Selasa, 13 April 2021

Menyambut Ramadhan (4)


Ziarah di makam sesepuh Buntet Pesantren Cirebon


Siapa yang tak bahagia kedatangan Ramadhan?

Semua orang menyambutnya dengan sukacita. Mengunjungi makam-makam leluhur sebelumnya, sebagai bagian dari pelestarian tradisi Islam Nusantara

Orang-orang mulai mengatur jadwal. Menghubungi kerabat dan handai taulan yang dikenal. Mendiskusikan pertemuan untuk sekadar reuni, seperti bukber dan sahur bersama di sana-sini. Padat sekali.

Selain itu, ada pula yang mulai mengatur jadwal ceramah. Panitia Ramadhan di masjid dan mushala, mulai mencari tokoh agama terkemuka. Mengisi mimbar-mimbar keagamaan sebelum tarawih atau usai shalat isya. Semua sibuk menyambut Ramadhan dengan sukacita.

Kini, ada media sosial yang menghantui laksana pisau bermata dua. Menjadi baik jika dimanfaatkan sesuai porsi, tetapi menjadi buruk saat dimanfaatkan demi kepentingan duniawi.

Orang-orang di kota misalnya, tak jarang mengatasnamakan dakwah untuk memperjelas dan mempercantik citra diri. Semula yang bersifat privasi, kini dipublikasi dengan sedemikian rupa. Dibumbui kata-kata manis, mengajak pada kebaikan.

Padahal, barangkali, bisa saja demi sebuah pengabaran diri atau orang kota menyebutnya: pen-citra-an.

Ya, Ramadhan memang seperti itu. Selain sebagai ladang untuk memperbanyak amal kebaikan, juga menjadi ajang berpura dan menyombongkan diri. Lebih-lebih di era digital ini.

Ibadah di bulan suci tak lagi suci, jika dibumbui bermacam kata-kata bersampul suci. Diunggah ke media sosial
dengan maksud mendapat apresiasi.

Bijak bestari bertutur, ibadah di bulan suci tak sekadar menahan nafsu lapar dan dahaga, tetapi juga seluruh laku dan gerak mesti dijaga.

Sebab, Ramadhan adalah penyatu jiwa kepada Pemiliknya. Lucu, jika Ramadhan sudah tiba, hati justru jauh dari-Nya.

Sombong, angkuh, dan berpura-pura dalam ibadah. Itulah penyebab tercipta jarak antara hamba dengan Tuhannya.

Maka, seluruhnya mesti dibatasi. Bukan hanya soal lapar dan dahaga di siang hari, tetapi juga eksistensi di berbagai kanal media sosial milik pribadi.

*Ditulis pertama kali di Bekasi pada 2019

Kamis, 08 April 2021

Menyambut Ramadhan (3)

 






Ramadhan bulan mulia.

Sebuah arena kebaikan untuk saling berlomba. Sebagai tempat melakukan peningkatan kadar intelektual. Juga ajang memperhalus rasa, menyeimbangkan raga,
serta melatih kejujuran dalam dada.

Ramadhan bulan pendidikan.

Orang-orang beriman dididik, agar menjadi takwa dan menjadi manusia berkualitas paling baik.

Ramadhan bulan cinta.

Segala yang dilakukan di dalamnya merupakan manifestasi cinta. Banyak kesempatan emas tercipta. Kesempatan-kesempatan itu dimanfaatkan agar cinta terejawantah pada Pemilik Jiwa.

Namun bagi para bijak bestari, cinta tak butuh eksistensi karena cinta bersemayam di ruang paling sembunyi, dalam sanubari.

Karenanya, cinta tak butuh peng-aku-an. Tak butuh hormat. Cinta juga tak perlu apresiasi yang membuatnya kian meninggi. Cinta tak pernah berkenan pada perasaan jemawa, walau sedikit saja.

Lebih jauh,
Cinta bukan sesuatu yang dibangun dari pondasi kemunafikan dan kepura-puraan.

Ramadhan tak pernah beri ruang bagi kepura-puraan. Kalaupun iya, maka sungguh menyedihkan. Atau, barangkali, sebagian besar manusia memanfaatkannya untuk meraup keuntungan.

Orang-orang berlomba-lomba tampil di muka, memakai kostum keagamaan. Penceramah-penceramah pun demikian. Mereka mulai mencari bahan untuk diorasikan di atas mimbar kehormatan.

Hal yang  dikhawatirkan adalah saat mereka, para penceramah-penceramah itu, menggunakan agama seraya memanfaatkan Ramadhan demi mendapat keuntungan semata.

