Senin, 23 Februari 2026

26 Tahun Istriku: Mari Kita Rayakan Hidup Tanpa Budaya Patriarki dan Feodal

 

Istriku ulang tahun

Tanggal 23 Februari 2026 menjadi penanda penting dalam perjalanan hidup istriku. Di usia yang Ke-26, aku tidak hanya melihat angka yang bertambah, tetapi juga lapisan demi lapisan kedewasaan yang telah terbentuk dari pengalaman, tantangan, dan pilihan-pilihan hidup yang kamu ambil dengan penuh kesadaran. Kamu telah tumbuh menjadi sosok perempuan tangguh—ketangguhan yang tidak lahir dari ketiadaan rasa takut, melainkan dari keberanian untuk tetap berjalan meski rasa itu hadir.


Ketangguhanmu selalu mengingatkanku pada sosok ibuku. Bukan dalam arti membandingkan, melainkan melihat benang merah nilai yang sama: keteguhan hati, keikhlasan dalam menjalani peran, dan kekuatan untuk tetap berdiri di tengah badai kehidupan. Seperti beliau, kamu memiliki cara sendiri dalam menghadapi kerasnya realitas, tanpa kehilangan kelembutan sebagai manusia. Ada keseimbangan yang jarang dimiliki banyak orang—antara kuat dan hangat, antara tegas dan penuh empati.


Di usia ini, aku melihat perubahan yang semakin jelas dalam caramu memandang dunia. Kamu tidak lagi terburu-buru dalam merespons masalah. Kamu memilih untuk berhenti sejenak, berpikir, lalu mencari solusi dengan akal sehat. Kedewasaan itu bukan sekadar tentang usia, melainkan tentang kemampuan untuk memilah mana yang perlu diperjuangkan dan mana yang harus dilepaskan. Kamu telah sampai pada titik di mana emosi tidak lagi menjadi penguasa, melainkan mitra yang kamu kendalikan dengan bijaksana.


Hal yang paling aku kagumi adalah keberanianmu dalam menghadapi masa depan. Kamu tidak pernah benar-benar tahu apa yang akan datang, seperti kita semua. Namun, kamu tidak membiarkan ketidakpastian itu menjadi alasan untuk berhenti melangkah. Kamu memilih untuk tetap berjalan, tetap berusaha, dan tetap percaya bahwa apa pun yang datang, kita bisa menghadapinya bersama. Sikap ini bukan sesuatu yang sederhana; ini adalah hasil dari keberanian yang ditempa oleh pengalaman.


Kita berdua tahu bahwa perjalanan hidup, terutama dalam rumah tangga, tidak selalu mulus. Akan ada batu karang yang menghadang, ombak yang datang tanpa peringatan, dan arah yang kadang terasa membingungkan. Namun, dalam semua itu, aku percaya bahwa kita tidak sedang berlayar sendirian. Kita berada dalam bahtera yang sama, dengan tujuan yang sama. Kita harus siap melangkah bersama, bukan saling meninggalkan ketika keadaan menjadi sulit.


Dalam perjalanan ini, ada satu hal yang selalu ingin aku jaga bersama kamu: semangat untuk tidak pernah lelah. Bukan berarti kita harus selalu kuat tanpa jeda, melainkan kita harus tahu kapan beristirahat tanpa kehilangan arah. Lelah adalah manusiawi, tetapi menyerah bukanlah pilihan yang ingin kita ambil. Kita boleh berhenti sejenak, menarik napas, lalu melanjutkan perjalanan dengan energi yang baru.


Aku juga ingin kita terus mengingat pentingnya menjaga kedaulatan diri. Dalam hubungan apa pun, termasuk pernikahan, identitas pribadi tidak boleh hilang. Kamu tetaplah dirimu—perempuan dengan pikiran, keinginan, dan prinsip hidup yang kamu pegang. Aku tidak ingin kita saling menguasai, melainkan saling menghormati ruang dan kebebasan satu sama lain. Kedaulatan diri adalah fondasi dari hubungan yang sehat, karena dari situlah lahir rasa saling percaya yang sejati.


Ketika kita berbicara tentang keluarga, aku percaya kita memiliki visi yang sama: membangun ruang yang adil, hangat, dan manusiawi. Kita ingin merawat keluarga tanpa terjebak dalam budaya patriarki dan feodal yang membatasi peran dan potensi seseorang. Tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah; yang ada hanyalah perbedaan peran yang dijalankan dengan kesadaran dan kesepakatan bersama. Kita belajar untuk tidak mengulang pola lama yang mungkin tidak lagi relevan dengan nilai yang kita yakini.


