang diajarkan oleh Rasulullah.

Saya juga anti dengan Arabisme, tapi saya tetap mengimani bahwa ada unsur Arabitas dalam keislaman saya. Karena Rasulullah adalah orang Arab tulen. Saya juga anti terhadap paham Islamisme, tetapi saya tetap mengamini bahwa dalam keislaman kita, tetap ada unsur Islamitas.

Untuk teman-teman ITJ yang tidak suka dengan tulisan ini, silakan hubungi saya secara pribadi, dan atur waktu untuk ngopi bareng. Kalau anti-Liberalisme, kenapa tidak anti-Arabisme atau Wahabisme?

Wallahul muwafiq ilaa aqwamith-thoriq.

Selasa, 01 Maret 2016

Selamat Ulang Tahun; Kekasih!


Untuk Gian Tasya yang sedang berbahagia. Tersenyumlah dengan cinta.

Barangkali belum pernah kau temui sebelumnya makhluk sepertiku. Tak gelimang harta, juga tak gemilang rupa. Biasa saja. Entah karena semesta yang bersaksi, juga alam raya beri petisi, atau memang cinta yang saling mengisi, sehingga kita tetap terjaga dari liku terjal selama ini. Kebahagiaan dalam ketidakberdayaan, baik ruang mau pun waktu, menjadi sesuatu yang membatu; atau membuntu. Tapi semoga saja, jiwa tetap menyatu.

Segala kecurigaan dan kekhawatiran membuat varian persepsi semua insan. Hal-hal yang demikian, menurutku, justru membuat kita tak gentar. Kelakar demi kelakar cairkan atmosfer percintaan, sehingga tidak gempar sampai keluar. Sambil lalu, kita belajar mendewasa bersama. Banyak hal yang baru kita dapati,  ciptakan kisah teranyar yang mungkin sudah ada di Lauh al-Mahfudz.

Sering terlontar sebuah ungkapan bahwa kita harus berbeda dengan yang lain. Karena sering juga kuucapkan bahwa perbedaan adalah keniscayaan. Tak perlu dengki secara berlebih, termasuk iri yang membuih, karena kita memiliki jalan yang tak sama. Biar mereka bersenang dengan segala tipu daya dan kenikmatan yang Tuhan beri di dunia. Sementara kita menelaah beragam kejadian yang ada. Ribuan kata serta makna yang kau baca, biar menjadi bekal di hari tua.

Di dasawarsa kedua dalam hidupmu ini, aku tak mampu memberi sebagaimana lazimnya dua sejoli yang saling mencinta. Jalan kita masih tak kasat mata, ribuan kelok di depan muka, mau tidak mau harus ditempuh. Hanya beberapa harapan yang sangat sederhana, atau serupa sampah yang menjadi berharga ketika terdaur oleh mesin industri di kota-kota. Biar tertanam dalam doa, tergerus oleh tekad dan niat, terpatri di setiap degup jantungmu, teriring oleh derap langkah yang gagah, dan terembus selayak angin yang kau hirup.

Sayang, teruslah mendewasa. Belajar dari ketiadaan hari ini, agar tersengat semangat untuk tetap mengejar segala mimpi yang tanpa tepi. Hindari keadaan yang membuatmu mabuk tak sadarkan diri. Jadikan kesedihan sebagai pelindung dari iblis yang tawarkan segala kebahagiaan. Tempatkan dirimu sebaik yang kau mampu, di tengah riuhnya kepenatan dunia. Beri cinta pada setiap kebencian yang mengakar belukar. Tetap senyumi semesta, karena dengannya kita mencinta.

Selamat datang di gerbang pendewasaan. Semoga tenang hati dan pikiran. Nikmati tiap-tiap embus nestapa yang tak pernah alpa. Maafkan lemah dan ketidakberdayaan yang buatmu tak henti mengeluh. Kurangi kesah yang justru menjadikanmu rapuh. Silakan masuk di ruang kedewasaan. Semoga mimpi dan keinginan, bersama kita dapatkan. Jangan takut tak sama, sebab kita memang berbeda. Jangan henti membaca kata dan makna. Teruslah berjalan sampai ujung tak terhingga.

Selamat menikmati hidangan yang tersaji. Hanya ada beberapa sajian yang orang lain tak dapat mencicipi. Silakan lahap hingga kau tak mampu lagi bermimpi, mendapatkan hidangan yang sajiannya sederhana tapi bermakna; sebab pembacaanmu yang luar biasa.

Selamat Ulang Tahun; Kekasih.
Semoga hari ini, cepat terlupa. Karena masih ada hari-hari yang bisa membuatmu bahagia, tanpa menunggu satu hari yang dinanti-nanti. Jangan berkecil hati atas kepunyaan diri, sebab masih ada kepunyaanmu yang belum terdapati.

Aku menyayangimu dengan segala karunia, juga dengan segala keberkahan yang buatmu mulia. Sadari aku, kalau suatu nanti tak tepati janji; di ruang dan waktu tempat kita bertemu, atau di lorong pertemuan kita; tempat mencari arti dari pemaknaan yang kau baca.




Bekasi, 1 Maret 2016.



Aru Elgete;
Laki-laki yang sedia memberi arti, dari setiap peristiwa yang terjadi; bersamamu.


Minggu, 07 Februari 2016

Satukah jiwa-jiwa kita?


