Sambut Idulfitri dalam Nuansa Persaudaraan - Aru Elgete

Breaking

Selasa, 04 Juni 2019

Sambut Idulfitri dalam Nuansa Persaudaraan


Sumber foto: alinea.id

Ramadan segera berakhir. Berganti dengan hari nan fitri. Entah kesedihan atau justru kebahagiaan yang mesti ditampilkan. Semua orang berbondong menyambut Idulfitri dengan sukacita. Sementara tak banyak, yang mengaku sedih lantaran belum mampu memanfaatkan momentum Ramadan dengan sebaik mungkin.

Bagi seorang mukmin, kewajiban berpuasa yang dialamatkan kepadanya, menjadi sebuah fase untuk meningkatkan porsi keintiman kepada Allah. Ia tentu lebih memperbanyak ibadah, baik ritualistik maupun aktivitas yang bersifat individualistik. Semua dilakukan karena tak lain, karena ganjaran yang Allah berikan sangatlah istimewa.

Namun, berbeda halnya dengan orang-orang yang sudah sampai pada tingkatan muhsin. Ia tak serta-merta menjadi buta terhadap lingkungan, secara sosial. Sebab, meski keseharian dihadapkan pada ibadah ritual yang individualistik, ia tetap saja melaksanakan ibadah secara sosial dan moral. 

Hal itu dilakukan, karena baginya, iman yang baik akan senantiasa teraplikasi menjadi perbuatan derma bagi sesama. Ia tak lagi menggunakan kacamata kuda, sehingga selalu saja berakibat pada penilaian diri pribadi yang dianggap paling baik dan sempurna.

Orang-orang yang demikian itulah, disebut muhsinin. Golongan manusia yang kerap melihat, dan bahkan melibatkan Allah pada setiap tindak-tanduknya. Sehingga, mereka terhindar dari sifat benci dan dengki.

Karena sesungguhnya, ibadah Ramadan tak hanya diartikan sebagai pembelengguan hawa nafsu berupa syahwat saja. Melainkan juga harus memenjarakan nafsu batiniah. Yakni membuang diri dari mengumpat dan mengumbar kebencian. Lebih jauh, membuang berbagai penyakit hati yang memberi dampak pada rusaknya amal ibadah.

Sungguh, Ramadan bukanlah diperuntukkan kepada diri pribadi sekalipun keintiman dan ibadah yang dilakukan berhubungan langsung dengan Allah secara privat dan tertutup. Ramadan bukan juga milik kelompok tertentu. Namun, Ramadan merupakan bulan yang diberikan Allah kepada seluruh manusia, secara umum.

Universalitas Ramadan dibuktikan dengan keberkahan yang berlimpah di dalamnya. Sampai-sampai, orang yang membalut diri dengan pencitraan (atau kemunafikan) pun, Allah berikan berkah sebagai hadiah Ramadan yang tak pilih kasih.

Karenanya, Ramadan merupakan bulan untuk semua. Seusai Ramadan, kita tak bisa mengklaim diri sendiri sebagai insan yang sudah paling baik dalam beribadah selama sebulan penuh. Sebab, tentu saja terdapat besar kemungkinan bahwa ada orang lain yang ibadahnya jauh lebih baik dari kita.

Kemudian, ibadah ritual dan individual itu haruslah diterapkan menjadi ibadah sosial-moral di kehidupan masyarakat. Sebab, tidak dibenarkan juga apabila perbuatan seseorang yang berpuasa, tetapi menyimpan dengki dan benci kepada sesama. Na'udzubillahi min dzalik.

Sehingga pada akhirnya, kita dipersatukan karena Ramadan. Kita kembali menjadi manusia seutuhnya ketika sadar, bahwa Ramadan merupakan momentum kebersamaan dan persatuan dalam bingkai kekeluargaan.

Kawanku, saudaraku, bangsaku, negeriku, tenteramlah dalam menjadi pribadi. Jangan menyimpan banyak penyakit hati. Segera dibuang dan diganti dengan kebaikan, kegembiraan, kemesraan, dan keharmonisan untuk menyongsong hari nan fitri. 

Idulftri adalah fase dimana kita dikembalikan pada fitrah sebagaimana manusia pada mulanya. Tak hanya itu, momentum Idulfitri juga membawa kita pada persatuan dan kesatuan dalam nuansa persaudaraan (islamiyah, wathoniyah, insaniyah) yang tak bisa digantikan dengan apa pun. 

Wallahu'alam...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar