Menyambut Ramadan (4) - Aru Elgete

Breaking

Jumat, 03 Mei 2019

Menyambut Ramadan (4)


Anonymous
Siapa yang tak bahagia kedatangan Ramadan?
semua orang menyambutnya dengan sukacita
mengunjungi makam-makam leluhur sebelumnya
sebagai bagian dari pelestarian tradisi Islam Nusantara

Orang-orang mulai mengatur jadwal
menghubungi kerabat dan handai taulan yang dikenal
mendiskusikan pertemuan untuk sekadar reuni
seperti bukber dan sahur bersama di sana-sini
padat sekali

Selain itu ada pula yang mulai mengatur jadwal ceramah
panitia Ramadan di masjid dan musala mulai mencari tokoh agama terkemuka
mengisi mimbar-mimbar keagamaan sebelum tarawih atau usai salat isya
semua sibuk menyambut Ramadan
sukacita

Kini
ada media sosial yang menghantui
laksana pisau bermata dua
menjadi baik jika dimanfaatkan sesuai porsi
menjadi buruk saat dimanfaatkan demi kepentingan duniawi

Orang-orang di kota misalnya
tak jarang mengatasnamakan dakwah
memperjelas dan mempercantik citra diri soal ibadah
yang semula bersifat privasi
kini dipublikasi dengan sedemikian rupa
dibumbui kata-kata manis yang seolah mengajak pada kebaikan

Padahal, barangkali, bisa saja demi sebuah pengabaran diri
atau orang kota menyebutnya: pen-citra-an

Ya, Ramadan memang seperti itu
selain sebagai ladang untuk memperbanyak amal kebaikan
juga menjadi ajang berpura dan menyombongkan diri
lebih-lebih di era digital ini

Ibadah di bulan suci tak lagi suci
jika dibumbui bermacam kata-kata bersampul suci
diunggah ke media sosial
dengan maksud mendapat apresiasi
lucu sekali
Ibadah di bulan suci tak lagi suci

Bijak bestari bertutur
ibadah di bulan suci tak sekadar menahan nafsu lapar dan dahaga
tetapi juga seluruh laku dan gerak mesti dijaga

Sebab, Ramadan adalah penyatu jiwa kepada Pemiliknya
lucu, jika Ramadan sudah tiba, hati justru jauh dari-Nya
sombong
angkuh
berpura-pura dalam ibadah
itulah penyebab jauhnya hamba dari Tuhannya

Maka,
seluruhnya mesti dibatasi
bukan hanya soal lapar dan dahaga di siang hari
tetapi juga eksistensi
di media sosial



Bekasi, 2019