Satukan Jiwa-jiwa kita
Bangunlah dalam senasib serasa
Singkirkan luka hadirkan tawa
Menggapai semua cita
***

Barangkali masih ada dalam buah pikir kita selama ini, tentu rindu yang tak mampu terbantahkan. Ada suara tawa yang lepas; kala itu, canda menjadi kewajiban dalam setiap pembicararaan, serta tangis ketakutan malam itu buatku menjadi sosok yang pura-pura berani. Padahal kita sama, tak sedikit pun berbeda. Adalah waktu yang saat itu sudah lebih dulu menghuni ruang kecil jiwaku, yang menjadikanku terpaksa harus lebih besar dari lingkaran kebersamaan kita, dan dari lingkaran-lingkaran yang ada dalam lingkaran kebersamaan itu sendiri. Padahal kita sama, tak sedikit pun ada pembeda. Bahkan, pasti akan selalu teringat bahwa ketika itu, ada ikrar untuk mengokohkan keberadaan dan keberadaban kita, agar tak menjadi sembarang keesokan hari; Catur Prasetya namanya.

Adakah kegelisahan di kedalaman kalbu, bahwa bait-bait yang kita senandungkan malam itu merupakan sebuah jahitan agar jiwa-jiwa yang terlahir dari surga yang berbeda ini, akan tetap selalu rekat? Bahwa kita memang bergerak dalam langkah yang pasti tak sama diiringi dengan bersumpah bahwa kita akan berusaha mengindahkan langkah demi sebuah cita dan asa yang sama? Pernahkah kita gelisah untuk bersama membangun jiwa ini dalam perasaan yang sama; nasib dan rasa? Lalu bagaimana dengan janji kita untuk tetap berputar dalam kemilang warna dunia? Masihkah itu menjadi sesuatu yang patut digelisahkan, atau sekadar serpihan-serpihan serupa debu yang terpakai untuk tayammum; berguna hanya di saat kita membutuhkan? Apakah pose terbaik kita saat itu, sekadar menjadi penghias ruang tamu rumah kita saja? Ingatkah, ketika malam itu tangisku tumpah? Aku gelisah karena takut kebersamaan kita diracuni oleh perasaan yang tak pernah sesuai dengan bait-bait yang serupa wirid dalam ibadah itu. Bahwa kegelisahanku adalah yang pada hari ini sudah menjadi jawaban yang tepat dan mewujud dalam kenyataan, padahal sama sekali tak pernah ada harap dariku agar kegelisahanku itu mengemuka di depan mata.

Sudah hampir setengah dasawarsa momentum kebersamaan itu kita lewati, kini hanya menjadi sejarah laksana prasasti; ada bukti otentik, tapi hadirnya tiada. Bagaimana dengan jiwa-jiwa kita yang tak menyatu, yang berserak ditelan iblis bernama ego? Kupikir, kalau lingkaran kebersamaan itu kita beri nama keluarga, maka sudah tak perlu lagi ada amarah untuk seorang pemberi petuah. Sekalipun murka dalam keiblisan ego pada diri turut hadir, sangat mudah kita singkirkan; dengan kembali membuat lingkaran kebersamaan dari keberadaan dan keberadaban kita kala itu, dengan berdasar dan bersandar pada rindu yang tertanam indah di setiap tidur malam.

Kerinduanku kini menjadi cemeti yang pedih, saat kutahu kenyataan pahit mencambukkan dirinya dengan kekejaman yang sama sekali tidak pernah terpikir sebelumnya. Angan yang semula gandrung di pikiranku menjadi kandas, saat kemilang warna dunia sudah kelabu, tergerus oleh kedurjanaan yang pekat. Sadar pada dasar terbentuknya diri ini adalah karena kebersamaan yang diciptakan dengan keindahan estetika, bahkan gerimis pun bersaksi atas petikan gitar dan nyanyian yang melantur dari semestinya; kehangatan bukan saja tercipta karena ada api yang menyala-nyala di hadapan kita, tapi karena keberadaan kita yang dinaungi oleh maslahat rekat yang jauh dari muslihat jahat.

Aku tunggu di ruang kantung kebudayaan, untuk bersama menumpahkan rindu dalam gerak dan derap yang terterap. Kapan kita menjadi jiwa-jiwa yang satu, yang semula terpisah karena kita berasal dari surga yang berbeda?

Sekali lagi, masih kutunggu.