Sekalipun berkali-kali mulut sudah berbusa dan terus berucap: lillahi ta'ala.


*ditulis pertama kali di Bekasi pada 2019

Senin, 05 April 2021

Menyambut Ramadhan (2)





Ramadhan segera tiba.

Orang-orang sibuk berbenah, berlomba mencitra diri dengan kebaikan, mempertontonkan amal ke banyak kanal media sosial. 


Ramadhan segera tiba.

Orang-orang mulai persiapkan diri. Dalam setahun, barangkali, hanya sekali berkunjung dan berwisata ke rumah anak yatim-dhuafa.

Panti asuhan di mana pun berada, penuh tamu. Mendapat rezeki lewat perantara orang kaya. Orang-orang kaya berupaya membersihkan hartanya, seraya meningkatkan elektabilitas
juga popularitas. Barangkali bisa naik tahta hingga yang paling atas.

Ramadhan segera tiba.

Di pinggir-pinggir jalan, menjamur gembel dan gelandangan. Meminta belas kasih agar diberi rezeki untuk makan. Jumlah mereka akan lebih banyak dari bulan-bulan sebelum Ramadhan.

Barangkali seperti itu akting mereka menjadi kaum miskin kota. Mengharap nasi lalu bertamasya dari masjid ke masjid, untuk sekadar dapat memulai dan membatalkan puasa.

Tayangan di layar kaca berubah drastis. Seluruhnya menjadi religi, artis-artis lekas-lekas mengubah diri, masing-masing berperan menjadi saleh dan salehah. Saat Ramadhan usai, peran pun selesai

Ramadhan segera tiba.

Tayangan-tayangan gosip ibu kota, pasti menampilkan aktivisme selebriti yang berbeda, yang rajin beribadah dan bersedekah. Itulah kapitalisasi media yang merasuki sendi-sendi agama. Kaum kapital akan tetap untung, mereka tak mau buntung.

Meski dengan kepura-puraan hanya dalam waktu sebulan, intinya adalah mencari dan mendapat keuntungan. Lumayan.

Nun jauh di sebuah kota, dari negeri sengkarut yang tak tertata, saat nanti Ramadan tiba, warung makan rupanya tetap buka. Entah setengah pintu atau hanya ditutup bagian depan, dengan papan setengah badan.

Ramadhan segera tiba.

Orang-orang yang tak kuat puasa harus sembunyi, bahkan terkesan dipaksa untuk sembunyi. Sungguh, menjadi minoritas di negeri itu rentan siksaan baik fisik maupun psikis.

Siapa yang tak puasa nanti, siap-siaplah menerima siksa duniawi. Sementara solusi agar terhindar dari siksa adalah pura-pura.

Lalu, para bijak bestari bertanya-tanya:

Mengapa harus ada kepura-puraan di bulan penuh cinta? Padahal cinta tak pernah berkenan pada kebohongan.

Benarkah kepura-puraan itu merupakan bentuk penghormatan pada Ramadhan?
Betulkah kemuliaan Ramadhan luntur jika tak dihormati?


*Ditulis pertama kali di Bekasi pada 2019

Selasa, 30 Maret 2021

Menyambut Ramadhan




Apa yang istimewa dari bulan kesembilan tahun hijriyah ini?

Manusia-manusia modern rupa-rupanya hanya berupaya mencari keuntungan semata.

Tayangan iklan, program-program religi, hingga busana muslim-muslimah segera disajikan ke muka.


Apa yang istimewa dari bulan penuh ampunan ini?

Orang-orang di kota tetap saja berkelahi dengan dalih menghargai.

Padahal di kitab suci, sama sekali tak ada perintah untuk menghargai orang yang berpuasa.

Atau jangan-jangan puasanya orang kota hanya pura-pura suci?

Tujuannya, barangkali, agar mendapat ampunan dan penghargaan dari sesama manusia, bukan dari yang memiliki ampunan sungguhan.


Apa yang istimewa dari bulan kasih sayang ini?

Toh ternyata, masih saja ada kata-kata sindir kepada yang tidak menjalankan kewajiban.

Padahal tentu ada banyak alasan.

Kenapa tak bisa saling sayang dengan bertabayun meminta penjelasan?


Apa yang istimewa dari bulan pahala yang berlipat ganda ini?

Jika ternyata agenda-agenda santunan kepada anak yatim dan dhuafa hanya jadi ajang pencitraan.

Berswafoto, lalu diunggah ke seluruh akun media sosial milik pribadi.

Pengaturan privasi diatur publik, dibumbui tulisan pemantik mencitra diri, lalu senang mendapat puji. 

Hanya itu?