Dalam bahtera rumah tangga ini, kita bukan kapten dan penumpang. Kita adalah rekan kerja, mitra yang saling mendukung dan melengkapi. Ada kalanya kamu yang memegang kendali, ada kalanya aku. Tidak ada kompetisi di antara kita, yang ada hanyalah kolaborasi. Kita bekerja sama untuk menjaga arah, memperbaiki layar ketika robek, dan memastikan bahwa kita tetap bergerak maju meski perlahan.


Aku juga percaya bahwa hubungan yang sehat tidak dibangun atas tuntutan sepihak. Kita tidak hanya menuntut untuk diistimewakan, tetapi juga berusaha untuk mengistimewakan satu sama lain. Ada keindahan dalam memberi tanpa selalu menghitung, dalam memahami tanpa selalu meminta dipahami terlebih dahulu. Ketika kita sama-sama berusaha untuk memberi yang terbaik, keseimbangan itu akan tercipta dengan sendirinya.


Di usia 26 ini, kamu berada di fase kehidupan yang penuh potensi. Banyak hal yang telah kamu capai, dan lebih banyak lagi yang masih menunggu untuk diwujudkan. Aku tidak meragukan kemampuanmu untuk terus berkembang, karena aku telah melihat bagaimana kamu belajar dari setiap pengalaman—baik yang menyenangkan maupun yang menyakitkan. Kamu tidak pernah benar-benar berhenti bertumbuh.


Perjalanan ke depan mungkin tidak akan lebih mudah, tetapi aku yakin kamu akan menjadi lebih kuat. Bukan karena dunia menjadi lebih ramah, melainkan karena kamu semakin siap untuk menghadapinya. Dan dalam semua itu, aku ingin kamu tahu bahwa kamu tidak sendiri. Aku ada di sampingmu, bukan sebagai penentu arah hidupmu, tetapi sebagai teman berjalan yang siap mendukungmu dalam setiap langkah.



Selamat ulang tahun yang ke-26, istriku. Terima kasih telah menjadi dirimu yang sekarang—perempuan tangguh, dewasa, dan penuh keberanian. Semoga kita terus belajar, terus bertumbuh, dan terus melangkah bersama, apa pun yang menghadang di depan.



Bekasi, 23 Februari 2026

Minggu, 08 Februari 2026

Ngaji Al-Hikam Bersama Gus Ulil (5): Ajaran Tasawuf dan Jalan Menuju Kebahagiaan Batin

 

Ngaji Al-Hikam bersama Gus Ulil di Jatibening, Bekasi, Jawa Barat, pada 8 Februari 2026.


إجتهادك فيما ضمن لك وتقصيرك فيما طلب منك دليل على انطماس البصيرة منك


Ijtihāduka fīmā ḍumina laka wa taqṣīruka fīmā ṭuliba minka dalīlun ‘alā inṭimās al-baṣīrah minka.


Kesungguhanmu dalam hal yang sudah dijamin untukmu, dan kelalaianmu dalam hal yang dituntut darimu, adalah tanda padamnya mata batinmu.


Ijtihāduka artinya usaha kerasmu.

Fīmā ḍumina laka: dalam hal-hal yang sudah dijamin untukmu. Siapa yang menjamin? Allah. Di sini memang tidak disebut langsung, karena kitab ini ditujukan bagi orang-orang yang sudah paham.


Jadi maksudnya: usaha kerasmu untuk mendapatkan sesuatu yang sebenarnya sudah dijamin oleh Allah.


Lalu wa taqṣīruka: kelalaianmu, keteledoranmu.

Fīmā ṭuliba minka: dalam hal-hal yang justru dituntut darimu oleh Allah.

Dalīlun ‘alā inṭimās al-baṣīrah minka: itu tanda padam atau buramnya mata batinmu.


Artinya begini. Sesuatu yang sudah dijamin Allah, kamu kejar mati-matian. Sementara sesuatu yang Allah tuntut kamu lakukan, kamu malah lalai. Itu tanda bahwa “lampu neon” batinmu sudah mulai redup. Kesadarannya tidak bekerja sesuai “algoritma” yang benar.


Apa yang sudah dijamin Allah? Sesuatu yang sudah dijamin itu adalah rezeki. Penghidupan dasar manusia sudah dijamin oleh Allah.


Ibadah tidak dijamin. Kalau kamu tidak beribadah, Allah tidak “otomatis” memberi pahala. Karena itu yang dituntut adalah ibadah, kesungguhan mendekat kepada Allah.