Selasa, 02 Februari 2016

LGBT dan Pemberitaan Indra Bekti

Beragam pendapat mengemuka ketika isu LGBT merambah masuk ke negeri tenteram nan damai ini. Banjir pakar laksana air bah di bumi pertiwi. Bicara ini-itu tanpa data yang dapat dipertanggungjawabkan. Tapi tak mengapa, freedom of speech sudah menjadi kesepakatan bersama asal tidak mengerucut kepada hatespeech atau ujaran kebencian. Agamawan dan rohaniwan berlomba-lomba mengeluarkan argumentasi keagamaan yang terdapat di kitab suci untuk menolak segala aktivitas LGBT di Indonesia. Aktivis HAM meradang dan menuntut negara agar segera memberi kebebasan untuk LGBT, minimal kebebasan untuk berkonsultasi agar hidupnya menjadi lebih baik.
Di kehidupan sosial, LGBT, yang dianggap mengalami penyimpangan seksual, menjadi momok yang sangat menakutkan dan menjijikan sehingga harus dijauhkan dari keseharian. Hal itu bisa saja membuat hidup kaum LGBT semakin terpuruk. Bagaimana tidak, jangankan mendapatkan solusi terbaik, untuk sekadar bergaul saja sudah tak diberi ruang gerak yang cukup. Pada akhirnya, LGBT tetap tidak memiliki daya untuk berkilah atas kemampuan yang dimiliki di tengah kondisi yang sulit, sebab sudah kadung diberi label yang negatif dan sangat menjijikan.
LGBT memang terasa asing di tanah khatulistiwa, akan menjadi pertentangan yang sulit dan perdebatan yang sangat panjang ketika LGBT dilegalkan oleh negara. Saya pun menolak kalau LGBT diberi pelegalan atas perbuatannya, namun saya berjuang untuk memberi kebebasan bagi LGBT menjadi pribadi yang lebih baik, tidak dikucilkan atau pun dianggap menjijikan, tapi diberi akses untuk berkonsultasi kepada siapa pun yang "normal", agar orientasi seksual yang berbeda dari dominasi mayoritas di Indonesia bahkan dunia, menjadi tidak terasa asing atau sangat menjijikan, bahkan menjadi orientasi seksual yang selazimnya.
Untuk menghadapi situasi seperti ini, masyarakat Indonesia seharusnya mampu bersikap dewasa. Menerima keberadaan kaum LGBT dengan lapang dada di kehidupan sosial, dengan maksud agar mengubah orientasi seksual yang dianggap menyimpang itu, bukan dengan maksud membiarkannya. Karena menurut hemat saya, semakin sesuatu itu dikekang, akan semakin kuatlah gerak untuk memberontak. Jadi bukan tidak mungkin, semakin LGBT tidak diberi kebebasan, mereka akan lebih kuat lagi dalam memberontak agar eksistensinya diakui oleh sosial.
Di tengah hiruk-pikuk soal LGBT, ada pemberitaan yang tidak kalah mengejutkan. Indra Bekti, seorang artis yang namanya sudah melambung tinggi, entah terjebak atau dijebak ke dalam persoalan LGBT, seakan membangun opini beragam di masyarakat. Pertama, opini yang terbangun dari pemberitaan tersebut adalah bahwa LGBT sudah di depan mata, dan harus segera diberangus karena tidak sesuai dengan norma susila atau pun norma sosial. Kedua, sebagai tuntutan kepada negara agar orientasi seksual yang dianggap menyimpang itu segera dilegalkan, sebab LGBT sudah di depan mata, dan lagipula banyak artis yang sudah masuk ke dalam kategori LGBT. Karena kalau tidak segera dilegalkan, "kaum penyimpang" itu akan selalu dianggap salah, dan anggapan-anggapan itu membuat mindset bahwa LGBT memang tidak bisa disembuhkan.
Walau begitu, saya tetap pada prinsip awal bahwa seburuk apa pun kaum LGBT, mereka tetap punya hak untuk berbuat kebaikan. Karena tidak mungkin selama hidupnya, seorang manusia selalu berada dalam keburukan, dan begitu juga sebaliknya. Orang-orang yang merasa lebih normal dari kaum LGBT juga punya hak atas kebaikan, mengubah sikap dan perilaku menjadi lebih baik atau memberi kesempatan kaum LGBT untuk bergaul dan bersosialiasi, bahkan berkonsultasi.
Saya tetap akan mengapresiasi perilaku LGBT yang baik di mata sosial, dan memberikan kesempatan untuk bergaul serta mencurahkan segala keluh kesahnya selama ini. Saya juga tetap meradang ketika kaum yang merasa lebih normal dari LGBT berbuat buruk di mata sosial. Asal tidak saling menganggu kenyamanan dan ketenteraman hidup yang lain, siapa pun berhak mendapatkan kemerdekaan dirinya di atas bumi.

Agenda Tahunan Orang Indonesia

Sudah menjadi rahasia umum, barangkali, bahwa umat manusia di Indonesia memiliki agenda tahunan untuk membicarakan sesuatu yang itu-itu saja. Umat manusia di Indonesia memang unik, apa pun bisa menjadi bahan obrolan yang kadang mengasyikkan, kadang menjengkelkan. Ada yang argumentatif, ada juga yang kalau bicara selalu "katanya-katanya", dan akhirnya terjadilah logical fallacy atau pikirannya menjadi buntu alias sesat.