Ramadan, bagiku, sejak dulu, adalah bulan kepura-puraan tanpa ragu.

Semua orang berusaha menutup-nutupi diri, agar terlihat lebih saleh daripada kemarin hari.

Kemudian tampil membawa ayat sebiji dan menjadikan mimbar sebagai panggung unjuk gigi, untuk menyalahkan yang lain, menghujat yang tak sama, menafikan yang berbeda.


Marilah segera menjadi munafik, menampilkan diri yang terbalik, seolah-olah baik, tapi bejat di dalam bilik-bilik.


Marilah segera menjadi munafik, menahan haus dari sinar terik, menjaga lapar hingga rembulan naik, tapi sepanjang hari hanya dengki serupa salik.


Marilah menjadi bajik.

Berpuasa bukan hanya karena wajib, tetapi melatih diri untuk tak menjadi munafik.

Sebab gelar takwa akan tersemat dengan baik, bukan di awal pentas ramadan, tetapi di detik-detik akhir menuju kesucian.


Ramadan, benarkah bulan kemunafikan?

Bagiku, iya, jika puasa hanya sekadar.


Ramadan, benar, bulan mulia.

Bagiku, iya, jika puasa tetapi tak ingkar.

Raga, fikir, jiwa, dan seluruhnya turut menahan segala, tak alakadarnya.

Cukup? sudah.


*Ditulis pertamakali pada 2019

Minggu, 21 Maret 2021

Ketika Musim Berganti

 



Ketika musim berganti

segala-gala berubah menjadi yang dinanti
orang-orang lantas bergerombol mendekati
rupanya, ada sesuatu yang dapat melegakan hati

Ketika musim sudah berganti
dan tidak segera berbondong mendekat
percayalah, kau tidak akan mendapat selamat
lebih-lebih ada ancaman yang membuat detak jantung terhenti

"Kau tak dapat jatah," kata seorang pimpinan gerombolan.

"Ada apa gerangan?"

"Karena kau tak ikut kami bergerak bersama-sama."

Sejak itu
seorang pemuda pemberani itu
tak pernah menginjakkan kakinya ke tempat gerombolan itu
dia memisahkan diri karena tak ingin jadi babu
katanya begitu

Musim telah berganti
orang-orang bodoh tetap tak mau pergi
mereka tetap berada di dalam gerbong tadi
entah sampai kapan semuanya berhenti
barangkali hingga musim selanjutnya lagi

Musim depan jika berganti hari
pemuda itu rupanya terselamatkan dengan janji seorang pak haji
diajaknya dia memasuki ruang baru
bukan menjadi babu seperti mereka-mereka itu
tetapi mendapat keinginan yang dimau

Musim kalau berganti nanti
kita tak pernah tahu Tuhan jika memberi
semoga saja kita hidup tetap merdeka
tak menjadi babu kesana-kemari
tetapi mampu menentukan hajat hidupnya sendiri

Kalau demikian
jika musim berganti nanti
seperti Islam, yang dikatakan Gus Dur ketika itu
kita lihat perkembangannya di masa yang akan datang
benarkah demikian?

Rabu, 03 Februari 2021

Rindu Embun Pagi

 

Ilustrasi. Sumber foto: aswirusani.com


Oleh: Silvi Insani Zein


Redup redup mata memandang

melihat sosok yang sebenarnya tak pernah kupandang


Inginku bertanya, siapakah dirinya? 


Tuhan..

Makhluk ciptaanmu amatlah menawan

sampai tiada kata bosan 

kabut pagi pun bukan halangan 


Diam diam, sering kali kucuri pandang

menatapnya dengan tenang


Senyum sapa menyapa

tak ada lagi sebuah kata 

terdiam, tanpa bicara menyambutnya


Sampai pada saatnya, uluran jemari-Mu mengait erat tanganku

dalam hati kubicara, "Ah, Ya Tuhan, ini mimpi atau tidak sebenarnya?"

seketika tak sengaja mengukir senyumku

sampai pipiku merona

 

Kalau saja seperti itu, inginku terus-menerus rasanya

lebih baik, kumemilih jatuh saja

agar kembali kurasakan hangat tangannya


Akhir pertemuan memanglah sulit

perasaan menahan sakit

Karena belum tentu ku bisa kembali merasa sweet


Dari sekian banyak harapan

hanya satu yang ingin kembali terulang, yaitu sebuah pertemuan

dengan suasana yang kembali menenangkan

Sabtu, 07 November 2020

Tanda Tanya Besar

 

Ilustrasi. Sumber: piqsels.com


Oleh: Silvi Insani Zein


Bergetar hati ini bertanya-tanya

apa yang sedang terjadi? 

kenapa seakan semua bungkam?

menutup mulut dan tak lagi berkoar-koar


Sebuah tatapan berubah sinis

senyum tak begitu manis

seakan raga ini tertusuk pedang kehidupan

yang akan membunuh diri sendiri

hingga tubuh ini tidak mampu berdiri


Merindik-rindik langkah menjauh

sampai pandangan menghilang tak tahu

hati kecil mulai tidak sanggup

hingga mata hati pun ikut tertutup


Apa aku salah? 