Soal rezeki, Muslim atau tidak, semuanya diberi oleh Allah. Allah memberi makan orang beriman maupun tidak beriman. Karena Allah menciptakan manusia, maka konsekuensi dasar hidup manusia (makan, minum, kebutuhan minimal agar tetap hidup) dijamin oleh Allah.


Kalau ingin hidup mewah dan berfoya-foya, itu wilayah usaha manusia. Tapi batas minimal agar manusia tidak mati kelaparan, itu dalam jaminan Allah.


Burung tidak punya kulkas, tapi tetap hidup. Kucing tidak punya deposito, tapi setiap hari tetap dapat makan. Manusia pada level biologis punya kesamaan dengan hewan: sama-sama makhluk hidup dalam animal kingdom. Kalau Allah menjamin hewan-hewan itu, masa manusia tidak dijamin? 


Tapi bukan berarti tidak perlu bekerja. Ajaran ini bukan berarti kita lalu berhenti bekerja, berhenti sekolah, tidak mengajar, dan pasrah total.


Ini ajaran untuk membangun kesadaran batin bahwa Allah tidak mungkin menelantarkan makhluk-Nya. Kalau kesadaran ini masuk, minimal bisa mengurangi tingkat stres.


Masalah kesehatan mental sekarang besar sekali. Ada World Mental Health Day. Banyak orang modern mengalami stres berat. Sementara kesadaran spiritual seperti ini bisa menjadi “obat” batin.


Makanya di masyarakat seperti Indonesia, indeks kebahagiaan relatif lumayan. Ada cobaan, tapi orang bilang, “ya sudah, dijalani saja.” Mindset ini dibentuk oleh ajaran-ajaran seperti ini (tasawuf) sejak kecil.


Lalu apakah ajaran ini membuat orang jadi fatalis? 


Ada kritik: ajaran (tasawuf) seperti ini membuat orang pasrah, tidak punya etos kerja, jadi tertinggal. Jawabannya: bisa begitu, kalau dipahami salah.


Kalau dipahami keliru, orang bisa jadi fatalis: tidak mau berusaha, semua diserahkan ke Allah, lalu tidak bekerja. Itu bukan maksud tasawuf. Itu abusing tasawuf. 


Tasawuf dan kebahagiaan

Tasawuf pada dasarnya mirip filsafat Yunani dalam satu hal: sama-sama mencari kebahagiaan. 


Orang Yunani tidak punya agama wahyu, maka mereka mencari jalan kebahagiaan lewat filsafat. Dalam tradisi Yunani, kebahagiaan disebut eudaimonia. Dalam Islam disebut sa‘ādah. Inti agama juga kebahagiaan manusia, di dunia dan akhirat.


Kebahagiaan bukan semata jumlah harta, tapi sikap batin. Memang tetap ada batas minimal kebutuhan hidup. Tapi setelah itu, kebahagiaan terutama ditentukan oleh kondisi hati. Para sufi besar bahkan bisa bahagia tanpa banyak harta, tapi itu butuh latihan panjang.


Hukum tasawuf dalam bekerja

Ajaran Al-Hikam bukan mengajarkan malas. Ini masih wilayah tindakan (af‘āl).


Hukum pertama: kita wajib bekerja, tapi harus sadar bahwa kerja sekeras apa pun tidak bisa menembus takdir Allah. Kalau mentok, jangan putus asa. Karena putus asa membuat hidup tidak bahagia.


Takdir tidak diketahui sebelum kita berusaha. Jadi tetap harus bekerja.


Hukum kedua: setiap orang punya maqam berbeda. Ada orang yang memang maqamnya banyak ibadah dan sedikit urusan dunia. Tapi ada yang maqamnya jadi pegawai, dosen, peneliti, pengusaha, politisi. Kalau maqamnya bekerja di dunia, lalu tiba-tiba berhenti dengan alasan tawakal, itu keliru. Itu malas yang dibungkus tasawuf.


Kebahagiaan itu urusan internal

Inti tasawuf: kebahagiaan itu terutama urusan batin, bukan eksternal.


Harta, jabatan, gaji itu eksternal dan tidak sepenuhnya dalam kendali kita. Gaji bisa dinegosiasi, tapi akhirnya bos atau sistem yang menentukan.


Tapi sikap batin, cara kita merespons hidup, itu wilayah otonomi kita. Kita punya kuasa besar di situ.


Kalau kita tidak bahagia, padahal kebahagiaan itu wilayah batin yang bisa kita kelola, maka kita perlu mengoreksi diri. Jangan selalu menyalahkan keadaan, orang lain, atau bahkan Allah.


Karena di wilayah batin itulah sebenarnya kemerdekaan manusia paling besar berada.



Bekasi, 8 Februari 2026