Agenda rutin di akhir tahun lalu ada Hari Raya Natal Kanjeng Nabi Yesus yang berdekatan dengan Maulid Kanjeng Nabi Muhammad, dan Tahun Baru Masehi. Semua ramai mempermasalahkan ketiga hari besar itu. Ada yang merayakan dengan gembira, ada juga yang tidak merayakan dengan alasan tertentu sembari mencibir orang-orang yang merayakan. Tapi toh, merayakan atau tidak merayakan, dirayakan atau tidak dirayakan, kita pasti melewati hari besar itu dan sebagai manusia yang menjadi khalifah di bumi, kita tetap dituntut untuk senantiasa berbuat baik. Kasian, yang ngotot-ngototan berusaha melarang dan mencibir, barangkali pahalanya luntur atau dosanya tak terkikis, sia-sia.
Jadi, aku tidak terlalu mempermasalahkan hal itu. Bagiku, Tuhan tak pernah melarang selama perbuatan yang dilakukan adalah hal baik dan bermanfaat bagi segenap umat manusia, khususnya di Indonesia. Menjadi sesuatu yang sangat disesalkan ketika perdebatan itu justru menambah tebal kandungan racun kebodohan di otak kita, dan berdampak pada peradaban bangsa Indonesia yang justru mundur. Bahkan, bukan tidak mungkin, bangsa lain bisa tertawa melihat kelakuan bangsa kita yang selalu punya agenda tahunan hanya untuk berdebat yang itu-itu saja. Lucu deh negeri ini.
Di awal-awal tahun ini, seperti biasa, kita dipertemukan dengan tiga hal; Hujan, Imlek, dan Valentine. Hujan dengan Imlek memang menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan, hujan yang kian hari semakin deras justru membawa keberuntungan, bagi warga penganut ajaran Kanjeng Nabi Konfusius khususnya. Karena Nabi Konfusius tidak termaktub dalam kitab suci secara harfiyah, maka ajaran Konghucu dianggap mengada-ada dan mengucapkan selamat kepada hal yang kebenarannya diragukan, katanya sih haram. Mengucapkan selamat haram, menerima angpao sih tetep halal, menikmati libur Imlek ya Puji Tuhan.
Sedangkan Valentine yang diyakini sebagai hari kasih sayang bermuara pada cerita cinta yang oleh sebagian besar umat manusia dilabeli dengan cap perzinaan, jadi haramlah kalau dirayakan. Jangankan merayakan saudara, mengucapkan selamat saja sudah haram, merayakan dengan hal-hal positif pun diyakini sebagai tindakan yang haram.
Pengharaman itu menggunakan dalil dan argumentasi keagamaan. Menjadi asik ketika yang menyampaikan dalil itu argumentatif dalam penyampaiannya, menjadi geli ketika dalil itu justru untuk menyerang umat manusia yang dengan bahagia merayakan dengan hal-hal yang positif, dengan kata lain jauh dari perbuatan zina. Sama halnya ketika Imlek, dalil keagamaan menjadi alat untuk menyerang orang-orang yang ikut membantu dalam perayaan.
Padahal Imlek itu sama sekali bukan perayaan keagamaan, melainkan perayaan adat atau kebudayaan. Apa pun agamanya, asal ada keturunan Tiongkok dan percaya dengan ajaran Kanjeng Nabi Konfusius boleh merayakan. Karena Imlek itu serupa acara atau adat kebudayaan untuk mengusir jin, setan, atau hal-hal yang buruk. Silakan cari referensinya sendiri-sendiri ya.
Begitu pun Valentine, sama sekali bukan upacara keagamaan. Itu produk budaya. Kebetulan saja yang menjadi pelaku muasalnya adalah orang yang beragama, kemudian karena menurut sebagian besar orang, cintanya Si Valentino itu luar biasa dahsyat,  akhirnya hari dan tanggal kematiannya diperingati sebagai Hari Valentine atau Hari Kasih Sayang.
Jadi, ada yang beranggapan, termasuk diriku, kalau kita merayakan Hari Valentine dengan hal-hal yang positif dan jauh dari segala sesuatu yang mendekati zina, silakan. Tapi dengan catatan, merayakannya tidak dimaksudkan untuk melanggengkan perzinaan itu, melainkan diniatkan untuk mengubah keburukan (perzinaan) menjadi kebaikan. Namun, ada juga sebagian lagi yang beranggapan, haram untuk segala sesuatu yang berbau Valentine, baik mengucapkan selamat apalagi merayakannya.
Mengucapkan Selamat Hari Raya Imlek juga tidak menjadi masalah, karena dengan mengucapkan kata "selamat", kita berdoa atas nama kemanusiaan, semoga dalam perayaannya teman-teman Tionghoa diberi kelancaran tanpa suatu kendala apa pun. Kata "selamat" itu pun semoga membawa rezeki, mendapat angpao beserta isinya senilai lima puluh ribu, misalnya. Lumayan untuk membeli paket data. Hihihihhi.
Kira-kira itu, agenda tahunan orang Indonesia yang selalu menjadi perdebatan yang tidak jelas juntrungannya.