Tolong katakan saja

Agarku tahu harus bagaimana

Rabu, 28 Oktober 2020

Teks Sumpah Pemuda Kekinian

 

Ilustrasi. Sumber gambar: fokusjabar.id


Selamat memperingati Hari Sumpah Pemuda 2020. Benarkah tanah air, bangsa, dan bahasa kita sudah merdeka? Berikut ini teks sumpah pemuda yang cocok untuk dibaca di dalam kondisi saat ini.  


Kami, Putra dan Putri Indonesia, mengaku pertumpahan darah sering terjadi karena berebut tanah dan air dengan pemerintah.


Kami, Putra dan Putri Indonesia, mengaku berbangsa yang carut-marut karena sesama anak bangsa selalu diadu untuk berseteru.


Kami, Putra dan Putri Indonesia, menjunjung tinggi bahasa Indonesia yang santun karena khawatir dijerat UU ITE.

Jumat, 23 Oktober 2020

Malaikat Kecilku

 

Ilustrasi. Sumber gambar: bidankita.com



Oleh: Silvi Insani Zein


Tuhan,

begitu amat malu diri ini

merasa begitu tak pantas untuk dicintai

adik kecil pun sudah mengikuti

akan panasnya neraka yang penuh api


Tuhan,

Terima kasih Engkau sudah kirimkan dia 

malaikat kecilku yang sebagai pengingat

akan dosa dosa yang kuperbuat


Tuhan

malaikat kecilku yang Kau kirimkan

buatku sadar akan satu hal

Cintanya Al-Qur'an

yang membuat air mata ini berderai-derai

keluar laksana badai


Hai

malaikat kecilku, jangan kau menangis

karena hati ini pun ikut teriris

kau selalu panjatkan doa untuk ayah dan ibu

walau kau tak tahu apa maksud doamu itu

begitu mulia hatimu

bercahaya wajahmu

akan begitu manis senyummu


Malaikat kecilku


Senin, 19 Oktober 2020

Suara Hatiku Berseru

 

Ilustrasi. Sumber gambar: viva.co.id


Oleh: Silvi Insani Zein


Terbelenggu dalam malam

menjerit kencang tangan menggenggam

sebuah kasih-sayang yang menghilang


Ayah, 

tidakkah engkau mengerti

akan hati ini yang ikut tersakiti

tidakkah engkau mengerti

anakmu menangis tiada henti


Ibu,

Engkau kenapa pergi

engkau begitu tega meninggalkanku sendiri

engkau kenapa pergi

pergi menghilang tanpa kembali


Ayah, Ibu,

Sanggupkah diri ini terus berdiri 

tanpa ayah dan ibu disisi

sanggupkah diri ini membuat pelangi

untuk membuat hidupku penuh warna


Aku anakmu 

Tak sekuat dan setegar ayah

Aku anakmu

Tak sesabar dan selembut belaian ibu


Taukah engkau

Aku berjalan tanpa lelah untuk bisa mencari sesuap nasi

untuk bisa hidup di dunia yang keras ini

agar kubisa menggapai mimpi


Dicaci dan dimaki

aku tidak peduli

yang kutahu saat ini

hanya kebahagiaan yang selalu dinanti


Aku selalu berharap

kebahagiaan akan segera kudapat

walau hanya sekejap


Ayah, Ibu,

semoga kalian mendengarnya... 

Sabtu, 17 Oktober 2020

Sang Pelita

 

Ilustrasi. Sumber: medium.com


Oleh: Silvi Insani Zein


Hai,

Izinkanku bertanya

tentang siapakah engkau itu

dan apa tujuanmu datang dalam hidupku?

Tolong beriku jawaban, bukan teka-teki yang entah


Apakah engkau utusan dari-Nya? 

Malaikat tak bersayap 

tangisanmu meluluhkan hati ini hingga tak berdaya

ucapanmu bergelora penuh makna 

hingga mata ini malu, tak kuasa menatap


Setiap belaimu yang mengelus kepala, dalam hati engkau berdoa

semoga semua baik-baik saja

tak ada lagi tangis dusta merana

karena ucapan sayangmu takkan terlupa


Kuucapkan, terima kasih sang pelita

karena ketulusanmu, membuatku haru

karena perlindunganmu, kuterjaga dari itu

karena hadirmu, kujaga janjiku 


(*)

Senin, 23 Maret 2020

MAHACORONA (2)


Ilustrasi. Sumber gambar: nationalgeographic.grid.id

Kuberi tahu kepadamu
wahai virus yang menggemuruhkan bumi
pandemi yang kusebut: Mahacorona
dengarkan baik-baik, ya

keberadaanmu kini membuat kami susah
orang-orang harus masuk rumah
begitu pula untuk ibadah
tapi sungguh itu tidak mudah

bagaimana dengan manusia gerobak yang biasa keliling bersama anak-anaknya di tengah kota?
siapa yang peduli kepada mereka?
saban malam mereka tidur di pelataran toko yang tertutup?

alas tidur mereka kardus-kardus bekas
atapnya langit luas

mereka terbangun saat matahari pertama kali menyengat tubuhnya
ada pula yang terbangun karena azan subuh yang membisingkan kesunyian
sebagian ada yang terbangun lantaran suara pemilik toko yang bersiap untuk kembali berjualan

pemilik toko itu pun juga harus berikhtiar mencari rezeki
ia berpenghasilan harian
tak bisa makan jika di rumah seharian
apalagi kalau harus bertahan di rumah selama dua mingguan
lebih-lebih berbulan-bulan

lalu,

manusia gerobak itu bangun
menghadapi dunia lagi
mencari apa pun yang bisa dicari
menjual apa saja yang dapat dijual
mereka tak peduli sama sekali oleh apa pun juga
yang terpenting hari ini bisa makan
menyambung hidup

mereka entah mandi di mana
mungkin di masjid-masjid pinggir jalan atau musala di dalam komplek dan perumahan
sembari melaksanakan salat berjamaah
atau mereka menumpang mandi di rumah ibadah yang lain
di gereja
pura
atau vihara
bagi mereka Tuhan segalanya
mengunjungi rumah-Nya adalah anugerah yang patut disyukuri
disanalah akan ada nikmat yang tersuguh sepanjang hari

manusia gerobak yang saban hari kulihat di tengah kota itu tak pernah berpangku tangan
mereka selalu berupaya dengan penuh sungguh tanpa berharap belas-kasihan dari pejabat pemerintahan
sakitnya tak ditanggung BPJS
bahkan mereka tak paham siapa kepala daerahnya

manusia gerobak itu
hari-harinya tak ada sedikit pun waktu untuk mengeluh
mereka tak pernah pula mengritik kerja pemerintah
mereka hidup untuk menghidupi kehidupannya
tanpa sedikit pun mengiba kepada pejabat yang sedang berkuasa

setiap saat mereka bersyukur
atas karunia yang tak terukur
meski ada virus yang menjalar di bumi
mereka tetap yakin tak tertular sama sekali
kalau sakit, obatnya hanya satu: berdoa sungguh-sungguh
yakin mereka, kelompok yang termarjinalkan dan teraniaya akan cepat dikabul doanya

maka sebelum tidur, doa dipanjatkan agar diberi hidup untuk esok hari
saat terbangun hingga menjelang rebah, dimanfaatkan waktu untuk berikhtiar seraya bersyukur tanpa henti

Mahacorona,
aku mohon ampun
jangan kau hinggap di tubuh mereka
tolong beritahu pula kepada semua yang ketakutan atas hadirmu itu: jangan emosian!

Jumat, 20 Maret 2020

MAHACORONA (1)


Sumber: tirto.id

engkau sedang dan semakin hangat dibincangkan
oleh manusia-manusia yang hidupnya penuh ketakutan
maksudku, kekhawatiran
maaf

engkau tak nampak sedikit pun
tapi hadirmu sungguh mencekam
sudah banyak yang tak kau beri ampun
meski segala upaya telah disungguhkan
Mahacorona yang menakjubkan, kapan kau tak menghantui manusia lagi?

semua orang cemas
merasa was-was
memperlebar ruang batas
sungguh, kehadiranmu adalah sarkas
engkau tak lebih bahaya dari mers dan sars
tetapi orang-orang mengutukimu dengan sangat keras
kasihan sekali

para pemuka agama mulai gemar beretorika
mengajari umat agar meningkatkan takwa
jangan lupa pula sering-sering berdoa
dan mari senantiasa berolahraga
hidup bersih juga perlu
mencuci tangan agar tak kotor melulu

kami sebagai umat kemudian bertanya:
memangnya selama ini kami tidak bertakwa, jarang berdoa, tidak pernah berolahraga, tidak hidup bersih, dan selalu kotor dalam keseharian?