Senin, 01 Februari 2016

Begini caraku berpikir

Ada beberapa hal yang membuatku tergelitik, ini tentang dinamika kehidupan manusia. Silih berganti saling mengganti, apa pun itu. Menjadi benci karena dicaci, bertambah cinta karena puja-puji yang membabi-buta, atau menjadi buta karena menanti puja-puji. Sungguh, aku tak bermaksud menilai manusia, bukan juga maksudku bersesat pikir dalam sudut pandangku. Aku justru ingin mengajak pembaca berpikir kritis, bahwa segala penilaian yang didapat dari orang lain bukan hal yang bersifat abadi, itu hanya sementara, manusia selalu menjadi makhluk yang bimbang karena pola pikir dan sudut pandangnya.
Manusia -sebut saja kita- seringkali menilai manusia lain hanya berdasar satu sisi, padahal Gusti Pangeran Ingkang Mboten Sare itu memberi banyak kelebihan di dalam diri manusia, dan tak terkecuali pula, ada kekurangannya. Misteri soal pemberian-Nya untuk manusia itu, menurutku, karena Dia menginginkan manusia mempergunakan akal dan pikirannya, bahwa di dunia ini manusia tidak sama sekali selalu keliru, juga tidak sama sekali selalu tepat. Bahwa sekeliru apa pun manusia dalam kehidupannya, pasti teriringi oleh ketepatan, yang sadar atau tidak keduanya selalu ngintili dalam keseharian.
Seingatku, aku tidak pernah menilai seseorang dan sebuah kelompok sangat buruk dan tidak mungkin bisa menjadi baik, sekalipun mayoritas di sekelilingku menilai keduanya dengan penilaian yang sangat tidak baik dan tidak mungkin bisa menjadi baik. Aku juga tak pernah menilai sebuah kelompok atau seseorang sangat baik dan tidak mungkin bisa menjadi buruk, sekalipun mayoritas di sekelilingku menilai keduanya dengan penilaian yang sangat tidak buruk dan tidak mungkin bisa menjadi buruk.
Masih soal penilaianku, bahwa aku tak pernah menyatakan keburukan dengan seburuk-buruknya tanpa sebelumnya mendapati hal yang pasti dari yang menjadi objek penilaianku. Aku juga tak pernah menyatakan kebaikan dengan sebaik-baiknya tanpa sebelumnya mendapati hal yang pasti dari yang bersangkutan. Karena aku masih meyakini bahwa tiada yang tepat sama sekali dan tak pernah ada yang selalu keliru dalam hidupnya.
Bagiku, setiap hal yang berkesesuaian dengan hati dan pikiranku merupakan hal yang tepat, meskipun ketepatan itu kudapati dari seorang atau kelompok yang selama ini menurut penilaianku dan konco-koncoku adalah seorang atau kelompok yang banyak kelirunya. Aku tak pernah memiliki rasa gengsi untuk mengapresiasi ketepatan itu. Pun sebaliknya. Ketika hati dan pikiranku menemui suatu hal yang menurutku keliru, meskipun kekeliruan itu kudapati dari seorang atau kelompok yang selama ini menurut penilaianku dan kroni-kroniku adalah seorang atau kelompok yang banyak tepatnya. Aku tak segan-segan menegur dan memberinya tamparan, agar sadar bahwa ia sedang dalam kekeliruan.
Eling lan Waspodo adalah nasihat yang paling sering memekakkan telingaku. Kedua orang tuaku selalu mengingatkan kedua nasihat itu hampir acapkali langkah kakiku bergegas melakukan aktivitas. Bahwa kita harus selalu Eling atau mengingat Gusti Pangeran dalam setiap detak nafas dan derap langkah, bahwa Dia yang menciptakan segala sesuatu di dunia ini beserta segala dinamika yang dengan sistematika Mahadahsyat-Nya. Waspodo atau hati-hati juga harus ada dalam diri, sebab gerak manusia tak dapat diterka; yang baik bisa tiba-tiba menjadi buruk, yang buruk bisa seketika berubah baik. Menurut kedua orang tuaku, gunakan akal dan pikiran untuk menilai dan melihat manusia lain serta gunakan hati dan rasa serta segala penghayatan dalam menghamba pada Gusti Pangeran Ingkang Murbeng Dumadi.
Belakangan ini, aku sering mendengar pemberitaan klasik yang barangkali sampai kehidupan baru dimulai (katakanlah kiamat, karena kiamat sejatinya justru awal kebaikan dan kehidupan yang baru, bukan akhir dari segalanya dan kehidupan telah berakhir) masih akan terus terjadi. Dari tulisan ini, aku ingin mengusik akal dan pikiran pembaca agar tak melulu racun kepicikan terus berkembang dalam otak dan menyebabkan akal dan pikiran menjadi sakit.
Sebenarnya ada beberapa hal yang ingin kubahas, namun dalam kesempatan kali ini, satu hal yang menjadi pertanyaanku, apa yang terlintas dalam benak anda ketika LGBT kusebut? Jijik, menolak, takut, mencoba untuk memberi solusi, menjauhi, atau yang lainnya? Terserah anda.
Pendapatku soal LGBT begini: Pertama, aku sama sekali tidak takut akan terpengaruh atau bahkan menjadi serupa ketika temanku sendiri ternyata homoseksual (Lesbian atau Gay) atau Biseks dan bahkan yang mengubah jenis dan bentuk kelaminnya. Kedua, aku tetap memandang bahwa LGBT bukan sebuah ketersesatan atau penyimpangan, bahkan sebuah kenistaan, sebab mereka hanya memiliki orientasi seks yang berbeda. Ketiga, aku tidak pernah tahu bagaimana hati mereka sebenarnya, mungkin saja mereka menolak dengan keadaan seperti itu, namun hanya bisa membatin karena mereka tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkannya kepada orang lain yang "normal" untuk mencari solusi, dan pada akhirnya mereka membuat komunitas sendiri. Keempat, kalau pun hal tersebut adalah sebuah ketersesatan, penyimpangan, bahkan kenistaan, bagiku mereka merupakan ladang dakwahku. Tak perlu dijauhi, dimusuhi, dibenci, bahkan diberangus karena ketersesatannya. Lha wong tersesat kok gak diberi tahu jalannya. Dan kelima, ketika mereka malu karena orientasi seksual yang berbeda dengan sebagaimana pada umumnya, barangkali mereka tidak sama sekali berpacaran, tapi justru mereka lebih mendekatkan diri kepada Sang Pencipta dan menghamba dengan rasa seutuhnya serta dibarengi dengan pengabdiannya pada kemanusiaan. Bukankah itu baik? Urusan diterima atau tidaknya amal kebaikan yang dikerjakan, dan segala penghambaan dengan Sang Pemilik Semesta, sama sekali bukan urusan kita sebagai manusia. Biar mereka sendiri yang mempertanggungjawabkannya di kehidupan yang baru nanti. Begitu pun ketika LGBT melakukan hal yang tidak baik dan abai terhadap Penciptanya, itu juga bukan urusan kita untuk menghakimi, peringatkan saja tapi jangan berlebihan, sisanya biar Tuhan yang menjadi hakim.
Bukankah Dia adalah hakim yang seadil-adilnya? Bukankah Dia tidak membeda-bedakan hamba-Nya kecuali hanya berdasar pada tingkat dan kadar ketaqwaan? Bukankah Dia memerintahkan kita untuk menjadi seorang yang selalu mengingatkan dalam ketepatan, bukan menjadi seorang diktator atau penguasa?
Namun dengan begitu, penilaianku terhadap LGBT tidak langsung tepat atau tidak pernah keliru. Perilaku LGBT yang menurutku keliru tetap membuatku meradang dan segera memberi peringatan, aku juga akan selalu mengapresiasi perilaku LGBT yang menurutku tepat. Seperti pernyataan sikapku terhadap LGBT yang sudah dijelaskan di atas, itu merupakan pandanganku terhadap LGBT yang selama ini dipandang dan dilihat buruk dan sama sekali tidak pernah ada baiknya. Sementara aku, tetap berpegang teguh bahwa di dunia ini tidak ada manusia yang bisa seumur hidupnya selalu tepat atau tidak pernah keliru, dan sebaliknya.
Keterkaitan LGBT saat ini dengan kisah kaumnya Nabi Luth tentu tidak bisa menjadi alasan anda menjadi seorang pembenci dan menjauhi LGBT. Kaum Shodom pada jaman Nabi Luth dikenai hukuman langsung dari Tuhan karena zaman sebelum Kanjeng Nabi Muhammad memang seperti itu adanya. Mari kita buka literatur tentang Kanjeng Nabi Muhammad yang sangat sayang kepada ummatnya sehingga beliau meminta keringanan hukuman dari Tuhan ketika ummatnya berbuat kekeliruan.
Untuk lebih lanjut membicarakan soal penilaian terhadap sesuatu dengan menggunakan akal dan pikiran yang sehat serta hati yang lapang, atau membicarakan hal mengenai LGBT, silakan agendakan waktu untuk kopdar.
Sekian.

Kamis, 28 Januari 2016

Surat terbuka untukmu

Kepada Yth.
Ny. Aru Elgete yang terkasih
di
Kedalaman cinta
Semoga senantiasa kau diberi sehat oleh Gusti Pangeran, sehat jiwa dan pikirmu, sehingga dapat menjalani lakon kawula dengan baik rupa. Semoga semesta memberi kebaikan dalam sukma kita.
Sebelum inti dari segala olah pikirku dalam keseharian tentangmu tertumpah dalam surat terbuka ini, ada sedikit hal yang ingin tertuah; Bagaimana kalau dua anak manusia berpisah hanya karena rapuh digerogoti oleh ego? Padahal cinta datang tanpa diminta, tak berbayang oleh apa-apa, kata-kata yang mengiringi datangnya cinta sekalipun, akan tak bermakna ketika ego telah merasuk ke setiap penjuru tubuhmu.
Aku mencintamu dengan tanpa tedeng aling-aling, meski beragam tuduhan silih berganti tidak pernah berhenti meracuni. Selama ini tak sadarkah kau bahwa keberadaan kita dalam kesengsaraan justru menjadi benteng terkuat yang seharusnya ada. Kita belajar bersama tentang segala hal; kadang kau yang kuberi pemahaman dan tak jarang pula diriku yang kau beri pemahaman lewat laku dan gayamu bicara.
Saranku, tak perlu kau racuni dirimu dengan ego yang sama halnya dengan tuduhan-tuduhan itu. Dia, mereka, atau siapa pun yang menjadi pengalangmu untuk maju, hadapi saja dan jangan sampai terdengar suara rengekanmu oleh mereka-mereka itu yang sedang memberi asupan racun mematikan.
Butakan matamu dari pandangan-pandangan yang membuatmu hancur. Buat telingamu tuli dari deru hasutan setan. Kau juga perlu menjaga ucapan dari segala sesuatu yang kurang enak didengar. Atau, karena saat ini merupakan era digital, jaga jari-jarimu dari menyakiti orang lain, meskipun ada rasa bahwa justru orang lain itu yang menyakitimu. Bahkan yang terpenting dari itu adalah kuasai hatimu dengan alunan perasaan yang lembut, juga beri pelajaran untuk hatimu agar tak sembarang mengumpat dengan kutukan yang tak lazim.
Untuk hal-hal yang membuatmu sebal, kesal, dan jengkel yang kian menebal, tutup segala akses dari segala sesuatu yang menyebalkan itu sebagaimana acara-acara pengajian di kota-kota yang sering menutup akses pengguna jalan dan membuat para pengguna jalan itu kelimpungan mencari jalan lain untuk kembali pulang.
Nyonya Aru Elgete yang terkasih dan semoga diberi kasih oleh Gusti Pangeran, perbanyaklah membaca dengan cinta, membaca cinta, atau biarkan cintamu yang akan membaca setiap derap langkah hidup yang sedang kau jalani. Hapus dan tutup segala akses yang membuatmu merasa terganggu. Biar kau dibilang sombong, asal tak menjadi songong atau seperti engkong-engkong yang giginya sudah ompong, mendengar tak terdengar, bicara tak tertata.
Mari belajar menjadi sejati, belajar menjadi berarti, belajar menjadi seorang yang tak pernah punya benci, belajar menjadi perempuan yang senantiasa menebar kebaikan dengan cinta, sebab kedengkian dan segala kebencian akan musnah ketika kau tetap menebar cinta di mana pun bumi kau pijak.
Maaf dengan segala khilafku, dengan segala kealpaanku, dengan seluruh ketiadaanku, dengan segala hal yang sama sekali bukan karena salahku atau salahmu, maafkan mereka, maafkan segala kebencian, maafkan segala hal yang membuat jiwamu termakan ego dan hatimu menjadi tempat berkumpul racun saling tuduh. Karena cinta akan semakin tumbuh subur, ketika semakin dilumpuhkan. Hati-hati, sebab cinta terkadang tak menjadi yang sesungguhnya, tetapi menjelma dan mewujud seperti racun yang akan menghancurkanmu; itulah yang kusebut dengan ego.
Kasih yang terkasih dan semoga diberi kasih oleh Gusti Pangeran, ketahuilah bahwa kecintaanmu pada cinta, akan melumpuhkan segala kebencianmu pada segala yang kau benci. Mari, perkuat yakinmu bahwa masih ada cinta tersisa, dan kalau masih ada dengki dalam jiwamu, kembali kepada cinta, di sana adalah tempatmu menemukan kedamaian jiwa.
Demikianlah surat terbuka ini kubuat atas dasar cinta. Semoga kita kembali kepada cinta dengan keadaan penuh cinta. Atas perhatianmu, kuucapkan terimakasih.
Bahwa sesungguhnya cinta ini kepunyaan cinta dan akan kembali kepada pemiliknya; cinta.

Selasa, 05 Januari 2016

Hanya nasihat, Dik.