Mahacorona yang kucinta
kau ini benar adanya?
atau hanya sekadar apa?
maaf hanya bertanya

Rabu, 25 Desember 2019

Surat Cinta untuk Gus Dur


Sumber gambar: viva.co.id

Gus Durku, bagaimana kabarmu? Tak terasa sudah satu dekade kita tak jumpa. Orang-orang di sini berkali-kali meneriakkan kata rindu, menuliskan kalimat sepi, tetapi juga seraya melangitkan doa. Doa-doa itu, bukan hanya sekadar permintaan agar kau senantiasa damai bersama Dzat yang Mahaagung. Tetapi doa-doa itu dilangitkan, agar spirit dan ruh perjuanganmu senantiasa membumi.

Gus Durku, sedang apa kau di sana? Kuharap, dan kita semua di sini berharap, engkau bahagia, tertawa cekikikan dan melucu di hadapan para malaikat seperti yang sering kau lakukan, dulu, kepada kami. Ya, humormu itu selalu segar untuk dibawakan di sepanjang zaman, mungkin saja para jin dan malaikat di sana juga terhibur karena humor-humormu itu. Jangan lupa juga, sering-sering sampaikanlah kepada mereka itu kalimat andalanmu yang sakti: "Gitu saja kok repot".

Gus Durku, kini kami yang ada di bumi selalu dibuat repot. Sejak kepulanganmu ke negeri akhirat sepuluh tahun lalu, kalimat "Gitu saja kok repot" itu, justru repot sekali dilakukan. Tapi kami tahu maksudmu, dan kami akan selalu belajar memahami itu.

Kalimat saktimu itu adalah pemaknaan dari doa: Allahumma yassiru wa laa tuassiru, Ya Allah mudahkan dan jangan disulitkan. Selain itu juga bermakna sama seperti kalimat simplex veri sigillum atau simplicity is the sign of truth, bahwa kesederhanaan itu sangat dekat dengan kebenaran. Laku-lampahmu selama hidup menjadi gambaran betapa kebenaran itu sebenarnya simpel, mudah, sederhana, tetapi justru kami yang kerapkali mempersulit.

Gus Durku, anak-anak dan keluargamu di bumi selalu rindu kepadamu. Namun, saat rindu itu datang, yang dilakukan oleh anak-anak dan keluargamu bukan justru merenung yang menjadikannya justru tidak produktif, tetapi terus-menerus melakukan kerja-kerja kemanusiaan yang dulu telah kau teladankan. 

Maksudku, anak-anakmu itu bukan Alissa, Yenny, Anita, dan Inaya. Ya, mereka anak-anak biologismu. Tetapi anak-anakmu yang kumaksud itu adalah anak-anak bangsa yang dalam semangat hidupnya tersisip nilai-nilai yang telah kau tanamkan sejak dulu. Anak-anak itu yang kini tergabung dalam sebuah jaringan komunitas bernama GUSDURian. Sebuah komunitas yang lahir demi untuk melestarikan nilai-nilai utama perjuanganmu, mereka meramunya ke dalam 9 nilai utama. 

Juga yang kumaksud keluargamu adalah mereka yang menjadi fokus utama dari penyebaran nilai-nilai yang telah kau teladankan itu. Keluargamu adalah umat Islam yang senantiasa menyebar salam, kedamaian, dan keselamatan. Keluargamu adalah seluruh warga negara Indonesia yang tidak main-main dengan Pancasila dan konstitusi negara. Keluargamu adalah seluruh umat manusia di muka bumi. Ya, kami semua adalah keluargamu yang selalu rindu dan menjadikan doa sebagai pertemuan spiritual kita. 

Gus Durku, apakah kau juga rindu dengan kami di sini?

Sabtu, 17 Agustus 2019

merdeka-merdeka




sudahkah merdeka?
merdekakah sudah?
sudah merdekakah?
entah

aku tak paham makna sesungguhnya
apa kemerdekaan yang hakiki itu?

karena yang kutahu
kemerdekaan adalah kebebasan
kedamaian
ketiadaan penindasan

lalu sudahkah kita merdeka?

ssssttt...
jangan terlalu keras berungkap merdeka
pernahkah kita bertanya,
bagaimana mereka yang sunyi?
mereka yang hidup dalam kehampaan?
mereka yang menatap langit dengan kepedihan?

sudahkah merdeka?
jika di sana
di ujung penglihatan mata
ada mereka yang hidup dalam ketakutan
menjalani hidup dengan berbagai kesengsaraan

sudah lebih dari tujuh dasawarsa merdeka
kita merdeka dari penjajah dan penjarah

berkat Tuhan Yang Mahatinggi
kini mereka telah pergi

tapi sungguh perjuangan tak pernah berakhir
kita mesti selalu waspada atas penjajahan

penjajahan oleh diri sendiri
nafsu
kebodohan
penindasan
permusuhan
keterbatasan
dan penguasa bajingan yang seolah ingin bertanding dengan Tuhan

maka, kapan kita akan rasakan kemerdekaan yang hakiki?

mari berkaca pada diri
untuk negeri
agar kita terbebas
dari kemerdekaan ilusi

merdeka-merdeka itu tak perlu diteriak-teriakkan
berbuat saja dengan tulus tanpa pamrih
untuk bangsa dan negeri
dan dimulai dari diri sendiri

Aru Elgete

(Ditulis di Bekasi pada 16 Agustus 2015, diperbarui pada 17 Agustus 2019)

Kamis, 15 Agustus 2019

sepi-sepi




orang-orang lalu-lalang
malam dan siang
pagi hingga petang
tanpa makna

sepi

bercengkerama tanpa isi
berpikir tanpa intuisi
berucap tak esensi
substansi hilang arti

sepi

jantung berdegup
sepi
sepi
sepi
sepi

jantung berdegup
sepi
sepi
sepi
sepi

saat bicara hilang diri
kala melangkah hilang arah
ketika menatap hilang tatap
waktu hilang hilang hilang

aku bukan aku
sepi
aku
bukan
aku

hilang diri
sepi
tak tentu arah
tak tetap tatap
tak paham arti

sepi

aku sepi
sejak hilang diri
hilang arah
hilang tatap
hilang hilang

dalam sepi-sepi itu
sayup-sayup deru angin menyapa
aku kepada siapa-apa
tak lagi mampu berpaling
kecuali berpulang

Jumat, 09 Agustus 2019

Kekasih-kekasih


Sumber: ayobandung.com



يا أيتها النفس المطمئنة 
ارجعي إلى ربك راضية مرضية
فادخلي في عبادي
 وادخلي جنتي

langit mendung menderu-deru
isyarat kekasih yang tersandera rindu
dia yang dinanti-nanti
akhirnya kembali lagi
ke pangkuan kekasih
kekasih-kekasih 
melampiaskan rindu yang tak terperi
dia tenang
mengenang
air mata berlinang
hilang seimbang
entah riuh apa yang terserak
dia tetap tenang 

kekasih-kekasih bersilih kasih
kekasih-kekasih terasa hilang
kekasih-kekasih bersilih kasih
kekasih-kekasih terasa hilang

dia tenang
dia sejuk
dia tenteram
dia damai
kembali kekasih 
dengan tenang
dengan sejuk
dengan tenteram
dengan damai

dia tenang
dia sejuk
dia tenteram
dia damai
mewarisi kekasih
rupa tenang
rupa sejuk
rupa tenteram
rupa damai

kekasih-kekasih
bersatu lagi
merindu-rindu
kekasih-kekasih
hilang diri
merindu-rindu

dia
engkau
kami
kekasih
merindu-rindu
mewujud satu di ruang itu
ruang kasih


Bekasi, 2019

Rabu, 24 Juli 2019

Kalau Musim Sudah Berganti


Selat Sunda di musim panas 2017


Musim berganti
segala-gala berubah menjadi yang dinanti
orang-orang lantas bergerombol mendekati
rupanya, ada sesuatu yang dapat melegakan hati

Kalau musim sudah berganti
dan tidak segera berbondong mendekat
percayalah, kau tidak akan mendapat selamat
lebih-lebih ada ancaman yang membuat detak jantung terhenti

"Kau tak dapat jatah," kata seorang pimpinan gerombolan.

"Ada apa gerangan?"

"Karena kau tak ikut kami bergerak bersama-sama."

Sejak itu
seorang pemuda pemberani itu
tak pernah menginjakkan kakinya ke tempat gerombolan itu
dia memisahkan diri karena tak ingin jadi babu
katanya begitu

Musim telah berganti
orang-orang bodoh tetap tak mau pergi
mereka tetap berada di dalam gerbong tadi
entah sampai kapan semuanya berhenti
barangkali hingga musim selanjutnya lagi

Musim depan jika berganti hari
pemuda itu rupanya terselamatkan dengan janji seorang pak haji
diajaknya dia memasuki ruang baru
bukan menjadi babu seperti mereka-mereka itu
tetapi mendapat keinginan yang dimau

Musim kalau berganti nanti
kita tak pernah tahu Tuhan jika memberi
semoga saja kita hidup tetap merdeka
tak menjadi babu kesana-kemari
tetapi mampu menentukan hajat hidupnya sendiri

Kalau demikian
jika musim berganti nanti
seperti Islam, yang dikatakan Gus Dur ketika itu
kita lihat perkembangannya di masa yang akan datang
benarkah demikian?