Hanya nasihat, Dik.
Dik, kuberi tahu kini
bahwa yang harus kau cari
adalah kerelaan diri
untuk memberi
lalu pasti kau ter-beri
Ada yang terbaca darimu
namun kini belum mengemuka
sila kau ramu dengan segala menu
agar rasa tak timbul terka
Dik, sudahi rasa itu
rasa itu
rasa itu
rasa itu
sebab bila tak seperti itu
kendala kunjung menamu
kau tak perlu ragu
Dik,
banyak hal kau mampu
hardikmu bukan memantik
Kalau masih juga kau ragu
temui Tuhan dalam termangu
atau,
anggap ragumu angin lalu
Dik,
satu inginku
agar kemanusiaan tetap terpatri
pada jiwa-jiwa harimu
kepada siapa pun yang mengganggu
Itu!
Bekasi, 5 Januari 2016

Surat Terbuka Denny Siregar untuk FPI

Surat Terbuka Denny Siregar untuk FPI
Kepada Yth.
Habib Rizieq yang saya cintai dan para FPI Fans Club
Sungguh saya tidak habis pikir apa yang anda dan FPI mau perlihatkan ? Kalian membawa2 nama Islam tapi kelakuan kalian sama sekali tidak menjadi rahmat bagi sekitarnya.
Apakah kalian ingin mencontoh Hezbullah di Lebanon atau Hamas di Palestina ? Kalau memang iya, mari saya tunjukkan faktanya.
Hezbullah di Lebanon begitu dicintai warganya. Dan catat, warga Lebanon itu separuhnya Kristen, bahkan Presidennya dari Kristen Maronit. Tapi mereka cinta kepada Hezbullah yang notabene adalah muslim, sama seperti organisasi kalian, bib.
Mengapa begitu ?
Karena mereka membela negaranya, bukan agamanya.
Mereka membela Lebanon dari serangan Israel dan juga ISIS. Bahkan karena melihat begitu tulusnya Hezbullah, banyak warga Kristen yang bergabung bersama mereka. Bayangkan, Kristen bergabung di panji Muslim. Pernah anda bayangkan, wahai Habib ?
Sudah sejak lama warga Lebanon cinta mati terhadap Hezbullah. Lebanon hancur karena perang saudara dan perang agama selama 15 tahun, mereka sudah kehilangan segalanya. Maka datanglah Hezbullah dan membangun rumah2 mereka yg hancur, infrastrukttur yang rusak tanpa pernah bertanya siapa yang salah. Kedamaian tercipta karena tangan yg kuat tidak dipergunakan untuk zolim, tapi melindungi.
Hezbullah sangat kuat, bahkan Israel takut sama mereka. Coba pikir, dengan kekuatan mereka apakah mereka mampu untuk merebut pucuk pemerintahan Lebanon ? Sangat mampu !
Tapi, kenapa mereka tidak mau lakukan itu ? Mereka tidak bernafsu !
Mereka tidak haus kekuasaan. Mereka tidak butuh penghormatan, karena apa yang mereka lakukan 100 persen karena Tuhan. Semua karena Tuhan. Catat itu, bib.
Apakah ketika Presiden Lebanon dipimpin oleh Kristen Maronit, mereka langsung membuat Presiden tandingan ?
Mereka bukan kalian, yang merasa risih dipimpin oleh orang kafir karena dilarang agama. Karena sebenarnya Lebanon tidak memimpin Hezbullah, merekalah yang memimpin Lebanon. Apa jadinya Lebanon tanpa Hizbullah ? Rata dengan tanah disapu Israel, bib.
Kenapa FPI tidak bisa begitu, menjadi kebanggaan warganya ? Kenapa kalian tidak bisa seperti itu, bib ?
Kalian malah menjadi momok bagi kaum kecil dan bahan ejekan bagi kaum berpendidikan. Kemana rasa malu kalian, bib ? Apakah sudah dihilangkan Tuhan karena kalian selalu ber-takbir atas namaNya tapi perilaku kalian malah memburukkan namaNya ?
Kalau anda mau, ini kalau anda mau bib, berangkatlah ke Lebanon dan bertemulah dengan Sayyid Hassan Nasrallah. Duduklah bersama Sayyid dengan Sayyid, kalian berdua keturunan Rasulullah, bukan ? Apa anda malu karena di hadapan beliau ternyata kalian masih duduk taman kanak-kanak bib ?
Tidak usah ngomong strategi perang, bahkan dari segi ahlak kalian jauh di bawah beliau. Begitu di hormatinya Sayyid Hassan Nasrallah, sehingga satu kata saja dari beliau untuk berangkat perang, separuh warga Lebanon hilang. Tukang parkir, supir taksi, pemilik restoran semua jadi satu di medan perang.
Saya sudahi saja cerita tentang Hezbullah, sangat panjang jika saya harus bercerita tentang Hamas.
Minumlah kopi, bib.. Mungkin itu bisa menyegarkan pikiran. Jangan sering marah2 bib, hati2 stroke. Pimpinlah FPI ke arah yang benar, bib karena ratusan dari mereka adalah tanggung jawab anda sebagai pimpinan nanti di depan Tuhan.
Kami ingin bangga kepada anda dan organisasi anda, bangunlah kebanggaan itu. Siapa tahu suatu saat nama FPI ditakuti negara2 tetangga, sehingga mereka berfikir seribu kali untuk masuk ke Indonesia.
Jihad itu untuk menahan serangan dari luar, bib bukan memerangi saudara serumah.
Sekian dan terima-kasih dari saya.
Nb :
Ohya, bib.. Simpan saja panah2 itu yg katanya mau dibawa ke Palestina. Disana perang pake rudal laser dan drone tanpa awak bib. Saya beritahu ini, mungkin habib belum paham kalau disana musuhnya Israel dan bukan Yoda Akbar.
sumber: akun Fb Denny siregar

Jumat, 01 Januari 2016

Tahun Baru 2016

Tahun Baru 2016
Bergulir
alir
sampai hilir
memungkir
tak mungkin singkir
tetap mampir
Mau ke mana?
ke sini kau merana
ke sana kau durjana
di sini kau hina
di sana kau kelana
Hancur
lebur
belum gugur
kalau terulur
mulur
membujur
angan sekujur
Bekasi, hari pertama 2016

Minggu, 16 Agustus 2015

Aku pasrah berserah sudah

Aku pasrah berserah sudah
Mari bercerita pada keheningan
bersua di tengah sepi
atau bergumam di keramaian
adakah kau berpikir percuma?
atau kau berkata semua tak bisa?
Ada ribuan cerita yang mesti diungkapkan
tentang surga di bumi
namun seolah hening
seperti tak terdengar
aku pasrah
berserah sudah
Mari berjumpa di tengah sepi
sembari nikmati secangkir kopi
namun kecewa menghampiri
sebab kini tak lagi aku temui
menanti sepi tak kunjung menepi
aku pasrah
berserah sudah
Sudah ramai di mana-mana
hingga permai sudah hilang aduhai
gumamku tak terhirau
tentang bangsa yang kian kemilau
namun kau menanggapi
bangsa yang kemilau
justru buat hati menggalau
aku pasrah
berserah sudah
Lalu,
aku pasrah
berserah sudah
sampai nanti entah
aku tetap pasrah
berserah sudah
Kaliabang Nangka, 16 Agustus 2015
Aru Elgete

Tersembunyi dalam sunyi?