Bekasi, 2019.

Minggu, 05 Mei 2019

Menyambut Ramadan (5-Habis)


Anonymous
Hati-hati
setan kerap masuk dari arah yang tak pernah diketahui
ia masuk menggoda anak manusia dengan berbagai janji-janji
tak terkecuali pada bulan suci

Cerita masa kecil tentang setan yang dikerangkeng sesungguhnya adalah mitos belaka
di Ramadan rupanya setan bisa menjelma menjadi apa saja
bahkan kini setan sudah berubah bentuk menjadi digital di dunia maya
media sosial adalah tempat teranyar bagi setan kekinian bersemayam manja

Ia menggoda manusia
menampilkan segala citra
menggoda agar bermalas-malas dalam ibadah
padahal tiap kali memosting adalah ihwal ibadah
dan kemunafikan kerapkali muncul di sana

Lalu, bagaimana seharusnya kita bersikap dan berbenah?

Sungguh,
Ramadan adalah momentum pendekatan diri kepada Allah
menjadi bekal untuk sebelas bulan setelahnya
Ramadan bukan event tahunan
Ramadan adalah batu loncatan
agar diri tak terjerembab pada lembah kemunafikan
dan pemunafikan

Ramadan hadir ke tengah-tengah kita
sesungguhnya agar jiwa terselematkan
dari jurang kesombongan
dan keangkuhan

Ramadan merupakan tempat saling berlomba
tapi juga bukan kompetisi yang berujung pada menang dan kalah
seusainya nanti, siapa yang menjadi juara
akan terjawab dan tersimpan di lubuk hati terdalam

Maka, mari bersihkan dan luruskan niat sebelum mengunggah postingan ke media sosial milik pribadi
bisa jadi, setan mewujud menjadi kesombongan yang sedang menyelimuti tubuh
karena sekalipun hati sudah bersih
niat telah lurus
setan akan beralih ke orang lain
sehingga timbul ujaran tak enak terhadap kita

Ramadan adalah bulan yang penuh dengan kepura-puraan
masihkah kita senantiasa membohongi diri?
selamat menjalankan ibadah kesungguhan di bulan suci
semoga kita tidak pernah merasa paling suci
karena di Ramadan, seluruh jiwa dan diri
akan disucikan kembali


Bekasi, 2019

Minggu, 10 Maret 2019

[PUISI] Aku Bekasi


Logo HUT Kota Bekasi ke-22


Tampak urakan
berantakan
tak karuan
bicara tak sopan
pendidikan mungkin enggan
semuanya adalah ucapan
yang tak bertuan

Ah,
Mereka tentu belum menyusup
ke dalam lubang terdalam
di pengujung rasa
pada desah nafas terhela
menuju jiwa yang rela

Duhai para penggunjing
kalian tahu bagaimana maling?
mereka berani lalu sembunyi
berhadap tiada nyali
sesaat menghampiri
lalu berlari lagi

Walau aku pendatang
di Bekasi
tetap aku meradang menerjang
pada siapa yang terang menyerang

Sebab mati siapa yang tahu
kalau bukan Dia yang itu
aku entah kapan mati
namun yang pasti
aku ingin mati di sini
di Bekasi

Setiap bangsa pasti bertanda
semacam ciri yang berada
Bekasi juga begitu adanya
bicara tak sopan
berantakan
serta tampak tak berpendidikan
itu hanya tampak luar
luar tak berarti liar

Engkong sang pendidik
kenali agama agar hidup tak pelik
kurangi mata mendelik
indah dunia kian menilik

Agama sebagai pedoman
juga pegangan
agar tak tersungkur
ke dalam lubang penuh kufur

Bila sekilas tampak tak indah
belum tentu hati merana
sebab dengan ibadah
bahagia akan kami kelana

Sila kau mampir
ke Kota Jakarta lalu melipir
di Bekasi kau hadir
pahami budaya dan segala rupa
agar nanti tak sesat pikir
pulang ke rumah dengan tiada nestapa

Aku Bekasi
meski tak lahir di sini
jiwaku tetap bersih
membela bumi yang terpijak hari ini


[Selamat HUT Kota Bekasi ke-22]