Tersembunyi dalam sunyi?
Kawan, pernahkah kau rasa kini mulai berbeda?
Kita tak lagi mengigau karena mimpi yang sama.
Seperti ada yang tersembunyi dalam sunyi.
Haruskah tertawa dengan kepalsuan?
Atau bercerita tentang kebohongan?
Aku mungkin salah, mungkin pula kau rasa tak salah.
Kawan, seperti ada yang tersembunyi dalam sunyi.
Aku menerka segala suka.
Tetap aku bertanya.
Seperti ada yang tersembunyi dalam sunyi?
Tak terdengar riuh, tak terlihat kasat.
Kita bersama sudah menahun, bukan?
Adakah kepalsuan yang tiada?
Atau kebohongan yang mengada-ada?
Seperti ada yang tersembunyi dalam sunyi.
Bukan ilusi juga tak mimpi.
Aku tak mendengar riuh, juga tak melihat kasat.
Seperti ada yang tersembunyi dalam sunyi.
Atau sunyi yang menyembunyikan bunyi?
Atau sembunyi-sembunyi sunyi menari?
Hingga tak terdengar riuh, juga tak terlihat kasat.




Kaliabang Nangka, 16 Agustus 2015
Aru Elgete

Kamis, 13 Agustus 2015

Merdeka di Kalimalang

Kasih, sudah berapa malam kita tak saksikan keramaian dari kegelapan dan dari sudut yang hampir sunyi; Kalimalang?
Dari sana, dari Kalimalang, kita melihat orang-orang saling berebut untuk memerdekakan diri, saling memberi peringatan agar mengalah dan saling mengumbar amarah.
Bahkan, tak jarang, kita saksikan mereka tertimpa kendaraannya sendiri, karena sudah tak sabar untuk merdeka dari kepenatan.
Mereka terjatuh di atas bebatuan, di pinggir jalan, lalu segera bangkit dan lekas menjemput kemerdekaan. Penuh perjuangan.
Dari sudut yang hampir sunyi, banyak pula yang gaduh. Sekadar mengusik dengan membisik, atau tertawa melihat penderitaan manusia yang sedang berusaha memerdekakan diri.
Dari sudut yang hampir sunyi, kita melihat sudut kesunyian yang lain. Mereka berdiskusi tentang cinta; dari manusia, alam, hingga tentang cinta kepada Tuhan.
Di sudut kesunyian, di Kalimalang, setiap manusia memiliki tujuan kemerdekaan yang beragam. Merdeka dari kepenatan, atau merdeka dari keterasingan akal pikiran.
Silakan berjumpa, bersuka, berduka, bercerita, bernostalgia ria, dan berjuang untuk merdeka di sana. Tapi bukan tak mungkin, akan tersuguh sebuah penderitaan.
Aku rindu dengan keromantisan purnama di kalimalang, juga kecantikan angin yang menggulung air, aku juga merindumu serta malam pada kemesraan kalimalang.
Semoga lusa, kita kembali memerdekakan malam dengan tenang, memerdekakan tidur dengan keindahan angan yang melayang-layang. Kasih, kita segera merdeka.
Kaliabang Nangka, 13 Agustus 2014
Aru Elgete

Bagaimana malam...

Bagaimana malam...
Bagi sebagian orang, malam merupakan tempat di mana cahaya saling berdatangan.
Mengisi lamunan, meratapi tangisan, atau menginspirasi pikiran.
Bagi sebagian orang yang lainnya, malam adalah pancaran kebahagiaan.
Bercengkrama dengan pacar, bercerita dengan teman sekamar, atau sekadar bersandar sambil bergitar.
Bagi Ibu Rumah Tangga, malam ialah tempat beristirahat, setelah seharian bertemankan keringat, berkecamuk dengan pekerjaan yang berat, agar tak Tuhan beri laknat.
Bagi para agamawan, malam dijadikan sebagai tempat bersandar, tempat bersujud pada Dia Yang Mahabenar, tempat berlindung dari keduniaan yang hingar-bingar.
Bagi para penghuni senayan, malam menjadi sebuah misteri.
Entah untuk bernegosiasi, mengatur strategi, atau mencari istri lagi. Seakan mereka lupa pada negeri yang selalu memberi.
Bagi para sastrawan, malam serupa untaian kata.
Bersenandung dalam cinta, mengungkap rasa dengan gelora, tanpa sesiapa yg menerka. Dalam kata.
Malam adalah kehidupan. Silakan hidupi dengan cinta, dengan nista, dengan cahaya pelita, dengan segala keniscayaan yang ada. Malam juga penuh duga tak terduga.
Malam tak pernah bersalah. Malam tak pernah keluarkan amarah. Malam tak pernah lahirkan apa-apa. Bahkan, malam akan pergi dengan kesia-siaan. Jangan salahkan malam, bila pagimu tak indah. Jangan memaki malam, bila siangmu tak bercurah anugrah. Maknai malam dengan naluri.
Kaliabang Nangka, 13 Agustus 2015
Aru Elgete